Categories HinduNasional

SENATOR RI MEMINTA DIRJEN KEMENAG RI PUSAT PERHATIKAN GURU AGAMA HINDU DEMI SDM HINDU YANG BERKUALITAS

Foto- Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali) Bersama Aliansi Guru Agama Hindu Non Sertifikasi 

MENERIMA AUDENSI GURU AGAMA HINDU PNS DI ISTANA MANCAWARNA TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR 

Anggota Komite III  Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, SE (MTru), M.Si yang membidangi bidang Agama dan Kesra telah menerima Guru-Guru Agama Hindu PNS dari beberapa Kabupaten/Kota khususnya Provinsi Bali di Istana Mancawarna Tampaksiring Kabupaten Gianyar, ia pun menyambut baik kedatangan Guru-Guru Agama Hindu yang tergabung di Alinasi Guru Agama Hindu Non Sertifikasi, adapun pada kesempatan yang berbahagia itu Ketua dari Aliansi tidak dapat Hadir dikarenakan kesibukan lain, tetapi ia diwakili oleh I Made Raka Ariayana dan didampingi oleh Made Yuda Asmara Mayuna, Ni Made Candrawati, Ni Luh Putu Yuning, Ni Luh Astiti Dwi Puspawati, I Made Gatra, I Wayan Ugi, Ni Putu Sudiani beserta Ni Wayan Sariasih yang mana semuanya tergabung di Alinasi Guru Agama Hindu Non Sertifikasi. Beberapa masalah pun mereka sampaikan dari belum dapatnya sertifikasi, terkait juga dengan status BMS dari beberapa hasil verifikasi Guru serta adanya perbedaan penilaian oleh IHDN dan Kementerian Agama, padahal mereka yang tergabung di Alinasi Guru Agama Hindu Non Sertifikasi sudah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Kementerian Agama RI Pusat sehubungan dengan masalah yang mereka alami tetapi sampai saat ini belum ada jawaban yang hakiki, dan yang sangat memprihatinkan juga untuk Dosen Agama Hindu saat ini bahwa proses sertifikasi  sangat tertinggal jauh dan bahkan sudah beberapa tahun belum ada proses, padahal dari Guru Agama lain secara rutin selalu diadakan. Ia pun juga menyampaikan bahwa masalah yang menjadi tingkat Nasional saat ini ialah permasalahan terkait dengan adanya kabar tidak objektif dari Oknum-Oknum di lingkungan Kementerian Agama dalam meberikan informasi kepada pimpinan, padahal berdasarkan info yang disampaikan oleh Alinasi Guru Agama Hindu Non Sertifikasi bahwa ada dana Rp. 178 Miliar untuk SDM Guru yang sampai saat ini belum terserap oleh Direktorat, yang mana dalam hal ini di duga adanya kenakalan oleh Oknum di lingkungan Kementerian Agama. Menyikapi hal tersebut selaku Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali Dr. Arya Wedakarna berupaya membantu menuntaskan hal tersebut sesuai dengan Tupoksi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Sambungnya juga berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen yang di tuangkan di Pasal 8 dan 13 itu setiap Guru wajib memiliki sertfikasi pendidik dan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi Guru yang di angkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat.’’Saya prihatin dengan keadaan birokrasi pejabat-pejabat yang ada di lingkungan Kementerian Agama, khususnya Hindu, padahal Saya di Parlemen sudah berupaya untuk meminta anggaran kepada Pemerintah Pusat untuk menaikan Anggaran demi kualitas SDM Hindu di seluruh Indonesia, tapi mendengar hal ini Saya merasa miris, kedepan Saya akan meminta klarifikasi terkait hal ini, dan saya tegaskan lagi kalau memang ada pejabat-pejabat di lingkungan Kementerian Agama yang sontoloyo dan melanggar Hukum Positif, segera saja tindak sesuai dengan Undang-Undang,’’Ungkap Gusti Wedakarna Selaku Wakil Rakyat Bali. Di akhir Audensi dirinya menyampaikan kedepan harus ada upaya evaluasi kepada pejabat-pejabat yang menangani hal tersebut khususnya di lingkungan Kementerian Agama, dan ia juga berharap jangan sampai masalah tersebut berlarut-larut, yang mana nantinya akan berdampak buruk bagi Umat Hindu seluruh Indonesia, dan ia minta hargai kerja keras Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang membela Umat Minoritas, sebab kalau hal-hal kecil semacam ini masih saja terjadi yang disebabkan oleh kerja bawahan yang sontoloyo, maka ia rasa itu tidak mencontohkan jati diri daripada Umat Agama Hindu Indonesia.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *