Categories Satyagraha

SHRI ARYA WEDAKARNA MINTA PERBEKEL LURAH DAN BENDESA DI BALI ALOKASIKAN DANA DESA UNTUK STT  

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pengurus STT Wirasatya Soringwedi di Mas, Ubud, Gianyar

SENATOR RI DISAMBUT RATUSAN ANGGOTA STT BR BATANANCAK UBUD

Generasi muda di Bali khususnya dari kalangan Sekaa Teruna Teruni ( STT ) harus memiliki partisipasi dalam pembangunan desa, dan hal itu telah diamanatkan sejumlah UU baik UU Desa, UU Pemuda termasuk Perda Bali Desa Pekraman. Dan salah satu wujud perhatian dari pemerintah adalah dengan mengalokasikan bantuan dana Desa baik yang bersumber dari APBN dan APBD untuk membina para pemuda desa dalam bentuk program pembinaan. Namun, dilapangan khusus di Bali masih ditemui postur anggaran Desa atau Kelurahan yang belum sepenuhnya mengayomi para pemuda, baik melalui organisasi STT atau Karang Taruna. Hal ini disayangkan oleh Senator DPD RI utusan Bali, yakni Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang merupakan anggota dari Komite III Bidang Pemuda, Olahraga, Pendidikan, Agama dan Budaya. Hal itu disampaikan usai menjadi narasumber dalam Rapat Perdana STT Wirasatya Soringwedi, di Br. Batanancak Mas Ubud Gianyar. Dihadiri oleh ratusan anggota STT serta para tokoh adat, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) menyampaikan harapannya agar para Perbekel ( Kepala Desa ) dan Lurah agar mulai fokus pada penataan organisasi kepemudaan didesa. “Organisasi STT dan Karang Taruna selama ini masih banyak hanya dimanfaatkan menjelang Pilkades semata. Secara politik juga kerap dimanfaatkan menjelang hajatan Pilkada terutama menjelang Nyepi. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten / Kota juga setengah hati membina STT. Sehingga yang terjadi sekarang banyak STT di Bali mati suri, atau segan berprogram. Ini tidak baik, dan secara UU Pembinaan generasi muda harus dilakukan secara kontinyu. Maka dari itu saya minta, warga desa khususnya anak muda di Desa yang tergabung di organisasi STT untuk mengamati program Kepala Desa atau Lurah di Desa apakah pro pemuda atau tidak. Jika tidak pro pemuda, artinya di Pilkades berikutnya jangan dipilih lagi, dan jika ditingkat kelurahan ada Lurah yang tidak pro terhadap program STT, bisa ajukan penggantian ke Bupati / Walikota agar bisa diganti segera. Dizaman transparan ini, wajar masyarakat mengamati program dari pemimpin desanya. Jadi STT jangan pasif dan diam saja, harus aktif berkomunikasi. “ungkap Gusti Wedakarna. Ia juga memberikan pandangan, bahwa ada dana Desa Adat yang setiap Tahun digelontorkan oleh Pemprov dan Pemkab / Pemkot dan DPD berharap agar para Bendesa Adat juga membagi dana Desa adat dari APBD untuk kegiatan STT. “ Saya minta kepada para Bendesa Adat, agar dana pembinaan desa adat jangan semuanya dihabiskan untuk infastruktur, tapi berikan sebagian untuk kegiatan ekonomi desa dan juga program STT. Membina SDM Hindu  yang kuat sejak di STT sangat penting agar ketahanan Desa Adat bisa maksimal. Anak muda Hindu khususnya di STT harus diayomi dibimbing dan diberikan kesempatan untuk tampil jangan sebaliknya malah dianggap beban. Kepemimpinan orang tua yang menganggap anak muda sebagai saingan adalah karakter sakit, karakter tidak moral dan karakter adharma. Justru kaderisasi harus diutamakan. Contohlah Resi Bhisma, yang secara adil dan telaten membimbing para Pandawa dalam kepemimpinan. Jadi para Perbekel, Lurah dan Bendesa berperanlah sebagai Maharesi  Bhisma, maka nama baik anda akan di ingat selamanya oleh kaum muda. Itu nasihat saya. This is Satyagraha. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Terkait dengan eksistensi STT Wirasatya Soringwedi, pihaknya mendukung pendirian Sanggar Seni untuk melestarikan Tari Rejang Dewa dan juga Baris Gede sebagai ikon Banjar Batanancak yang sudah mendunia. (humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *