Categories BudayaHinduNasional

SUKMAWATI SUKARNO BANGGA KEBAYA, KONDE, SANGGUL DAN KIDUNG DILESTARIKAN WANITA BALI

SINERGI – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III bersama Halida Hatta ( Putri Proklamator Bung Hatta ) Mendampingi Sukmawati Sukarno Putri bertemu Anwar Abbas ( Sekjen Majelis Ulama Indonesia / MUI ) di Kantor MUI Pusat di Jakarta

HIKMAH DI BALIK KONTROVERSI PUISI “IBU SUKMAWATI SUKARNO”

Ada hal yang menarik yang diungkapkan oleh putri bungsu Bung Karno yakni Sukmawati Sukarno Putri usai saat pertemuan dengan jajaran The Marhaenisme Institute, The Sukarno Center dan DPP PNI Marhaenisme usai melakukan Press Conference terkait kontroversi Puisi Ibu Indonesia yang dianggap melecehkan agama tertentu, yakni bahwa puisi itu dibuat atas keprihatinan seorang Sukmawati terhadap jati diri bangsa Indonesia yang kini sudah semakin memudar, salah satunya bagaimana budaya kebaya, konde dan kidung banyak tidak ketahui lagi oleh generasi muda bangsa. Melalui puisi yang ia ciptakan  tahun 2002 diawal reformasi bangsa ini, Sukmawati ingin mengungkapkan keprihatinannya melalui karya sastra yang agung dan ia pun mencontohkan bahwa Bali adalah salah satu tempat di Indonesia yang masih ia banggakan atas pelestarian budayanya. “Saya adalah anak Sukarno yang  berdarah Bali, saya prihatin ketika dimedsos ada foto Ibu Sukmawati dan Ibu Megawati yang sedang ada di Pura dianggap sesat oleh sekelompok orang. Saya ini seorang Muslimah, tapi saya harus mengakui bahwa nenek saya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben adalah wanita Hindu Bali asal Buleleng. Jadi jika Ibu datang ke Bali, berkunjung ke pura menemui masyarakat dan keluarga itu adalah suatu kewajaran. Begitu juga saat Ibu datang ke Gereja dan ke Wihara diseluruh tanah air, itu adalah hal yang wajar. Sama seperti dulu Bung Karno, kerap datang ke Pura Gunung Kawi dan Pura Besakih disela kunjungan kerja di Bali, bahkan Bung Karno nekat membuat Istana Presiden di  Tampaksiring agar berdampingan dengan Pura Tirta Empul. Jadi saya minta rakyat Indonesia untuk lebih mendalami arti kebhinekaan yang sesungguhnya. Jangan sedikit – sedikit semua dibawa ke isu SARA. “ungkap Sukmawati. Iapun menyatakan bahwa ia banyak berharap pada Bali khususnya kaum perempuan untuk dapat melestarikan kebaya, konde, sanggul dan kidung sebagai harapannya di Puisi Ibu Indonesia. “Lihatlah sosok Raden Ajeng Kartini, pahlawan nasional kita yang justru berkonde, berkebaya dan suka kidung. Dan saya akui bahwa Bali adalah contoh hebat dari bagaimana budaya asli Nusantara dijaga dengan baik. Di Bali rambut para ibu masih dijaga dengan konde atau sanggul pusung tagel yang luar biasa. Perempuan muda masih  menggunakan sanggul gegonjeran. Kebaya menjadi pakaian sehari hari wanita Bali. Indahnya suara Kidung terus dinyanyikan denga merdu dipura, dibanjar dan disetiap hajatan. Walau Bali mayoritas Hindu, tapi saya salut Bali tidak mengimpor budaya India. Ini namanya jati diri Indonesia. Saya titip Ibu Indonesia pada wanita Bali. “ungkap Sukmawati yang juga Ketua Umum DPP PNI Marhaenisme ini. Apresiasi atas pandangan kebangsaan Sukmawati Sukarno Putri diungkapkan oleh Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (President The Sukarno Center ) yang setia menemani Sukmawati Sukarno saat menyelesaikan masalah Puisi Ibu Indonesia di Jakarta. “Kami siap melaksanakan perintah Kanjeng Ibu Sukmawai Sukarno. Kita akan mulai pada 21 April 2018, nanti kita akan rayakan hari Kartini dengan Konde, Kebaya dan Kidung. Jaringan PNI Marhaenisme di Indonesia, juga kelompok paguyuban budaya binaan kita akan kita minta untuk mensukseskan kegiatan ini. Semua demi Ibu Indonesia dan menghormati RA Kartini. Ada hikmah dari mencuatnya Puisi Ibu Indonesia ini, yakni kini semakin banyak anak muda Indonesia penasaran dengan Kebaya, Konde, Kidung. Ini salah satu cara alam membangunkan, ngenteg dan mengingatkan gumi Indonesia yang sudah mulai melupakan akar budayanya. Saya masih ingat ketika Ibu Sukmawati Sukarno di Abhiseka Ratu dengan gelar Ratu Tri Bhuwana Uttungga Dewi pada 10 November 2011 di Griya Pejeng Sanur oleh Ida Pedanda Gede Wayahan Bun. Beliau menyematkan kata “UT” pada gelar Tungga Dewi pada Ibu Sukmawati, dengan harapan dan doa agar beliau menjadi Tri Bhuwanna Tungga Dewi masa kini dan kini telah terjadi. Ternyata beliau, melalui kebudayaan sudah menyadarkan kita semua dengan Puisi Ibu Indonesia. Suka tidak suka, saya yakin, banyak Indonesia akan terinspirasi pada Sukmawati Sukarno. “ungkap Dr. Arya Wedakarna yang juga President The Sukarno Center ini. (humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *