Categories HinduSatyagraha

WEDAKARNA INGATKAN SIKAP RAJA ARAB SENANG SAKSIKAN TARI BALI YANG TERBUKA

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Kadis Kebudayaan Bali, WR III dan Ketua Panitia Saat Menutup Acara Kompetisi Tari Bali IHDN Denpasar

PIDATO SENATOR DI KOMPETISI TARI BALI KAMPUS IHDN DENPASAR

Selama ini ada pandangan yang keliru dalam mengartikan visi nasionalisme di Bali bahwa siapapun warga yang hidup di Bali, maka dianggap mampu menjaga kelestarian budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah, mengingat warga yang tinggal di Bali secara tegas dibedakan menjadi dua kelompok, yakni kelompok adat yang merupakan warga krama Desa Pekraman yang berkuasa diwilayah Parahyangan seluruh wilayah Bali dan warga pendatang ( tamiu atau dauh tukad ) yang tidak memiliki hak dan akses untuk ke wilayah Parahyangan. Dan sehubungan dengan seni budaya Bali, lokal jenius ini secara tegas mengurai hubungan antara nilai – nilai Veda Vedanta Hindu dengan kebudayaan Bali termasuk nilai – nilai tari Bali. Dan akhir – akhir ini cukup kerap gangguan terhadap pakem – pakem tari Bali yang dinilai melanggar etika dan estetika, dan tugas dari akademisi dan praktisi tari Bali harus meluruskan hal tersebut. Demikian ungkap Senator DPD RI utusan Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III disela – sela penyerahan Piala Juara Lomba Kompetisi Tari Bali di Kampus IHDN Denpasar. “ Saya tegaskan hanya orang Bali yang beragama Hindu yang bisa menjadi taksu Bali. Sebagai bagian NKRI siapapun berhak hidup di Bali, tapi untuk urusan menjaga budaya Bali, saya pastikan hanya seorang Hindu Dharma yang benar – benar bisa menjaga taksu Bali termasuk pakem – pakem tari. Maka dari itu ia meminta agar siapapun orang Indonesia agar menghargai pakem tari Bali sesuai dengan swadharmaning pragina dan swadharmaning pegambuhan. Jangan sampai tari Bali dimodifikasi model timur tengah atau kearab – araban misalkan. Ini salah. Begitu juga orang Indonesia  tidak bisa seenaknya merubah pakem  tari Aceh,  tari Papua dan tari Nusantara lainnya. Bhinneka itu menghargai perbedaan, bukan menyeragamkan dan menjadikan agama sebagai pembenar. Saya ingatkan.”ungkap Gusti Wedakarna. Maka dari itu, ia mengingatkan bahwa di Bali pernah terjadi pelecehan sejumlah tari Bali yakni tari Bali yang dimodifikasi model kearab – araban dan juga tari Bali yang dimodifikasi jadi tari cabul atau porno. “ Saya dengan Dinas Kebudayaan Bali, Pemerintah Jembrana dan Pemerintah Tabanan sudah bersinergi menyelesaikan pelecehan tari Bali sesuai aspirasi masyarakat. Saya minta kaum pendatang terutama warga non-adat di Bali agar menghargai tari Bali. Jangan seperti kemarin ada kasus pelecehan tari Bali di Loloan Jembranadan di Meliling Tabanan. Nanti kita akan ada paruman pakem tari Bali didua kabupaten ini termasuk membahas aksi joged porno yang menyasar anak muda Bali. Contohlah Raja Arab ketika berlibur ke Bali. Saat disambut di Airport Ngurah Rai, beliau disambut dengan Tari Bali dengan kostum terbuka sesuai kostum, dan beliau senang – senang saja. Lalu, kenapa pendatang di Bali mencoba untuk merubah pakem ? Sedangkan tamu negara saja sangat memahami hal ini. Nanti saya minta IHDN, ISI, Majelis Adat untuk dapat membuat Pedoman Tari Bali yang baik dan  benar termasuk mengurus Joged Porno. Dan upaya dari IHDN ini sangat baik karena mengajarkan tari Bali sesuai pakem.Terus dan lanjutkan.”ungkap Gusti Wedakarna. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *