Categories Nasional

SHRI ARYA WEDAKARNA DUKUNG AKSI DENSUS 88 DI UNIVERSITAS RIAU DAN PENCOPOTON DOSEN UNDIP

SEMINAR – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Di Seminar Nasional Komnas Anak Di Gedung Nari Graha Denpasar

SIKAP BALI TENTANG RADIKALISME DI ACARA KOMNAS ANAK 

Tokoh Nasionalis Indonesia, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III menyatakan bahwa tragedi bom disejumlah Gereja di Surabaya Jatim yang melibatkan keluarga dan anak – anak baik sebagai pelaku dan sebagai korban telah menjadi perbincangan dunia internasional mengingat hal ini telah menganggu konvensi internasional hak anak. Dan setiap keluarga di Indonesia diharapkan untuk bisa mewaspadai akan potensi yang memanfaatkan anak – anak bangsa sebagai pengagum akan ajaran radikalisme khususnya melalui mengaruh media sosial. “Saya kira, teror bom Surabaya ini membawa sejumlah perspektif baru dari sisi kontra intelijen dan juga proxy war, tidak sekedar meledakkan  bom fisik. Diantaranya, teroris internasional ingin agar basis ISIS bisa dipindah ke Asia Tenggara. Setelah mereka gagal di Filipina dan juga di Myanmar, mereka menganggap Indonesia potensi menjadi sarang radikal, karena dinegara Timur Tengah sendiri sudah ada perpecahan diantara pemimpin agama dan kelompok teror disana. Indonesia dianggap potensial, karena urusan SARA sudah masuk ketanah politik dan terkristal. Ini menguntungkan kelompok radikal, termasuk adanya tokoh nasional kita bahkan parpol yang seolah – olah mendukung radikalisme. Tapi syukurlah, negara cepat membentuk Pasukan Gabungan  TNI dan Polri serta disahkannya UU Terorisme dengan cepat. “ungkap Gusti Wedakarna. Pemilihan tempat di Jawa Timur juga sebenarnya menjadi sinyal bahwa sel sel  teroris sudah melumpuhkan simbol toleransi terkuat di Indonesia yakni Kota Surabaya. “Di Indonesia, dari pengamatan saya, kota yang paling toleransi itu Surabaya. Itu simbol Mojopahit, simbol daerah tua sekaligus simbol pahlawan. Surabaya ini juga sangat kuat NU nya yang dikenal nasionalis religus dan pendukung NKRI. Ini sinyal teroris untuk membuat malu pemerintah Jokowi bahwa Surabaya sudah jebol, Mako Brimob Depok juga sudah jebol, pesannya mudah kuasai Indonesia. Termasuk anak anak kecil pun dilibatkan sebagai pengantin bom. Ini artinya aksi teror model Suriah, Palestina, Irak, Libanon sudah masuk Indonesia. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun meminta, untuk mewaspadai pusat pusat pendidikan di Bali yang bisa menghasilkan anak – anak berjiwa radikal. “Saya dapat masukan, ternyata di Bali ini sudah ada perguruan tinggi yang punya UKM berhaluan radikal, ini sedang kita awasi. Jangan sampai ada dosen, rektor yang berpaham Anti Pancasila. Begitu juga ditingkatan SD, SMP dan SMA/SMK, saya minta kepala sekolah harus mengawasi Ekstrakurikuler, dan kelompok kelompok yang bisa menjadi bibit radikalisme. Ini penting karena penularan bibit radikalisme akan sangat mudah lewat lembaga pendidikan. Desa Adat di Bali juga harus tingkatkan sense intelijen terhadap kelompok pendatang yang sekiranya anti Pancasila. “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan aksi Polri dan Densus 88 yang menggagalkan upaya terorisme di Kampus Univ. Riau serta pencopotan guru besar Univ. Diponegoro Semarang yang diduga mendukung radikalisme, pihaknya sangat mengapresiasi. “Saya dukung 100 persen Polri. Demi keamanan nasional, silahkan saja sisir kampus – kampus Indonesia yang diduga ada bibit radikalisme. Termasuk tindakan Undip yang tegas mencopot pejabat pro radikal juga saya dukung. Saya malah berharap Kemenristekdikti RI bisa dengan tegas mencabut gelar guru besar dari oknum yang diduga pro radikal. Saya melalui lembaga  The Sukarno Center  tentu memberikan dukungan kepada negara, apalagi sudah ada UU Terorisme. Negara tinggal gerak saja.  Saya setuju tumpas sampai ke akar akarnya. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga Anggota DPD RI. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *