Categories Nasional

SHRI ARYA WEDAKARNA MINTA TELEVISI NASIONAL ADAKAN RISET MENDALAM TERKAIT SIMBOL AGAMA SEBELUM TAYANG

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS IIIS Bersama Pejabat ANTV di Jakarta

SENATOR TINDAKLANJUTI DUGAAN PELECEHAN SIMBOL HINDU DI ANTV 

Senator DPD RI asal Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III kembali berada digarda terdepan dalam urusan diplomasi melindungi simbol simbol budaya Hindu Nusantara ditingkat nasinal. Belum hilang di ingatan publik Indonesia tentang masalah penyelesaian pelecehan simbol Hindu dalam tayangan sulap di SCTV melalui mediasi bersama  DPD RI dan KPI Pusat di Jakarta beberapa waktu lalu, kini muncul berita viral tentang dugaan pelecehan simbol Hindu yakni berupa aksara Bali dalam tayangan serial “Kun Fayakun” di ANTV. Publik khususnya umat Hindu Indonesia dikagetkan dengan  penggunaan simbol aksara Bali yang mirip seperti Omkara ( Aksara Tuhan dalam Hindu  ) yang ada dalam sebuah adegan serial tersebut, terlebih aksara yang mirip dengan beberapa huruf suci itu divisualisasikan sebagai bagian jahat dari skenario serial  tersebut. Hal inilah yang diselesaikan oleh Senator Arya Wedakarna melalui pertemuan di Kantor Pusat ANTV di Jakarta, yang dimana kehadiran anggota DPD RI Termuda dari Bali ini disambut langsung oleh Suharto ( Senior Manager Regulatory & Government Affair ) bersama Jajaran Direksi ANTV. Dalam pertemuan tersebut, Senator Arya Wedakarna meminta klarifikasi dari pihak ANTV terkait dengan masalah yang menjadi keberatan umat Hindu ini. “Sebelum hal ini ditangani oleh DPD RI Bali, sebenarnya masalah dan potongan video serial ini sudah lebih awal viral disejumlah media sosial di Nusantara. Kami membaca dan mengamati banyak masukan terkait dugaan pelecehan simbol Hindu ini dan kesimpulannya, diperlukan klarifikais langsung dari pihak ANTV tentang kronologis dan juga informasi tambahan terkait kenapa sampai tayangan ini bisa dianggap menyakiti hati masyarakat Hindu bukan saja di Bali, tapi diseluruh Indonesia. Bagi kami perlu mendengar informasi dua arah.”ungkap Gusti Wedakarna. Dan pihak ANTV pun menyampaikan sejumlah jawaban atas pertanyaan senator, termasuk diantaranya kronologis dan posisi ANTV yang bukan sebagai pihak yang memproduksi langsung serial tersebut, melainkan serial tersebut diproduksi oleh pihak ketiga. Selain itu ANTV juga dihadapan Senator RI menyampaikan permohonaan maaf jika ada komponen masyarakat khususnya umat Hindu yang tersinggung, semua itu semata mata karena ketidaktahuan pihak produksi. Terhadap hal itu, Senator Wedakarna menyampaikan harapannya, agar televise di Indonesia agar lebih banyak mengadakan riset, konsultasi dan juga menggali sumber sumber informasi remis jika menggunakan simbol simbol budaya Hindu dalam tayangan mereka, sehingga tidak terjadi isu SARA yang bisa merugikan kehidupan toleransi di Indonesia. “Saya sudah sampaikan, dengan adanya visualisasi simbol Hindu dalam tayangan Kun Fayakun tadi, seolah olah alur ceritanya ingin membenturkan antara kebenaran dua agama. Sebagai negara yang memiliki dasar negara Pancasila, sudah dipastikan seluruh agama adalah sejajar , baik mayoritas dan minoritas. Jadi jangan sampai simbol budaya asli Nusantara baik rerajahan ( tattoo ), asap dupa, kemenyan, kemben, bunga dan keris dianggap tidak baik oleh golongan golongan tertentu. Ini tidak baik. Kami di Bali, dan sebagian umat Hindu di Nusantara termasuk kejawen masih memakai alat – alat kelengkapan itu dalam upacara dan ritual, Jadi jangan seolah – olah ada benturan ajaran agama agama resmi di Indonesia. Ada 10 juta umat Hindu yang bisa tersinggung. “ungkap Gusti Wedakarna. Sejumlah masukan juga disampaikan oleh AWK yakni 1) Meminta ANTV menyampaikan permohonan maaf kepada umat Hindu yang keberatan. 2) Menjelaskan kedudukan hukum khususnya hak dari umat Hindu baik perseorangan dan kelompok untuk melakukan langkah hukum jika ada kasus kasus serupa yang dilakukan TV Swasta 3) Mempertanyakan sering bergantinya jam tayang serial bernuansa Hindu asal India ( seperti serial Mahakali ) ke jam jam yang kurang strategis. “Setelah pertemuan hari ini, tentu saya selaku anggota DPD RI utusan Bali dan wakil umat Hindu akan memberikan rekomendasi resmi yang ditujukan kepada ANTV dan KPI Pusat. Semoga saja bisa diredam agar tidak meluas. Dan itikad baik dari ANTV untuk mengklarifikasi dan memohon maaf patut dipertimbangkan dan diapresiasi asal tidak mengulangi lagi. “ungkap Gusti Wedakarna. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *