Categories Satyagraha

DEMI HARGA DIRI BALI, DUKUNG KEBIJAKAN LARANG TURIS MASUK KE UTAMANING MANDALA

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Acara MPR RI dan Sosialisasi Piagam Tantular di Desa Tiga Susut  Bangli

WEDAKARNA BAGIKAN KITAB SUCI WEDA DI DESA TIGA SUSUT BANGLI

Kontroversi masalah tindakan WNA asal Spanyol yakni Bernat Porel Mundo yang melakukan tindakan melanggar hukum terkait Pura Gelap Besakih Karangasem, akhirnya menjadi perhatian dari tokoh Hindu Indonesia yang juga Senator DPD RI, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. Pihak Senator pun sudah melakukan koordinasi ke Imigrasi untuk memproses oknum WNA  tersebut sesuai dengan UU Imigrasi. Namun, bagi Shri Arya Wedakarna, yang paling penting saat ini adalah bagaimana upaya kedepan agar kejadian serupa tidak terulang kembali, mengingat diakui bahwa pengawasan tempat suci di Bali dianggap masih longgar. Demikian diungkap Shri Arya Wedakarna disela sela acara RDP MPR RI di Desa Tiga, Susut, Bangli. Dihadapan tokoh desa adat, STT, dan Prajuru Adat, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) menyampaikan dukungannya agar pihak pengempon pura di Bali agar segera mengambil kebijakan menutup areal Utamaning Mandala Pura dari kegiatan wisatawan. Hal ini selain untuk menjaga kesucian pura, juga untuk menghindari eksploitasi pura. “Pura di Bali adalah otonom, bukan dibawah koordinasi pemerintah atau dinas terkait. Jadi yang paling berhak mengatur manajemen dan protokol di Pura adalah pengempon. Kini tergantung pengemponnya, apakah mereka materialistis alias pragmatis atau pengemponnya punya harga diri tinggi. Kita tidak melarang turis dan wisatawan berkunjung ke Pura, tapi yang dilarang adalah masuk ke Utamaning Mandala. Kita lihat, bagaimana hebatnya aturan di Pura Uluwatu atau di Pura Taman Ayun Mengwi. Disana prajurunya tegas, tidak boleh ada wisatawan naik ke utama mandala dan tetap saja turis ramai datang ke sana. Jadi saya minta, sebelum Galungan ini, agar seluruh pura – pura di Bali, agar membuat aturan agar turis dilarang ke utama mandala. Disatu sisi mental Guide, mental penjaga Pura juga diperbaiki, jangan hanya karena diberi uang, tapi akhirnya menggadaikan harga diri. Belajarlah dari kasus Pura Gelap Besakih yang mana bule sampai duduk diatas pelinggih Padmasana, sampai sampai pengempon harus mengadakan upacara Bendu Piduka dan Prayascita. Mari stop beban yang seperti ini. Lebih baik Utamaning Mandala diamankan khususnya hanya untuk pemedek Hindu. Kita harus tegas seperti India, Thailand, dan Nepal. Mereka berani menolak wisatawan mencemarkan tempat ibadah kita. Bali harus punya harga diri.  “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan potensi desa di Bangli, khususnya di Kayuambua dan Susut, Senator AWK mendukung agar pihak desa adat memperkuat basis Hindu. “Saya hadir selain membawa misi pelestarian 4 Pilar MPR RI, juga mengingatkan bahwa Bali punya Piagam Tantular yang menolak wisata bernuansa syariah di Bali. Ini sesuai dengan Perda Bali Nomer 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali. Saya ingin gerakan Satyagraha ini dimaksimalkan, dan kita harus rebut kembali kedaulatan warga adat Bali disemua bidang. Syukurlah sekarang banyak anak muda Bali yang kritis dan waspada. This is Satyagraha “ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The  Hindu Center Of Indonesia. Disesi akhir acara, Senator AWK menyerahkan Kitab Suci Weda Bhagawad Gita kepada Desa Adat, Perbekel, STT, Pemangku dan Seniman, disamping memberikan bantuan ke Sanggar Widara Gemulung dan patung Saraswati PAUD / TK Bernuansa Hindu Kumara Shanti di Desa Tiga Susut Bangli.      ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *