Categories HinduSatyagraha

SENATOR WEDAKARNA MINTA BENDESA ADAT JENGAH BANGUN SIMBOL – SIMBOL HINDU

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Didaulat Menanamkan Tumbuhan Suci Di Lokasi Pembangunan Museum Lontar di Desa Adat Dukuh Penaban ( Karangasem )

DUKUNG RENCANA PEMBANGUNAN MUSEUM LONTAR DI KARANGASEM

Satu persatu Desa Adat di Bali mulai berbenah dan jengah. Prinsip berdikari ala Bung Karno yang menjadi platform dari pemerintahan Tri Sakti sudah mulai dipahami oleh sebagian dari prajuru adat di Bali. Kini, muncul inovasi – inovasi hebat dari desa pekraman di Bali khususnya dalam mengelola potensi desanya. Salah satunya terekam dalam kunjungan Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III ke Desa Dukuh Penaban serangkaian dengan kegiatan MPR RI sekaligus meninjau lokasi dibangunnya Museum Lontar. Didampingi oleh I Nengah Suarya, SE
( Bendesa Adat Dukuh Penaban ), Gusti Wedakarna menyambut baik akan inisiatif dari Desa Adat Dukuh Penaban untuk menggali potensi lewat program Desa Wisata. “Saya minta Desa Adat di Bali belajar dari desa adat – desa adat yang mampu mengelola destinasi wisata. Sebuah desa adat yang berbasis Hindu harus mengutamakan rasa percaya diri dan sikap superior dalam menjalankan program. Inisiatif untuk memberdayakan desa wisata adalah inisiatif warga, itu terkait dengan kecerdasan prajuru dan warga adatnya. Dan desa wisata itu ya harus punya spesialisasi, karena itu yang membedakan dengan desa wisata lain.”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun mendukung ide dari Desa Adat Dukuh Penaban terkait dengan rencana akan didirikannya Museum Lontar yang akan menyimpan ribuan lontar – lontar yang ada dikawasan Desa. “Saya sebagai bagian dari lembaga negara DPD RI akan siap mengawal pembangunan ini. Silahkan ajukan pengajuan ke Kemendikbud RI dan saya akan rekomendasikan jadi prioritas negara. Tapi saya minta status Desa Wisata agar segera ditetapkan dulu oleh Pemerintah Kabupaten Karangasem. Silahkan warga disini bertemu dengan Bupati dan agar ditindaklanjuti. Itu urusan domestik dan seharusnya tidak jadi kendala. Justru pemkab harusnya berterimakasih karena sudah ada desa yang berinisiatif .”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun memberikan saran agar kedepan desa adat di Bali mulai menghemat anggaran upakara dalam rangka mewujudkan simbol simbol agama, budaya dan pendidikan. “Saya tetap pada sikap bahwa desa adat di Bali harus sederhana dalam upacara. Silahkan peturunan, silahkan iuran karena itu adalah hak desa, tapi manajemen keuangan desa sangat penting. Sisihkan sebagian dana desa untuk membuat institusi, seperti museum ini misalkan. Agar para Bendesa dan prajuru pernah dikenang oleh sejarah. Pemimpin itu kan harus meninggalkan jejak fisik jika ingin dikenang sejarah, tidak sekedar kerja rutinitas. Saya dukung, seperti apa yang dilakukan oleh Desa Adat Dukuh Penaban agar berdikari dalam program. Saya juga perhatikan landscape lokasi pembangunan museum ini sangat baik, dan strategis didekat Kota Amlapura. Saya minta segera dibereskan semua urusan legal standing dan status Desa Wisata, sisanya kita sama – sama berjuang di Pusat. “ungkap Gusti Wedakarna yang mantan Rektor Universitas Mahendradatta ini.  Kedepan ia meminta 1488 desa adat di Bali jengah dalam membangun simbol – simbol Hindu seperti sekolah TK SD Hindu, Patung Dewata, Museum – Museum Sejarah, Monumen Pahlawan, Destinasi Subak, Infrstruktur yang menonjolkan kedigjayaan Bali. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *