Categories Nasional

ARYA WEDAKARNA SETIA DAMPINGI SUKMAWATI SUKARNO TERKAIT PUISI “IBU INDONESIA”

DIPLOMASI – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III ( Direktur The Marhaenisme Institute ), Halida Hatta ( Putri Proklamator Bung Hatta)  Bersama Sukmawati Sukarno saat bertemu Prof. Din Syamsuddin di Jakarta  

THE MARHAENISME INSTITUTE TEMUI PROF. DIN SYAMSUDIN

Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, menunjukkan kesetiaannya pada pimpinannya yakni Ibu Sukmawati Sukarno Putri. Ini dibuktikan, sosok pemuda yang dikenal paling idealis terhadap ajaran Bung Karno di Bali ini, sangat setia mendampingi Ibu Sukmawati Sukarno terkait dengan dinamika dan kontroversi Puisi Ibu Indonesia yang dibacakan saat Indonesia Fashion Week 2018. Arya Wedakarna yang juga President The Sukarno Center, saat  ini di Jakarta selalu mendampingi Ibu Sukmawati disaat menghadapi tantangan kebangsaan termasuk adanya sekelompok masyarakat yang merasa berkeberatan terhadap Puisi Ibu Indonesia yang dianggap menyinggung agama tertentu. Terkait ini, secara pribadi dan kelembagaan, baik lembaga DPP PNI Marhaenisme dan juga The Sukarno Center menyatakan sikap tegasnya memberikan dukungan moral terhadap pemimpinnya yakni Ibu Sukmawati Sukarno Putri. Hal ini disampaikan oleh Dr. Arya Wedakarna usai bertemu dengan Prof. Din Syamsuddin ( Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban ) dikawasan Brawijaya, Jakarta Selatan. Selain Arya Wedakarna, hadir juga Halida Hatta ( Putri Proklamator RI Bung Karno ). “Tiang ini putra ideologis Bung Karno dan Ibu Sukmawati Sukarno. Tiang sudah ikut Ibu Sukmawati sejak tahun 2002 dan berpartai PNI Marhaenisme hingga saat ini. Persahabatan keluarga Shri Wedastera Suyasa dan keluarga Bung Karno  sangat dekat sejak tahun 1955 dan kuat terpatri. Dimasa Orde Baru kami berjuang bertahan menghadapi tekanan Orde Baru. Kini, beberapa Museum Bung Karno di Bali yang didirikan oleh keluarga Puri Tegeh Kori, juga melibatkan Ibu Sukmawati Sukarno sebagai Pembina dan Penggagas. Jadi kewajiban tiang untuk empati.  Jadi suka duka apapun yang dialami oleh Ibu Sukmawati Sukarno, adalah suka duka bagi tiang dan keluarga besar Marhaenis juga. Dan saat ini, kita terus damping perjuangan Ibu Sukmawati Sukarno. Baik memberikan masukan secara politik dan juga menemani beliau bertemu sejumlah pihak, termasuk pertemuan dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka dan juga pertemuan dengan petinggi Majelis Ulama Indonesia ( MUI ). Kita ingin masalah beliau cepat selesai dan damai. “ungkap Arya Wedakarna. Iapun memberikan respon terhadap isi Puisi Ibu Indonesia yang memantik pro kontra itu “Puisi Ibu Indonesia itu diciptakan Ibu Sukmawati pada tahun 2002, dan baru diterbitkan menjadi buku pada tahun 2006. Jika ditelaah memang isi Puisi Ibu Indonesia ini merupakan ekspresi ungkapan beliau terhadap jati diri wanita Indonesia, mungkin mewakili minoritas. Terlepas dari benar tidaknya, kami menilai ada hikmah dengan kontroversi ini, yakni semakin banyak wanita Indonesia khususnya anak muda yang penasaran dengan kebaya, sari konde dan kidung. Bahkan sempat menjadi trending topik. Saya kira ini kehebatan seorang Ibu Sukmawati Sukarno yang mampu  menjadi perhatian 250 Juta Orang Indonesia. Walau banyak tidak suka, tapi saya yakin ada masyarakat Indonesia yang semakin hormat dan respek terhadap Ibu Sukmawati Sukarno. Ini tentu kerja leluhur ya. Beliau sudah jadi ikon Ibu – Ibu Indonesia yang cinta kebaya, kidung dan konde. Ini juga memastikan bahwa Indonesia adalah negara Bhineka dan bukan negara agama tertentu. “ungkap Shri Gusti Wedakarna. Kedepan pihaknya malah semakin gencar untuk mensosialisasikan pentingnya Kebaya, Konde dan Kidung dikalangan perempuan Indonesia. “21 April nanti ada hari Kartini. Kita tahu kan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah sosok wanita Indonesia dengan Konde dan Kebaya. Ibu Kartini dalam sejarah juga dikenal sebagai seniwati yang mengandrungi Kidung dan lagu Jawa. The Sukarno Center melalui jaringannya diseluruh Indonesia akan mendorong agar budaya dan tradisi Indonesia tidak punah. Ini bentuk dukungan kaum Marhaenis terhadap perjuangan budaya Ibu Sukmawati Sukarno yang berkepribadian dibidang budaya. Ini Trisakti Bung Karno “ungkap Gusti Arya Wedakarna yang juga Ketua DPP PNI Marhaenisme ini. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *