Categories BudayaHindu

RIBUAN PEMANCING DI DESA SABA REBUT PIALA SENATOR DI HUT STT DWI EKA MANDALA

KOMPETISI -Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Anak Agung mahendradinata (Perbekel Desa Saba), I Wayan Balik (Bendesa Adat ) dan I Kadek Merta Anggara (Klian Dinas) Di Gianyar

WEDAKARNA DUKUNG PERBEKEL LURAH ANGGARKAN PROGRAM STT

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III mendukung eksistensi Sekaa Teruna Teruni yang selama ini dibina oleh Desa Adat untuk mendapatkan perhatian oleh kedinasan khususnya Kantor Perbekelan / Kepala Desa. Hal ini mengingat semakin beratnya beban generasi muda Hindu di Desa Adat untuk mempertahankan eksistensi budaya Bali yang dijiwai oleh nilai nilai agama Hindu. Menurut Senator Arya Wedakarna, tanpa dukungan kebijakan dari pemimpin Desa baik Desa Adat dan Desa Dinas, mustahil STT di Bali dapat menunjukkan eksistensinya. Demikian disampaikan Senator Arya Wedakarna ( AWK ) disela sela membuka Kompetisi Mancing memperebutkan Piala Senator DPD RI di HUT STT Dwi Eka Mandala di Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar. Dihadapan ribuan peserta memancing yang datang dari seluruh kawasan, Senator Arya Wedakarna melepas simbolis ikan lele Suka untuk diperlombakan. “Tiang rasa, STT di Bali ini kan bersifat sangat selektif. Hanya pemuda dan pemudi Hindu yang bisa menjadi anggota dari STT, karena STT ada dibawah desa adat. STT juga bertugas menjaga aset desa yakni Pura Tri Khayangan, Pelaba dan Duwe Desa. Disamping STT juga harus membantu krama adat mengatur wilayah palemahan dan pawongan. Dan untuk memelihara semua hal hal diatas maka diperlukan usaha bersama. Salah satunya, perhatian kepala desa atau perbekel termasuk lurah diwilayah masing – masing. Dukungan moral, dukugan dana dan juga pembinaan sangat penting. Mereka ada garda garda Hindu kedepan. “ungkap Gusti Wedakarna. Lebih lanjut Senator Termuda asal Bali ini juga menyampaikan bahwa secara aturan UU sangat dimungkinkan sebagian dana desa dibagi dan diberikan kepada STT untuk meningkatkan eksistensinya. “Misalkan disatu desa dinas ada 10 banjar adat dengan 10 STT nya, maka kewajibannya untuk mengalokasikan anggaran untuk STT.  Besar kecilnya kan relative, dan yang penting perhatian dari pejabat di Desa. Silahkan dengan dana desa yang berasal dari APBN atau APBD, yang penting STT diperhatikan. Jadi jangan hanya memperhatikan STT saat menjelang Pilkades saja, tapi setelah berkuasa diabaikan. Mulailah sinergi, karena yang paling abadi adalah perubahan. Kekuasaan itu tidak akan pernah abadi. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga Presiden The Hindu Cente Of Indonesia ini. Terkait dengan program STT, pihak DPD mengingatkan agar orang orang tua di Desa untuk memberikan kebebasan kepada para pemudanya untuk generasi muda, namun tetap dalam koridor kesucian,dan tata krama. “Orang tua didesa jangan berpikir negative, dan beri kewenangan, beri kepercayaan dan ambil hati STT. Maka orang  tua yang melakukan ini akan mendapatkan respect dari anak muda. Ibaratnya, saat orang tua mati, maka wadah dan  bade pelebon kita akan banyak yang negen. Jika anak muda di Desa punya salah, ya maafkan dan bina. Jangan menegur didepan umum, jangan dipermalukan dan harus mencairkan jika ada ketegangan. Lakukan itu dan nama anda akan harum dihadapan anak anak muda. Nanti mereka juga yang menjadi penguasa desa adat, mereka juga akan menjadi penguasa desa dan pemimpin Bali. Jadi try to be nice to youngsters. “pungkas Gusti Wedakarna yang mantan Rektor Universitas Mahendradatta ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *