Categories Internasional

SENATOR SHRI I GUSTI NGURAH ARYA WEDAKARNA MENINJAU LOKASI DAN SITUASI TKI DI KUWAIT

Senator Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Komite III DPD RI Mengunjungi Salah Satu Pengusaha Yang Mempekerjakan Tenaga Kerja Indonesia Di Kuwait

Senator Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna bersama rombongan Delegasi Komite III DPD RI melakukan kunjungan kerja pengawasan atas implementasi UU. No. 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Pada kesempatan ini agenda ditujukan untuk mengunjungi salah satu perusahaan interior uang mempekerjakan Tenaga Kerja Indonesia. Perusahaan ini telah terbukti baik dalam memberikan gaji dan tunjangan kepada TKI berdasarkan dari salah satu pengakuan pekerja para TKI konstruksi sangat berterima kasih kepada KBRI Kuwait karena sangat dekat dan peduli dengan nasib para TKI di Kuwait. Para TKI konstruksi mengakui bahwa KBRI Kuwait sangat care atau peduli dengan nasib para TKI. Segala hal yang berkaitan dengan keluar masuknya TKI di Kuwait diurus baik pihak KBRI, bahkan kebutuhan sosial para TKI juga tidak luput dari perhatian pihak KBRI Kuwait. Para TKI konstruksi dalam pertemuan tersebut sangat berterima kasih kepada Duta Besar RI, karena menurut para TKI Kuwait ex TKI Arab saudi, sangat jarang pihak KBRI mau dekat dengan para TKI apalagi peduli dengan berbagai permasalahan yang dihadapi para TKI di lapangan. Persaingan TKI di Kuwait adalah TKI asal India, Mesir, dan jumlah mereka lebih banyak dan posisinya dalam pekerjaan sudah lebih baik, sehingga seringkali kualifikasi pekerja Indonesia dilaporkan tidak sesuai fakta dilapangan. Para delegasi Komite III DPD RI mengunjungi akomodasi TKI pekerja konstruksi di Jahra didampingi Duta Besar RI, Bapak Tatang, dan Atase Tenaga Kerja RI, Bapak Decky Haedar Ulum. Para TKI konstruksi ini berkeluh kesah, sebenarnya sangat merindukan adanya lapangan pekerjaan di Indonesia. Bekerja sebagai pekerja konstruksi dengan kisaran gaji yang tidak terlalu tinggi, seharusnya tidak harus jauh-jauh ke luar negeri, meninggalkan keluarga dan sanak keluarga. Dalam konteks ini, bekerja sebagai TKI di luar negeri belum sebagai pilihan, melainkan karena terpaksa, yang mungkin saja karena himpitan ekonomi keluarga. Rata-rata para TKI konstruksi ini baru bekerja 4 bulan di Kuwait, dan kehadirannya di Kuwait, atas upaya KBRI membangun jaringan dengan perusahaan di Kuwait, dan melalui kerjasama bisnis ke bisnis (B to B), sehingga mereka dapat bekerja di Kuwait. Perbedaan budaya, kondisi iklim yang berubah-ubah baik panas maupun dingin ditambah lagi, gaji yang relatif belum besar, seringkali menjadi faktor munculnya perasaan home sick. Mengenai kenaikkan gaji para TKI konstruksi ini, KBRI akan berusaha melakukan berbagai upaya melalui pendekatan ke perusahaan (B to B) kepada pihak perusahaan. Besaran gaji TKI konstruksi yang tergolong pekerja formal atau profesional masih sangat kecil dibandingkan dengan gaji para TKI perawat, besaran gajinya berkisar ±26,100-34,800 Juta rupiah atau setara ±600-800 Dinar per bulan. Pemerintah Kuwait saat ini membutuhkan dalam jumlah TKI Perawat. Perkiraan sementara ada sekitar 600-an perawat bekerja di Kuwait, menurun drastis dari sekitar ±1000 orang tahun 2009 karena tidak ada penempatan kembali perawat dari Indonesia. Dalam konteks ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi Indonesia terutama yang membuka prodi keperawatan dalam menyediakan SDM perawat yang berkualifikasi Internasional. Tenaga kerja perawat yang ada Kuwait secara umum tidak sesuai dengan jenjang pendidikan dan kualifikasi yang dibutuhkan. Indonesia mengirim perawat jenjang pendidikan D3 yang dibutuhkan Kuwait mengingat tingginya animo Pemerintah Kuwait akan tenaga kerja Perawat Indonesia, Komite III DPD RI mendorong agar  Kemendikti dan Kemenaker agar bersinergis dalam membenahi dan memenuhi kebutuhan kebutuhan akan TKI perawat di luar negeri. Negara-negara yang selalu menjadi saingan Indonesia di Kuwait adalah Philipina, Banglades, dan Mesir, dalam semua bidang pekerjaan. Kuwait adalah sebuah negara yang sangat kaya akan SDA minyak, dengan kemitraan yang baik, akan sangat memungkinkan Kuwait berinvestasi ke Indonesia dan sebaliknya angkatan kerja Indonesia yang mandiri/profesional dapat diperkenankan bekerja dalam berbagai bidang keahlian Kuwait. KBRI Kuwait menjelaskan bahwa negara Kuwait termasuk negara Investor ke-5 di dunia, dengan jumlah investasi berkisar ± Rp.9000 trilliun per tahun dan memberikan bantuan luar negeri sebesar Rp. ±8,2 Milyar per tahun. Kuwait memiliki mata uang Dinar dengan nilai tukar uang tertinggi di dunia yakni sebesar ± Rp. 43.500,-. Dalam konteks Kuwait sebagai negara investor terbesar ke-5 di dunia, maka mitra strategis yang dibangun Indonesia dengan negara Kuwait, diharapkan akan mendatangkan investasi yang sebesar-besarnya bagi negara Indonesia dan menjadi kesempatan yang sebesar-besarnya bagi TKI formal atau profesional dalam berbagai keahlian dapat bekerja di negara Kuwait. Berdasarkan data Imigrasi dari Kuwait, jumlah WNI di Kuwait berkisar ±7.842 orang, terdiri dari ±4.504 orang bekerja di sektor informal dan berkisar ±2.084 orang bekerja di sektor formal. Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di sektor informal didominasi para pekerja rumah tangga (PRT). Data WNI di Imigrasi Kuwait ini dapat dijadikan sebagai informasi akurat dan sekaligus membantah banyaknya pemberitaan miring di media sosial, bahwa akibat moratorium pengiriman TKI PRT ke Kuwait, banyak TKI PRT ilegal bekerja di Kuwait.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *