Categories BudayaHinduSatyagraha

SHRI ARYA WEDAKARNA MINTA PASAR ADAT DI BALI MEMPRIORITASKAN KRAMA ADAT

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS IIIS Bersama Pejabat Pemkab Jembrana dan Bendesa Adat Lelateng di Pasar Adat Lelateng

SENATOR RI DORONG REVITALISASI PASAR JEMBRANA SENILAI RP 6,8 M

Senator DPD RI asal Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III melaksanakan kegiatan kunjungan kerja di Kabupaten Jembrana. Setelah bertemu dengan lebih dari 200 Kepala Sekolah SD dan SMP di  Gedung  Kesenian BungKarno, dan juga mengunjungi Situs Purbakala “Dragon Hill” di Desa Pendem Kab. Jembrana, Senator Arya Wedakarna mengunjungi Desa Pekraman Lelateng di Kecamtan Negara. Disambut oleh  Made Gede Budhiarta ( Dinas Perdagangan Kab. Jembrana ), Kadek Suardana ( Lurah Lelateng ), I Putu Dharmayasa Wisesa  ( Bendesa Adat Lelateng ), I Nyoman Suardana ( Camat Negara ) dan jajaran. Senator Wedakarna langsug mengunjungi beberapa sudut Pasar Desa Adat Lelateng. Dalam pemaparannya dihadapan tokoh Desa, Arya Wedakarna menyatakan dukungannya akan pengelolaan pasar – pasar di Bali untuk dikembalikan kepada Desa Adat, mengingat jika pasar dikelola oleh Desa Adat, maka secara tidak langsung akan memberikan kesempatan kepada Desa Adat untuk menciptakan peluang bagi krama desanya. “Tugas pemerintah itu tidak hanya sekedar memberikan ikan semata, tapi juga harus menyediakan kail dan kail inilah yang harus disiapkan agar prinsip ajaran Bung Karno yakni Berdikari Di Bidang Ekonomi ( Berdikari ) atau Swadeshi Satyagraha ini berjalan. Dengan diberikan kepada Desa Adat, maka krama Hindu akan berkempatan untuk menjadi pelaku ekonomi kreatif. Karena bagaimanapun krama Bali harus diproteksi by system, kita tidak bisa melepas krama Bali begitu saja dalam ranah persaingan global. Kita tahu orang Hindu Bali punya beban adat untuk tetap menjadi Bali yang metaksu, mereka harus beryadnya 365 hari. Dan jika manusia Bali dibiarkan bersaing tanpa pendampingan, maka jelas akan kalah. Ini sudah terlihat dibanyak desa di Bali. Apalagi ditambah dengan ketidakpedulian pimpinan wilayah disana, bisa mengakibatkan krama Bali tersisih. Syukurlah Desa Adat Lelateng ini menjadi contoh baik.” ungkap Gusti Wedakarna. Iapun berharap kedepan Desa Adat di Bali, mampu mengelola pasar adat dengan baik. “Pasar Desa agar dikelola oleh tim professional. Ambil anak – anak dari desa yang Sarjana Ekonomi. Beri kesempatan mereka memperbaiki sistem, mengatur landscape pasar, mengatur lapak, memperindah tatanan pasar, mengelola sampah sampai urusan parkir. Tetua hanya perlu mengawasi saja. JIka pasar desa adat tetap dikelola oleh prajuru, maka akan keteteran. Ada pontensi ratusan juga hingga milyaran rupiah uang beredar di Pasar setiap hari. Ini potensi yang sangat besar tapi sayang banyak desa adat belum paham akan manajemen palemahan desa. Dan mulailah dari sekarang. “ungkap Gusti Wedakarna. Kedepan ia meminta kepada krama adat di Jembrana, agar mulat sarira, agar Jembrana tidak kalah dengan persaingan ekonomi antar krama adat dan tamiu ( pendatang ). “Sejak diluncurkan ekonomi Satyagraha, kini efeknya mulai agak terasa. Ekonomi krama adat Jembrana sudah menggeliat. Banyak pasar, restoran sukla dibuka, umat Hindu sudah mau berusaha dan bekerja. Kini catering catering Hindu sudah bermunculan dan pasar adat kembali menggeliat. Tapi jangan sampai kehilangan momentum, dan jangan sampai Jembrana kehilangan ruh taksu ekonomi. Dan saya memilih jalan untuk memberdayakan desa adat. Kita tidak bisa sepenuhnya tergantung pada pemerintah, tapi jika dengan adat, maka astungkaran ketahanan ekonomim Hindu bertahan. Ini harapan saya. “ungkap Gusti Wedakarna yang merupakan putra asli Penyaringan Jembrana ini. Senator Arya Wedakarna pun mendukung turunnya anggara pemerintah untuk revitalisasi pasar yakni Senilai Rp 6.8 Milyar yakni untuk Pasar Melaya, Pasar Brangbang, Pasa Lelateng dan  Pasar Tegal Cangkring ditahun anggaran 2018 ini.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *