Categories Nasional

SIKAPI WNA YANG LECEHKAN PADMASANA DIPURA GELAP DAN KASUS PENGEROYOKAN GUIDE CHINA

Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Mengunjungi WNA Asal China diruang sel Detensi Kantor Imigrasi

SENATOR KUNJUNGI SEL DETENSI DI IMIGRASI KELAS I NGURAH RAI

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, menindaklanjuti aspirasi masyarakat terkait dengan kinerja Imigrasi sesuai dengan pelaksanaan UU Nomer 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Kehadiran Senator RI Arya Wedakarna (AWK) di Kantor Imigrasi Kelas I Ngurah Rai di Kuta Selatan, membuktikan hal itu. Diterima oleh Togol Situmorang dan Tomphatar Hasianto ( Bagian Kabid Pengawasan dan Penindakan), Senator AWK menyampaikan sejumlah hal terkait dengan sinergi DPD dengan Imigrasi di Bali. “Yang pertama saya ingin menindaklanjuti hasil kunjungan kami di Ngurah Rai Airport terkait dengan counter supervisor imigrasi yang tempo hari sempat direkomendasikan. Pihak Angkasa Pura sudah siap untuk menyediakan fasilitas, dan kini pihak AP hanya menunggu koordinasi dari Kementrian Hukum dan HAM RI. Selain itu saya apresiasi usaha Imigrasi yang telah berbenah pasca kasus pemerasan oleh dua oknum Imigrasi beberapa tahun lalu khususnya pada turis China. Saya lihat nasihat DPD dengan adanya CCTV tambahan dan tulisan Free Of Charge dari berbagai bahasa internasional sudah dipasang. “ungkap AWK yang merupakan anggota DPD RI Komite III Bidang Pariwisata dan Tenaga Kerja ini. Selain Senator AWK juga menyampaikan Surat Rekomendasi agar pihak Imigrasi memproses WNA bernama Bernat Porel Mundo yang diduga asal Spanyol  yang telah melakukan pelecehan simbol Hindu yakni di Padmasana Besakih. “Selain ada UU Pidana, tentu WNA ini bisa dijerat dengan UU Imigrasi khususnya Pasal 17 huruf d untuk cegah tangkal. Begitu juga ada dugaan penyalahgunaan VISA Turis untuk bekerja. Ini harus dirapikan segara, dan Satgas Imigrasi harus membuktikan dirinya berprestasi didepan negara. “ungkap Wedakarna. Disela sela kunjungan ke Kantor Imigrasi Kelas I, Senator AWK juga berkesempatan mengunjungi fasilitas sel detensi (Dentition) bagi WNA yang melanggar hukum Indonesia dalam hal keimigrasian, termasuk ada dua WNA asal China yang diduga melakukan pengeroyokan beberapa waktu lalu. “Terus terang, Bali sangat dilematis menerima turis dari China. Disatu sisi, turis China sangat potensial untuk mendorong target pencapaian wisatawan di Bali. Tapi semakin hari semakin banyak masalah yang melibatkan WNA China baik itu masalah guide, penyalahgunaan VISA turis sampai urusan persaingan fotografer China dengan fotografer lokal. Ini akan menjadi masalah besar kedepan. Secara UU, pihak imigrasi harus dituntut agar mengawasi dan memproses WNA yang menyalahgunakan VISA atau bermasalah dengan aturan di Indonesia. Tapi selain itu saya minta agar petugas Imigrasi di Bali ini juga clear, bersih dan jujur dalam bekerja. Ada Perpres Nomer : 87 tahun 2016  tentang Pungli yang harus ditegakkan. Jadi sama – sama diawasi oleh semua pihak. “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan penanganan Guide China Ilegal, pihak DPD berharap agar regulasi pengeluaran lisensi Guide agar disempurnakan, peran Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI ) sebagai wadah resmi para Guide juga harus dimaksimalkan, termasuk melibatkan HPI dalam upaya pengawasan dan penindakan Guide Ilegal. “Prinsipnya aturan UU kita sudah cukup baik. Ada UU Pidana  tentang pemerasan, UU Imigrasi, dan Peraturan Presiden tentang Saber Pungli. Sekarang kembali ke Perangkat SDM yang ada dilapangan. Kedepan selain penindakan, juga harus ada screening diobjek objek wisata untuk memeriksa lisensi Guide yang ada sesuai hukum di Indonesia. Silahkan saja wisatawan grup misalnya membawa guide dari negara asal, tapi begitu sampai di Objek Wisata di Bali, ya harus pakai guide lokal. Sekarang tinggal pengelola daerah wisata saja yang punya inisiatif. Kita akan segera buat formulanya. Saya akan kumpulkan semua pengelola tempat wisata di Bali, agar paham terkait dengan UU ini. Kita tidak ingin orang Bali terpinggirkan ditanahnya sendiri dan tidak ingin lagi kasus pelecehan Padmasana di Besakih  terulang karena urusan Guide yang tidak tahu tata krama.”ungkap Gusti Wedakarna.    (humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *