Categories HinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA INGATKAN MINTA KRAMA ADAT TAHAN DIRI RENOVASI PURA

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pengempon dan Penglingsir Pura Luhur Ulun Siwi Batu Lumbung di Istana Mancawarna Tampaksiring

SERAHKAN PRASASTI PURA LUHUR ULUN SIWI BATU LUMBUNG PENEBEL

Gerakan Satyagraha terkait sikap sederhana dalam kehidupan beragama Hindu di Bali terus disampaikan oleh tokoh Hindu Indonesia, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III disetiap kesempatan. Salah satunya adalah sikap menahan diri dari warga adat di Bali agar tidak mudah membongkar pura – pura kuno di Bali atas alasan renovasi. Selain adanya UU Cagar Budaya No.11/2010 yang mengikat, juga adanya kepercayaan di Bali bahwa pembongkaran pura – pura kuno di Bali akan berdampak pada kadar kesucian dari pura tersebut. Demikian diungkap oleh Gusti Wedakarna saat menerima pengempon Pura Luhur Ulun Siwi Batu Lumbung Desa Pekraman Soka Sanganan Penebel Tabanan di Istana Mancawarna Tampaksiring. “Tiang paling salut dengan pura – pura dikawasan Penebel Tabanan. Banyak pura yang asli alias vintage¸ berbahan paras merah ala Majapahit dan juga masih banyak yang asli. Tidak seperti pura di Utara atau Timur Pulau Bali, sudah banyak pura yang dirubah sesuai dengan selera krama adat masa kini. Bagi tiang, tidak boleh  mudah merubah sesuatu yang sudah ditanamkan oleh leluhur, apalagi jika dihubungkan dengan cagar budaya. Ini berkaitan dengan taksuning taksu. Tiang merasakan sendiri, kerap jika datang kepura yang sudah sering direnovasi maka vibrasinya akan berkurang, pura akan terasa kosong dan biasanya hal itu akan diikuti oleh banyak masalah internal. Tiang minta, pengempon pura di Penebel Tabanan agar memiliki wawasan Cagar Budaya dan tiang minta jadilah teladan agar memacu jengah semeton di Bali agar menghentikan merenovasi pura jika tidak perlu sekali.”ungkap Gusti Wedakarna yang putra pendiri PHDI, Shri Wedastera Suyasa ini. Iapun meminta, agar masyarakat adat, jangan sampai dibutakan dengan tawaran materi dan besarnya nilai sumbangan, hibah atau peturunan yang dialokasikan, tapi lebih pada pandangan pura harus menjadi institusi yang melambangkan kesejahteraan. “Tiang kira jika ada rencana renovasi pura, seharusnya  tidak menyentuh bagian utamaning mandala yang asli. Kalaupun terpaksa karena sudah lapuk, tapi bahan – bahan yang dipakai harus sama persis dan sesuai dengan arsitektur asli. Setidaknya melibatkan ahli cagar budaya dari Badan Arkeologi misalkan. Jika ada dana lebih, sebaiknya dana dipakai untuk membeli pelaba pura, dan jadikanlah pura pura Hindu di Bali sebagai institusi yang kaya. Pura itu lambang kesejahteraan dan itu wajib. Lihat pura – pura di India, Amerika, Inggris dan di Asia lainnya, ada pura memiliki rumah sakit, memiliki koperasi, memiliki bank tanah ( land bank ) dan potensi ekonomi itulah yang menggerakkan operasional pura. Jika ingin agama Hindu bertahan, maka jalannya hanya dengan Artha, yakni kemapanan ekonomi. Sudahi merenovasi pura atas dasar emosi, suriak siu dan juga gengsi. Apa yang dicontohkan di Pura Ulun Siwi sudah baik”ungkap Gusti Wedakarna. Diakhir pertemuan, Gusti Wedakarna menyerahkan Prasasti Lempengan Tembaga Baja yang bisa bertahan 1000 tahun untuk selanjutnya dipasupati dan dijadikan pusaka Pura. “Pura tanpa purana bagaimana negara tanpa UU. Pura akan sempurna jika sudah memiliki prasasti dan sejarah tertulis. Selamat untuk rakyat di Senaganan. “ungkap pria bergelar Abhiseka Raja Majapahit Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. ini.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *