Categories BudayaSatyagraha

SAMBANGI IBU IBU PEKERJA PEMINDANGAN DAN BANGGA KRAMA HINDU KUASAI SEKTOR PERIKANAN

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS IIIS Di Desa Pengastulan Dalam Kegiatan MPR RI dan Sosialisasi Piagam Tantular

WEDAKARNA SAMBANGI DESA TUA PENGASTULAN DI SERIRIT

Senator DPD RI asal Provinsi Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III kembali menyambangi desa bersejarah di Buleleng, yakni di Desa Pengastulan, Seririt, Buleleng. Rasa bahagia akan pengalaman menapak bumi leluhur Pengastulan pun disampaikan oleh Arya Wedakarna ( AWK ) yang kebetulan juga berdarah Buleleng. Hal ini terekam saat acara Sosialisasi MPR RI di Desa Pengastulan. Disambut oleh Ketut Yasa, SE       ( Perbekel Desa Pengastulan ), Jro Mangku Made Sadra ( Bendesa Adat ), Gus Norma ( Pimpinan Forum Hindu Bersatu ) dan sejumlah tokoh Pengastulan, Senator AWK menyampaikan kebanggaannya akan kekayaan sejarah Desa Pengastulan. “Tadi saya sempat berdoa di Pura Gede Pengastulan. Ini salah satu pura besar di Bali yang tidak memiliki Padmasana. Artinya belum ada pengaruh saat zaman Dang Hyang Nirartha. Ini salah satu kekayaan sejarah Bali Utara. Sejarah leluhur Buleleng di Pengastulan juga harus terus dilestarikan, sehingga sejarah Hindu Dharma menjadi ajeg. Ini dinamakan Jas Merah Bung Karno.”ungkap Gusti Wedakarna. Dalam kesempatan itu,Shri Arya Wedakarna juga mengapresiasi atas peran Ibu Ibu dan para nelayan yang berasal dari Krama Adat yang masih eksis dibidang perikanan di Pengastulan. “Kita harus belajar dari sejarah Majapahit, bahwa barang siapa yang menguasai laut, maka ia adalah pemenang dari perang ekonomi disebuah negeri. Dan ini masih berlaku sampai sekarang. Jangan sampai isi kekayaan laut kita dikuasai oleh orang asing atau kaum tamiu, tapi harus dikuasai oleh semeton adat. Ini salah satu wujud dari ekonomi kerakyatan berbasis Pancasila. Dan pengastulan bisa jadi contoh baik. Saya akan dorong desa desa dipinggir laut Bali harus melibatkan krama adat. Itu gunanya leluhur membangun Pura Segara, Pura Baruna adalah untuk memproteksi nelayan kita. Kalau sampai nelayan kita tidak ada semeton adat, maka Pura Segara juga akan musnah. Makanya tiang tolak KB Nasional 2 Anak, dan kita dukung KB Bali 4 anak, mangde adat budaya Bali ajeg.”ungkap Arya Wedakarna. Ia juga mengungkapkan jika kedepan, pertahanan ekonomi berbasis kelautan harus menjadi salah satu prioritas pembangunan Bali, sebagaimana program pemerintah pusat. “Bali harus mendukung visi Presiden Joko Widodo dengan program Toll Lautnya. Saya sebagai anggota DPD berharap agar pemerintah pusat membantu revitalisasi pelabuhan kuno Celukan Bawang di Buleleng. Selain itu agar Tol Laut Jokowi nanti juga menghubungkan pelabuhan di Utara Bali. Sehingga Buleleng akan kembali berdaulat dibidang perikanan. Ini tugas saya bersinergi dengan Presiden, Menteri, Gubernur Bali yang baru, Bupati Buleleng untuk mensejahterakan rakyat. Kita harus benar benar bantu Buleleng, karena kabupaten ini belum sepenuhnya sejahtera. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Dalam sosialisasi MPR itu, Shri Arya Wedakarna juga mengingatkan bahwa kedepan bahaya radikalisme khususnya Kabupaten Buleleng yang sudah punya sejarah terkait dengan teror Islamic State ( ISIS ) beberapa waktu lalu. “Saat ini kita sedang mendorong UU Terorisme agar nantinya TNI bisa masuk kedalam pencegahan dan penanganan Terorisme. Kita sudah petakan, ada beberapa wilayah Desa di Bali yang sangat rentan dengan paham radikal dan ada bibit bibit HTI disana. Ini yang harus ditangkal segera. Caranya ? biarkan negara masuk kedalam pengawasan ormas melalui UU Ormas dan UU terorisme ini. Sedangkan ditingkatan lokal, agar umat Hindu, krama adat di Banjar, desa adat soang soang agar waspada. Jangan sampai Bali kecolongan dengan radikalisme. Kita pelajari pergerakan mereka. Syukurlah, sejak Piagam Tantular ditandatangani, kini semua desa adat bangkit. Ini petunjuk leluhur. Ini Satyagraha “ungkap Shri Arya Wedakarna. Usai acara, Shri Arya Wedakarna menyerahkan bantuan ke Pura Dadia dan sumbangan Patung Dewi Saraswati untuk TK PAUD bernuansa Hindu yakni TK Kumara Widiastawa yang diterima perbekel dan bendesa adat. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *