Categories BudayaInternasionalNasional

TERANCAM DICABUT UNESCO, SHRI ARYA WEDAKARNA  KRITIK MANAJEMEN JATI LUWIH “AMBURADUL”

SEMINAR -Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Usai Mengibarkan Bendera Kebangkitan Subak Jatiluwih Dihadapan Pejabat Provinsi dan Kabupaten Tabanan

SENATOR KIBARKAN BENDERA KEBANGKITAN JATILUWIH BERSAMA PEKASEH

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang juga bagian dari Komite III Bidang Agama, Budaya, Kesra akhirnya tedun ke Desa Jatiluwih Penebel Tabanan. Kehadiran sosok kharismatik Bali ini, disambut oleh Pekaseh dan anggota Subak Jatiluwih. Tampak pula hadir mendampingi Dinas Pertanian Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Camat Penebel, Perbekel Jatiluwih dan juga aparat keamanan TNI/Polri. Selama berada di Jatiluwih, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) didaulat untuk mengibarkan bendera kebangkitan subak Jatiluwih termasuk pataka kaderisasi petani muda Jatiluwih dan juga mendapatkan laporan secara lisan dan tertulis termasuk inventarisasi masalah yang dialami oleh Desa Jatiluwih dari Nyoman Sutama( Pekaseh Jatiluwih ). Keprihatinan atas kondisi dialami petani di Jatiluwih termasuk adanya ancaman pencabutan status Warisan  Budaya Dunia oleh UNESCO juga mengemuka saat pertemuan dengan DPD RI Bali. “Saya hadir di Jatiluwih adalah amanat UU dalam masa reses. Sejak ditetapkan pertama kali sebagai Situs Budaya Dunia oleh UNESCO melalui sidang UNESCO pada 20 Juni 2012 di St Pittsburg Rusia, saya tidak menyangka bahwa manajemen destinasi Jatiluwih ini sangat “amburadul”. Kenapa ? Tidak ada blue print, tidak ada program rutin yang monumental, tanah sawah masih kena pajak, petani subak tidak mendapat perhatian, alih fungsi lahan yang marak, miss koordinasi antara majelis subak, adat dan dinas, serta tidak maksimalnya peran DTW Jatiluwih. Jujur saya kaget, saya kira ini aman – aman saja, ternyata Jatiluwih menyimpan api dalam sekam. Jujur saya kasihan dan simpati dengan para petani dan subak. “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan hal itu, pihak DPD RI Bali juga merasa heran karena sampai 2018 Jatiluwih belum mendapatkan  bantuan pemerintah pusat. “Lho, ini kok aneh ya pemerintah pusat tidak peduli dengan WBD Jatiluwih. Saya tidak paham siapakah yang lalai, apakah Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI atau Pemkab Tabanan yang kurang proaktif.  Ada dana Rp 2000 Trilyun APBN dan silahkan rebut dana itu anggaran untuk Bali, dan itu perlu usaha maksimal dari pejabat di Tabanan. Anggaran baik pembinaan SDM dan Infrastuktur itu adalah hak warga negara dan hak Bali. Disini diperlukan pemimpin eksekutif yang bisa melobi pusat. Jangan sampai status UNESCO dicabut, baru semua kebakaran jenggot. Langkah awalnya masukkan dulu Jatiluwih sebagai Kawasan Strategis Nasional ( KSN ) agar bisa dapat dana, kan kemarin katanya tim pusat sudah datang ke Bali, ya harusnya tindakklanjuti. Yang mengajukan harus Kabupaten, DPD RI akan mengawal hingga ke Kabinet, dan bagaimana kami di parlemen bisa mengawal kalau tidak ada pengajuan. ”ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan hal itu, pihak DPD RI Bali merekomendasikan sejumlah hal yakni 1) Mendukung Tim Pelestari Subak Jatiluwih dan bentuk Badan Pengelola Situs Dunia Subak Jatiluwih ( BPSDSJ), 2) Meminta pusat segera menetapkan Jatiluwih sebagai KSN 3) Rekomendasi pada Pemkab Tabanan untuk menetapkan pajak Rp 0 kepada petani  pemilik sawah yang masuk kawasan WBD 4) Meminta Pekaseh dan Badan Otorita membuat data base terkait nama pemilik lahan dan luas lahan serta kawasan yang masuk dalam konservasi WBD 5) DPD Bali mendukung awig – awig dan perarem termasuk keputusan Subak menjadi pertimbangan hukum positif dalam perizinan dan kebijakan public yang diambil oleh Pemkab, Camat dan Perbekel 6) Menolak investor luar desa demi kawasan zona ekonomi Satyagraha 7) Revitalisasi DTW agar melibatkan semua unsur secara transparan termasuk menyelenggarakan event rutin tahunan sebagai ikon 8) Semua pihak diminta tidak melawan UU No.11/2010 tentang Cagar Budaya dan memperhatikan sanksi pidana dan ganti rugi terhadap pelanggaran cagar budaya. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *