Categories BudayaHinduSatyagraha

SEDERHANAKAN RITUAL, WEDAKARNA MINTA PENGEMPON PURA DI BALI PERBANYAK ASET PELABA PURA

SATYAGRAHA – Senator Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III bersama Pengurus Pura Ratu Niang Lingsir Tamba Tirta di Pengambengan Jembrana

SENATOR RI BANTU PENGURUS TANAH PURA DI PENGAMBENGAN JEMBRANA

Tokoh Hindu Indonesia yakni Senator DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III menyampaikan harapannya agar para pengempon pura apapun di Bali untuk segara merubah pemikiran bahwa dana punia, sumbangan social dan juga hasil sesari harus dihabiskan untuk keperluan upacara dan upakara. Hal ini dinilai belum strategis untuk ketahanan Hindu kedepan mengingat kondisi ekonomi di Bali masih sangat sulit dan diperlukan adanya terobosan dalam menyampaikan dana abadi untuk pura maupun desa adat. Cita cita menjadikan umat Hindu sebagai komunitas ( society ) yang kaya, terus disampaikan oleh Senator Wedakarna, khususnya bagaimana potensi dana punia yang mencapai triliyunan rupiah ini bisa dialihkan sebagian aset pura ( pelaba ) berupa tanah, sehingga kedepan pura juga menjadi sumber kesejahteraan bagi umat Hindu generasi kedepan. “Kita harus belajar dari kecerdasan leluhur Bali dalam membuat sistem pelaba baik pelaba desa, pelaba pura maupun pelaba puri. Kita bisa bayangkan jika leluhur kita tidak punya visi ini, mungkin sebagian besar tanah di Bali ini sudah habis dihajar modernisasi atas nama demokrasi dan hak asasi. Dengan sistem ini, tanah Bali menjadi terselamatkan saat ini. Tapi yang terjadi saat ini malah sebaliknya, para penglingsir, pengempon desa dan pura melakukan  sesuatu yang tidak patut yakni menjual aset ynag dimiliki leluhur dengan alasan pragmatis baik untuk kepentingan kelompok dan pariwisata. Marilah kita jadi insan manusia yang seharusnya bisa berbuat mulia seperti leluhur dan saya minta agar dimulai dari desa, dari pura – pura kita. Management Asset It’s a Must, ini keharusan kalau mau Bali Berdaulat. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Iapun memberikan pandangan bahwa pengembangan aset pura bisa dikembangkan melalui manajemen dana punia, sesari dan juga bantuan social. “Saat saya berbicara kesederhanaan, itu bukan berarti menghilangkan bebantenan. Semua ritual di Bali yang baik tentu harus dilestarikan, namun kuantitasnya diefisienkan. Sisa dana punia yang terkumpul setidaknya dibelanjakan sebagai aset pura, belilah tanah disekeliling pura mengingat umat Hindu bertambah terus. Simpan dana pura di LPD dan Bank agar pura punya dana abadi. Ini sangat baik mendidik para pengurus pura untuk tidak bertindak pragmatis dan hedonis. Ini perlu saya sampaikan bahwa saat ini peraturan yang ada semakin mempersulit pemerintah untuk membantu pura dan tempat ibadah Hindu di Indonesia. Dan ini saya harapkan agar pengempon mulai berfikir cerdas, dan umat Hindu harus berani bersuara terhadap hal ini. “ungkap Shri Arya Wedakarna yang juga Anggota Komite III DPD RI bidang Agama. Terkait dengan keberadaan Pura Ratu Niang Lingsir di Pengambengan Jembrana, pihaknya mendukung adanya upaya komponen umat membangun pura sembasari berpesan bahwa legal stading itu perlu. “Saya minta pengempon dan umat bersekutu dalam sebuah wadah seperti Yayasan Pesraman Tirta Tamba ini. Saya mendukung dan merestui. Jika ada punia masuk, focus untuk memperkaya pura, bahkan untuk membuat pura semakin megah. Buat apa mendirikan pura megah tapi umatnya miskin, itu pesan saya, jadi manusia harus pintar menabung termasuk tidak boros. Lihat saja kedepan jika nasihat saya diikuti, maka pura akan semakin kokoh karena ada finansial platform yang kuat. Tidak ada ruginya menabung baik menabung uang dan menabung tanah. “pungkas Shri Arya Wedakarna. Diakhir acara Senator Wedakarna turut berpunia untuk pembebasan lahan pura Ratu Niang di Pengambengan Jembrana. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *