Categories Hindu

DUKUNG PENATAAN, SHRI ARYA WEDAKARNA TOLAK PEMBONGKARAN PELINGGIH RATU NIANG

Satyagraha – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS IIIS Bersama Tokoh Masyarakat dan Pejabat Pemkot dan Desa

SENATOR RI MEDIASI KEBERADAAN PESRAMAN DI JAYA GIRI

Sesuai UU MD3, bahwa setiap anggota DPD RI wajib untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat apapun itu. Penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan mekanisme sidak, rapat dengar pendapat, raker atau mediasi, dan hal ini yang ingin diteladani oleh Senator DPD RI asal Bali, Dr Shri I Gusti Ngurh Arya Wedakarna MWS III saat turun ke kawasan Jaya Giri Denpasar terkait dengan aspirasi komponen umat Hindu tentang keberadaan sebuah pelinggih Ratu Niang Lingsir Sakti yang dibangun dikawasan perumahan Jaya Giri oleh sekelompok masyarakat. Pada awalnya, proses pelaporan ini disampaikan oleh Jero Mangku Gumana, Jero Mangku Hartini, ( Jero Mangku ) kehadapan Shri Arya Wedakarna di Istana Mancawarna Tampaksiring. Dan sebagai tindaklanjut, maka diadakan klarifikasi dan peninjauan dilapangan. “Saya punya kebiasaan untuk mencrosscheck terlebih dahulu setiap informasi yang masuk ke DPD Bali. Mendengar dari banyak pihak itu jauh lebih baik, sehingga dalam mengambil sikap DPD Bali tidak berpihak pada orang per orang, tapi lebih pada aturan perundang – undangan. Dan dalam kasus pelinggih di Jaya Giri ini saya harus berhati hati karena menyangkut masalah kepercayaan umat Hindu, ini sensitif karena masalah rasa. “ungkap Gusti Wedakarna. Dalam kunjungan ke lokasi di Jaya Giri V, Senator Wedakarna disambut oleh I Made Sada (Perbekel Desa Dangin Puri Kelod), Klian Br. Jayagiri, Kepala Dusun Jayagiri, Kepala Dusun Taman Yangbatu, Kepala Dusun Batu Kangin dan juga pihak keluarga Jero Mangku. “Saya dapat laporan bahwa masyarakat sekitar complin dengan keberadaan pelinggih yang dibuat difasilitas umum dan dekat dengan jembatan sungai karena dianggap mengganggu jalan dan juga dihari tertentu sampai menutup jalan. Saya sudah bisa memahami aspirasi warga, termasuk juga aspirasi dari pengempon pelinggih. Saya akan berikan solusi untuk semua secara adil.”ungkap Shri Arya Wedakarna. Setelah mendengar dua pihak, akhirnya Senator Arya Wedakarna menyampaikan sejumlah solusi kepada pejabat Kota Denpasar, pejabat Desa dan tokoh yang hadir. “Keputusan saya bahwa tidak boleh ada pembongkaran pelinggih ratu niang. Kita harus hargai, bahwa sesuatu yang sudah disucikan, dikeramatkan dan juga dipercaya hidup harus dihargai. Kita sebagai orang Bali harus tunduk pada aturan ini, dan sekarang berpulang pada diri masing – masing. Saya mendukung pelinggih ini karena Ratu Niang Lingsir adalah simbol kemulian leluhur Bali. Tapi disatu sisi, saya juga menolak ada aktifitas yang menganggu kepentingan umum. Saya minta pemerintah desa untuk segera merapikan kawasan ini. Hal hal yang membuat kumuh silahkan dipindahkan, dan segera tata dengan baik. Disatu sisi Jero Mangku harus bisa menahan diri, agar tidak terkesan mengganggu jalan milik umum. Urusan umat dan ada bakta yang datang untuk berobat, melukat dan bersembahyang silahkan dilayani. Tidak boleh menolak ada orang berdoa di Bali, tapi semua harus menahan diri. Saya minta Jero Mangku juga memindahkan hal – hal yang dianggap tidak penting. Saya tidak setuju stana Ratu Niang  juga terkesan kumuh. Tidak baik untuk beliau.”ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan pembongkaran teras untuk pemedek, Arya Wedakarna tidak menyetujuinya, dan agar pihak desa menata dengan humanis sehingga kawasan Jaya Giri menjadi indah dan rapi. “Saya minta semua menahan diri, baik dari pikiran, perbuatan dan perkataan. Jangan ada penghinaan, terhadap agama, jangan ada kekerasan dan jangan ada fitnah. Pemangku juga harus dijaga sesana dan swadharmanya. Dan begitu juga pemangku harus selalu mawas diri dengan komunitas. Saya anggap ini selesai dan segera selesaikan semua dalam waktu dekat. Saya akan periksa nanti usai ditata. Kita selesain masalah ini sampai disini dan semua sudah dalam pengawasan saya. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Diakhir acara, seluruh peserta bubar dengan pakedek pakenyem, saling memahami dan saling merangkul ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *