Categories BudayaHindu

WEDAKARNA MINTA RAKYAT PILIH PARPOL YANG BISA DORONG PERDA LARANGAN DAGING ANJING

RDP – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Jajaran Polri di Mapolres Bangli Dalam Rangka RDP Penyiksaan Anjing

SENATOR MINTA DESA DI BALI KELUARKAN AWIG TOLAK WARUNG RW

Masalah penyiksaan anjing liar yang terjadi di Bangli beberapa waktu lalu, termasuk maraknya peracunan anjing lokal terkait dengan pesatnya penjualan daging anjing  ( RW ) di Bali, akhirnya menjadi perhatian Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Aspirasi masyarakat Hindu di Bali dan juga penyayang binatang langsung ditangani oleh DPD RI Utusan Bali dan ini terekam saat kunjungan Senator Arya Wedakarna ( AWK ) ke Mapolres Bangli. Diterima oleh I Ketut Gelgel ( Wakapolres Bangli ) beserta lengkap dengan jajaran, Senator AWK mendapatkan penjelasan dari Polri terkait dengan kejadian dugaan penyiksaan anjing yang terjadi diwilayah hukum Kab. Bangli. Dari pihak kepolisian, Senator mendapatkan penjelasan bahwa saat ini menurut UU sangat lemah untuk menyelesaikan berbagai kasus terkait masalah penyiksaan dan juga kejadian banyaknya anjing yang diracun oleh oknum selain juga pelarangan warung RW. Terkait dengan hal ini Senator Wedakarna sangat memahami dan memberikan solusi untuk masyarakat Bali. “Rakyat di Bali harus paham bahwa belum ada aturan yang melarang daging anjing di Indonesia. Beberapa suku di Nusantara juga masih mengkonsumsi daging anjing. Jadi agak sulit menetapkan hal ini di UU. Tapi ada cara lain yang bisa dilakukan di Bali yakni jangka pendeknya kita minta Gubernur Bali yang baru untuk mengeluarkan Pergub terkait larangan daging anjing di seluruh Bali dan jangka menengahnya harus lewat produk legislasi di DPRD yakni melahirkan Perda Pelarangan Penjualan Daging Anjing di seluruh wilayah. Maka dari itu, saya ajak jutaan orang Bali yang menolak daging anjing ini untuk memilih partai yang mau perjuangkan. Perda ini, Harus disuarakan, dan jangan pilih wakil rakyat di DPRD yang diam, jan gan pilih partai yang tidak peduli dengan nasib anjing lokal Bali. Itu satu satunya cara, agar masalah ini tuntas di tataran payung hukum. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun menilai bahwa pembunuhan anjing dengan cara diracun yang hampir setiap hari terjadi adalah akibat tingginya permintaan daging anjing. “Saya yakin, mayoritas krama adat Bali dan umat Hindu tidak mengkonsumsi daging anjing ( RW ). Tapi ada beberapa kelompok pendatang ini yang masih memakan daging anjing. Ini harus diberantas segera agar tidak menimbulkan hal berbau SARA. Saya dapat laporan bahwa peredaran daging anjing ini marak di Kuta Utara, khususnya di Kabupaten Badung selain beberapa titik di Denpasar dan sejumlah kecil dikabupaten lain. Jadi saya minta agar pemerintah lokal bergerak, ini bukan semata mata mengamankan Bali sebagai pulau berbasis Hindu yang menghormati binatang anjing sebagai figur Dewa Dharma ( Mahabarata ), tapi juga faktor kesehatan masyarakat. “ungkap Gusti Wedakarna. Maka dari itu, ia meminta kepada Bendesa Adat di Bali khususnya yang diwilayahnya banyak terdapat warung RW, agar mengeluarkan awig dan aturan pelarangan penjualan daging anjing di Desa Adat, ini bisa membuat gumi leteh. Silakan minta Pecalang dan Jagabaya membantu membina dan menerbitkan. Ini solusi jangka pendek. Saya paham kegelisahan dari warga Bali terhadap fenomena yang terjadi akhir akhir ini. Kalau bicara statistik, kita bicara angkat ratusan ribu bahkan jutaan krama Bali tidak setuju terhadap pembunuhan, penyiksaan dan juga penjualan daging anjing. Sekarang tergantung pemerintah dan DPRD, apakah mau dengar suara rakyat atau tidak. Disamping itu tiang kok percaya sekali dengan karma phala, bahwa tidak boleh ada pemimpin yang membiarkan hal ini. DPD akan terus mengawal hal ini dan ada terdepan bersama masyarakat Bali. “ungkap Gusti Wedakarna ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *