Categories BudayaHinduNasional

SHRI ARYA WEDAKARNA BAHAS PELECEHAN TARI BALI TIDAK SESUAI PAKEM DI GRAND MASTER ASIA

MEDIASI – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama KPI Pusat dan Direksi SCTV

SENATOR BALI HADIRI PERTEMUAN MEDIASI DENGAN SCTV DI KPI PUSAT

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III akhirnya hadir dalam mediasi dugaan pelecehan Simbol Hindu yang diadakan oleh Komisi Penyiaran Pusat ( KPI ) Pusat terkait dengan aspirasi masyarakat Bali dan umat Hindu yang keberatan dengan dugaan pelecehan Simbol Hindu yakni Tari Bali yang tidak sesuai dengan pakem Hindu yang ditarikan oleh salah seorang peserta Grand Master Asia di SCTV. Dalam nota keberatan yang diajukan oleh Senator Arya Wedakarna, pihaknya mencantumkan sejumlah alasan keberatan dari Tari Kecak yang bersumber pada itihasa Hindu Ramayana yakni adanya penampilan peserta perempuan dengan menggunakan pakaian bernuasa tertutup yang dianggap mencederai figur Dewi Sita yang disucikan umat Hindu dan juga penggunaan ornamen topeng  Rangda Barong yang dianggap melecehkan simbol rangda dalam budaya Bali. Demikian ungkap Senator Arya Wedakarna (AWK) dihadapan Komisioner KPI yakni Hardly Stefano Fenelon Pariela dan Mayong Suryo Laksono. Dari jajaran SCTV tampak hadir Indra Yudistira ( Direkur Utama Indonesia Entertainment Production ), David Suwarto ( Deputy Director SCTV ), Margaretta Putri ( Head Of Corporate Relation SCTV ), Uki Hastama ( Corporate Relations SCTV ), Kristin Sugiyarto ( Executive Produser IEP ) dan Wahyu N Subiyakto ( Production Manager IEP ). “Saya rasa lembaga penyiaran harus banyak belajar dan riset agar pakem pakem, simbol simbol, dan apa yang boleh tidaknya simbol sakral dipergunakan dalam acara publik. Ini sangat penting bahwa jangan sampai isu SARA mencederai niat baik LP untuk memberikan hiburan pada masyarakat. Dan saya sampaikan bahwa di Bali, sangat tipis antara ranah agama Hindu dengan ranah budaya Bali. Jadi harus ekstra hati – hati. Dan  khusus tayangan Grand Master Asia, memang ada beberapa indikasi pelecehan Simbol Hindu yang ingin kami klarifikasi lewat mediasi KPI Pusat ini. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Iapun menjelaskan bahwa dalam budaya Bali, ada beberapa macam jenis tarian yakni tari yang besifat sakral,  tari hiburan dan juga tari kontemporer, sehingga jika  tari kecak dengan ornamen Patung  Rangde yang ditampilkan, itu bisa dianggap sudah  mencederai nilai nilai filosophy. “Di Bali, sebelum penari membawakan tarian, harus ada ritual secara Hindu. Ada doa dan mantra untuk Dewa Taksu . Sekarang pertanyaannya, apakah jika ada penari yang kepercayaannya berbeda bisa menjalankan ritual itu ? Ini akan menimbulkan gesekan. Selain itu dalam tari Bali khususnya yang sakral, ada pakaian yang memang terbuka dan tidak bisa ditutupi. Ini yang harus diperjelas. Lainnya lagi dalam  tayangan ada proses pemakaian Topeng Rangda, yang mana itu adalah simbol suci dalam budaya Hindu Bali dan tidak sembarang orang bisa menggunakan topeng, dan jika ini dibiarkan, maka akan jadi perseden buruk bagi siar seni budaya Bali. Saran Wedakarna, jika pihak luar ingin menampilkan budaya Bali, sebaiknya tampilkan budaya yang  kontempor atau tarian balih – balihan, sehingga lebih aman. Tari Bali kan banyak sekali. Dan ada yang namanya swadharma pragina dan swadharma pegambuhan. ”ungkap Gusti Wedakarna. Setelah mendengar penjelasan dan klarifikasi dari kedua pihak, akhirnya pihak KPI Pusat menyampaikan berita acara pertemuan dengan sejumlah poin inti yakni pihak DPD RI Bali mengapresiasi niatan SCTV untuk menggali potensi budaya lokal dalam sejumlah programnya dan pihak SCTV memina maaf atas kesalahan yang terjadi dan berkomitmen untuk lebih berhati hati dalam penayangan program siaran terutama simbol agama dan budaya Hindu. Kedua belah pihak juga sepakat kedepan harus ada standarisasi dan pedoman yang dapat dijadikan standar dalam menayangkan simbol simbol budaya. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *