Categories Nasional

PEMIMPIN DI BALI HARUSNYA MALU DAN TERPACU MELIHAT FENOMENA AHOK

AHOKERS –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta  

AHOK ADALAH REVOLUSI MENTAL BUNG KARNO YANG BELUM SELESAI

Kecintaan rakyat Indonesia terhadp Basuki Tjahaya Purnama ( Ahok ) di Indonesia pasca vonis hukuman penjara 2 tahun oleh Pengadilan di DKI, membawa harapan bahwa kepahlawanan masa kini adalah niscaya diwujudkan. Dukungan dari tokoh Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III terhadap perjuangan Ahok, terus digelorakan sejak proses Pilkada DKI Jakarta. Iapun memiliki pandangan bahwa Ahok sesungguhnya alat leluhur untuk menuntaskan pekerjaan bangsa yang belum selesai. “Sebagai umat Hindu, saya percaya bahwa alam semesta telah menjadi Ahok sebagai teladan agar orang Indonesia terbuka masalah SARA. Dalam istilah Majapahit, ini disebut Pambukaning Gapuro. Ahok adalah Sukarnois sejati, ia melaksanakan prinsip prinsip Bung Karno khususnya keberanian dalam berbicara kebenaran. Sudah cukup lama Indonesia tidak merasakan energi yang luar biasa besar dalam mengangungkan pemimpinnya. Jokowi dan Ahok adalah dua sosok yang akan dicatat dalam sejarah bangsa. Ini disebut juga Revolusi Bung Karno yang belum selesai. Saya dan rakyat Bali akan mendukung perjuangan Ahok. Saya yakinkan beliau nasionalis, bukan rasis, bukan SARA tapi beliau bicara untuk kebenaran sekalipun berhadapan dengan agama mayoritas. Ini hebat.”ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan aksi 1000 lilin yang diadakan diseluruh Indonesia, termasuk di Bali, seharusnya menjadikan pemimpin Bali menginstrospeksi diri ( mulat sarira ), karena bagaimana mungkin ada tokoh luar Bali yang dielu elukan oleh rakyat  Bali sendiri termasuk umat Hindu. “Saya kira ini adalah tamparan halus untuk pemimpin di Bali. Baik pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi, pemimpin puri termasuk mereka yang mengaku dirinya sebagai tokoh. Bagaimana anak – anak muda Bali kini lebih mengidolakan Gubernur DKI Jakarta dibanding Gubernur Bupati dan Walikotanya sendiri ? Bagaimana mungkin ada rasa keterikatan batin antara Ahok di Penjara Cipinang sana dengan rakyat yang mengadakan aksi diseluruh Bali. Ini adalah kehebatan perjuangan yang dilandasi tulus ikhlas. Saya minta, agar pemimpin di Bali berubah pola kepemimpinannya. Orang zaman sekarang sudah apatis dengan partai politik , apatis dengan sistem politik dan muak dengan hegemoni birokrasi. Ahok adalah bukan sekedar tokoh, tapi Ahok itu ajaran, Ahok itu sistem dan Ahok itu simbol keberanian berhadapan dengan radikalisme agama yang mengatasnamakan mayoritas. Ini akan terus menginspirasi anak muda Indonesia.”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun berhadap, dari Bali muncul Ahok Ahok muda yang bisa mendobrak sistem politik yang selama ini dianggap kaku. “Saya kira 2018 dan 2019 adalah titik balik dari politik Indonesia. Hanya mereka yang berani melawan arus yang akan dipilih sebagai pemimpin. Ahok telah memberikan pencerahan dialam bahwa sadar manusia Indonesia bahwa orang baik, orang jujur dan orang berani masih dapat tempat dihati orang Indonesia. Saya pastikan, Bali akan setia dan searah pada perjuangan ideologi seorang Ahok karena ada nilai nilai Sukarnois didalamnya.”ungkap Gusti Wedakarna yang Ketua DPP PNI Marhaenisme itu. (humas)

 

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *