Categories Hindu

GPM BANGKIT, ARYA WEDAKARNA BERI MANDAT BENTUK GERAKAN PEMUDA MARHAEN DI SELURUH KECAMATAN DI BALI  

Dr. Arya Wedakarna Bersama GM Taman Nusa Gianyar, dan Pengurus GPM Se-Bali

PERINGATAN HARI LAHIR PNI KE-91 DI MONUMEN BUNG KARNO TAMAN NUSA

Bagi kaum nasionalis Indonesia, pada tanggal 4 Juli 1927 adalah hari bersejarah dengan lahirnya Partai Nasional Indonesia ( PNI ) yang dikenal sebagai partai kawitan tertua di Indonesia. Sejarah para pendiri PNI yakni Bung Karno, Dr. Tjipto, Mr Budhyarto, Mr. Iskaq, Dr. Samsi, Mr. Sartono, Mr. Sunario dan Ir. Anwari hanya memiliki satu tujuan tunggal yakni Indonesia Merdeka. Sejarah juga membuktikan bahwa PNI yang sedari awal adalah gerakan politik, berhasil menjadi partai politik pemenang Pemilu 1955 dan akhirnya dibubarkan pada rezim orde baru. Dan ketika era erformasi, PNI yang sempat dipimpin oleh (alm) Ibu Supeni dan dilanjutkan oleh Ibu Sukmawati Sukarno Putri hingga kini akhirnya bermetamorfosis menjadi PNI Marhaenisme sempat mengisi kertas pemilu ditahun 1999, 2004 dan 2009 dan hingga kini pun PNI Marhaenisme tetap tercantum dalam lembar negara khususnya di Kementerian Hukum HAM RI sebagai parpol resmi yang ada di Republik Indonesia. Semangat dan akar perjuangan PNI ini tetap digelorakan oleh tokoh muda yang juga dikenal sebagai politisi handal yakni Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III saat berpidato didepan ratusan massa di acara HUT PNI ke-91 di Monumen Sukarno Hatta Taman Nusa Gianyar. “PNI dizaman milenial ini, adalah PNI Pergerakan, PNI yang mempengaruhi kebijakan politik bangsa, PNI yang menjadi teladan kejujuran dan sifat baik serta PNI yang mengusung jelas ideologi ajaran Marhaenisme. Dan kebangkitan PNI harus dimulai dari Bali, karena Bali adalah sumber inspirasi dari Pancasila. “ungkap Dr. Arya Wedakarna yang juga anggota DPD/MPR RI utusan Bali ini. Ia juga memberikan contoh bahwa perjuangan tokoh tokoh PNI di nasional adalah memberikan support politic terhadap kekuasaan jika diperlukan, tapi bisa jadi oposisi dan berhadapan langsung dengan kekuasaan. “PNI itu focus pada hal hal besar seperti dilevel republik dan hal hal substansif dalam mengamankan ideologi. Saat awal reformasi, PNI bergerak sebagai salah satu faktor tumbangnya rezim Suharto dan ORBA, pada saat awal reformasi, bagaimana PNI menemani perjuangan Megawati dan Gus Dur sebagai pemimpin nasional dimasa transisi. Pada zaman SBY, PNI menjadi oposisi dan ikut aktif dibarisan oposan. Dan kini dipemerintahan Joko Widodo, PNI ada dibarisan pendukung Revolusi Mental.  Contoh lainnya pada Pilgub 2013 PNIM sebagai partai dengan nomer 5 terbesar di Bali, pernah menyatakan GOLPUT sehingga mengakibatkan tumbangnya kandidat yang digadang gadang kader nasionalis. Dan di Pemilu 2014, Ketua PNI Bali bisa memenangkan Pemilu DPD di Bali dengan suara tertinggi walau tanpa parpol. Di Bali sejarah PNI tidak bisa dilupakan begitu saja dan kita akan buat agar tidak bisa dilupakan sepanjang masa.“ungkap Arya Wedakarna. Maka dari itu ia memberikan dukungan atas bangkitnya lagi embrio PNI melalui Gerakan Pemuda Marhaen ( GPM ) di Bali. “Saya dukung GPM. Jadilah organisatoris yang hebat, tidak sekedar menjadi ormas biasa. Latihlah jadi pemimpin sekarang dan nanti kedepan anak anak banteng ketaton harus menjadi pemimpin di Kabupaten / Kota di Bali. Saya akan bina anak anak GPM menjadi yang terbaik dikalangan ormas di Bali. Setelah GPM, maka bentuklah Gerakan Satuan Tameng Marhaen ( GASTAM ), Gerakan Wanita Marhaen ( GWM ) dan Gerakan Siswa Nasional Indonesia ( GSNI ). Semua punya misi tunggal : AMANKAN PANCASILA ! DAN LAWAN RADIKALISME “ ‘ungkap Shri Arya Wedakarna   ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *