Categories BudayaHindu

GUSTI WEDAKARNA MENDIDIK UMAT HINDU MENYUCIKAN HEWAN MELALUI KIRAB LEMBU

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Memimpin Upacara Kirab Lembu Putih Duwe Desa Adat Taro di Denpasar

BESOK FESTIVAL NANDINI PUJA TEDUNKAN DUWE DESA ADAT TARO

Bali adalah pulau yang umatnya sebagian besar adalah penganut Hindu Siwaisme. Hal ini ditandai dengan betapa pentingnya ajaran – ajaran Siwa Mahadewa dalam keseharian umat Hindu di Bali. Cerita Lubdaka, penganut Siwa yang akhirnya menjadi cikal bakal hari Siwa Ratri di Bali. Begitu juga disejumlah pura di Bali terdapat arca Nandini ( Dewa Lembu / Sapi ) yang menandai penghormatan terhadap kendaraan Siwa. Dan salah satu teladan akan pelestarian nilai nilai Weda diungkapkan Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III yang rutin setiap tahun dengan menghadirkan 9 Ekor Lembu Putih milik ( duwe ) Desa Adat Taro Gianyar dalam acara Kirab Lembu Nandini yang dipusatkan di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung ( Puputan Badung ). “Saya akui bahwa sebagian besar umat Hindu di Bali sangat menyucikan lembu, sapi dan kerbau karena sapi adalah kendaraan Siwa Mahadewa, lambang dari keperkasaan Dewa Indra dan juga hewan kesayangan Sri Krisna. Jadi memuliakan sapi adalah kewajiban bagi setiap umat Hindu. Dan kewajiban bagi setiap pemimpin Hindu di Bali khususnya untuk membantu melindungi sapi dan bukan sebaliknya. Kita harus manut pada sastra Weda yang kita yakini sebagai pedoman umat Hindu dalam menjalankan sesananya. Bahkan para Ksatria yang dicontohkan Pandawa, memberi teladan atas kemuliaan sapi “ Ungkap Gusti Wedakarna yang juga Presiden The Hindu Center Of Indonesia. Gusti Wedakarna juga menyampaikan bahwa dalam ajaran Hindu disebutkan, bahwa jika ada seeekor sapi yang dibantai sebuah negeri, dan ketika darah sapi itu masuk ke tanah pertiwi dan lolongan tangisan sapi tersebut terdengar  hingga Indraloka, maka seketika itu para Dewa akan menghujamkan bencana pada negeri itu. Dan hal ini kenapa wilayah suci Hindu diseluruh dunia sangat memuliakan sapi dan melarang pembantaian sapi, lembu dan kerbau karena dipercaya ada karma phala.  Ini yang menyebabkan Bali sangat memuliakan sapi. Kita perbaiki kesalahan leluhur kita dan itulah gunanya Jnana Yadnya, melahirkan generasi muda disetiap penjuru Bali yang semakin cerdas dan memahami ajaran agama “ Ungkap Gusti Wedakarna. Iapun memaklumi bahwa disejumlah ritual dan desa adat masih ada praktik penyembelihan sapi sebagai syarat ritual. “ Bagi saya agama itu memberi pedoman. Kita sepakati dulu bahwa Bali menjadi seperti saat ini, karena peran agama Hindu. Jika ada orang Bali masih memakan daging sapi, ada desa adat menyembelih sapi, ada pejabat yang menyerahkan sapi untuk disembelih, kita anggap saja Awidya ( Tidak ada pengetahuan ). Tugas cendikiawan menyadarkan dan selanjutnya jika ada yang tidak sadar makabiarkan karma phala mengatur. Umat tidak boleh menggunakan kekerasan ( ahimsa ), karena Hindu agama damai dari penyebarannya. Siarkanlah agama Hindu dengan damai.  Dalam Hindupun dipercaya, pembantaian sapi akan mengakibatkan pemimpin yang pendek umur, kehancuran keluarga para kepimpinan, terjadinya bencana alam dan alam menjadi cemer. Yang penting para ahli agama sudah diingatkan dan mengingatkan. Ini juga yang terus saya sampaikan saat bertemu warga diseluruh Bali. Agama adalah tiang kehidupan dan ada sesana – sesana yang harus diikuti. “ Ungkap Shri Arya Wedakarna. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *