Categories BudayaInternasional

WEDAKARNA MINTA GENERASI MILINIAL TIDAK MELUPAKAN AKSI KAUM RADIKAL DI BOM BALI I DAN II

TOLERANSI – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pemprov Bali, Wakil DPRD Bali, Ketua FKUB Bali, Bendesa Agung MUDP dan Dr. Helena Stuttdert ( Konsul General Australia )

SENATOR DI GEMA PERDAMAIAN DAN PERINGATAN TRAGEDI BOM BALI DI KUTA

Aksi biadab 16 tahun yang lalu yakni Bom Bali 2002 kini sudah mulai dilupakan oleh generasi muda bangsa. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi seperti kurangnya wawasan sejarah dikalangan anak muda Bali dan bisa jadi adanya agenda terselubung ( hidden agenda ) yang memang menginginkan bahwa tragedi Bom Bali harus hilang dari memori sejarah bangsa. Banyak pihak merasa malu ketika Bom Bali I dan II dibahas terus menerus  maka dikhawatirkan akan memojokkan kelompok tertentu, terutama leransi aliran garis keras yang memang memiliki agenda mengganti ideologi Pancasila. Demikian diungkap oleh Senator DPD RI, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III disela sela mengikuti acara Peringatan Tragedi Bom Bali yang digelar oleh Yayasan Isyana Dewata yang didukung oleh Konsul General Australia di Kuta. Dalam pandangan Senator Wedakarna bahwa kegiatan rutin yang diadakan oleh Yayasan Isana Dewata patut didukung dan diapresiasi, mengingat kegiatan peringatan tragedi Bom Bali telah diperingati dari tahun ke tahun dengan konsisten. “Mewakili lembaga negara DPD RI, mengucapkan terimakasih atas semua perjuangan Yayasan Isana dan juga itikad baik dari Konsulat Jendral Australia kin yang telah dari tahun ke tahun konsisten memperingati tragedi Bom Bali. Saya sebagai putra Bali berkepentingan agar memori tentang Tragedi Bom Bali I dan II tetap diingat oleh komunitas dunia tidak saja korban dan keluarga, tapi juga oleh generasi milenial. Generasi muda Bali jangan pernah lupa, jika Bali pernah menjadi target sasaran dari kelompok apa yang disebut Bung Karno sebagai kelompok Sontoloyo. Ini harus kita lawan bersama, dan tegaskan bahwa Bali akan tetap digjaya menghadapi tantangan terorisme. Ancaman Bom Bali III dan seterusnya harus diwaspadai, apalagi harus diakui bahwa di Bali banyak terdapat sel sel radikalisme yang kini tertidur. Ini perlu diwaspadai khususnya oleh krama adat Bali. “ungkap Gusti Wedakarna. Selain itu, pihaknya juga mengapresiasi kegiatan Gema Perdamaian yang digagas sejumlah tokoh Bali terus dan konsisten diadakan sebagai wujud ketegasan bahwa Bali mendukung toleransi yang sesuai dengan nilai nilai Pancasilais. “Orang Bali khususnya masyarakat Hindu sebagai mayoritas dalam sejarah tragedi Bom Bali sudah mengajarkan nilai nilai yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, yakni bahwa kebencian bisa dilawan dengan kasih sayang. Justru dunia kini mengenal Bali dengan budaya Hindunya sebagai komunitas hebat didunia yang menerapkan prinsip prinsip ahimsa ( tanpa kekerasan ). Dan tentu, kita bisa melihat bahwa sejak Bom Bali 2002, masyarakat Bali kembali bangkit, krama adat dan desa adat akhirnya bangun ( metangi ) dari tidur panjangnya. Termasuk kewaspadaan ditingkatan grass root menjadi lebih tinggi termasuk bagaimana semakin selektif terhadap pendatang liar. Hikmahnya munculnya istilah “ajeg Bali” pasca Bom Bali yang tidak sengaja telah menyatukan semua perbedaan orang Bali. Dan saya yakin Bali akan tetap menjadi teladan dalam hal kedewasaan menghadap aksi terorisme radikal. Bali adalah tonggak Pancasila di Nusantara karena Bali sudah berpengalam di Bom tapi tanpa dendam.  “ungkap Gusti Wedakarna. Sejumlah hal tertunda yang harus diperjuangkan adalah pendirian Monumen Peace Park di Kuta,, yang saat in masih terkendala sejumlah hal  teknis. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *