Categories Budaya

ALIRAN POLITIK HINDU DAN KRISTEN HARUS BERPERAN BENTENGI PANCASILA DARI RADIKALISME

KEYNOTE – Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, Bersama DPR RI, Pejabat KPK RI dan tokoh Gereja Kristen serta Caleg dari Lintas Partai di Kapal Mengwi

SENATOR WEDAKARNA BERI PEMBEKALAN PADA CALEG KRISTEN SEBALI 

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasterapura Suyasa III bersama Dr Rufinus Hotmaulana,SH,MH ( Anggota Komisi II DPR RI ) dan Yonathan Femme Tangdilintin ( Pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi / KPK ) hadir dalam acara Pembekalan Caleg Kristen Se-Bali yang diadakan oleh Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia  (GMKI) Bali bertempat di Sinode GKPB Kapal Mengwi. Badung. Tampak hadir dari panitia RJ Vence Sanger,SH ( Ketua PS GMKI ), Pontas H Simamora, SE.Ak MM, CPS ( Tokoh Nasrani ) dan puluhan tokoh Kristen di Bali.  Dalam pertemuan tersebut, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) didaulat menjadi Keynote Speaker dalam acara yang  dihadiri para pendeta, tokoh Kristen dan juga para Caleg DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten / Kota dari lintas parpol. Dalam sambutannya, Dr. Arya Wedakarna menyampaikan sejumlah hal terkait dengan aturan aturan yang harus diikuti oleh partai politik dan juga calon legislatif secara perundang – undangan. “UU Pemilu adalah salah produk legislasi yang sangat dinamis dan selalu disempurnakan dari masa ke masa. Ini salah satu komitmen dari parlemen bersama pemerintah untuk terus menghadirkan pesta demokrasi yang baik. Dan saya menilai produk UU termasuk produk KPU ini sudah semakin ideal. Dan tugas para peserta pemilu baik caleg DPD, DPR,DPRD dan Calon Presiden untuk mematuhi UU dan tentu juga aturan KPU. Disinilah yang disebut sebagai Kedaulatan Di Bidang Politik seperti yang didengungkan Bung Karno. “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan kerjasama politik antar komunitas Kristen dengan komunitas lainnya termasuk komunitas Hindu di Bali, ia mengatakan hal itu merupakan hal yang wajar, karena ada kepentingan yang lebih besar dibanding sekedar kepentingan merebut kursi dan ego sektoral masing masing kelompok yakni eksisnya Pancasila. “Pemilu adalah ajang konsolidasi, bagaimana aliran aliran politik menempatkan dirinya dan juga mencari bentuk kerjasama, dan ketika kita bicara hubungan politik Kristen dan politik Hindu, maka hal itu merupakan hal yang sangat wajar, mengingat kerjasama umat Hindu Indonesia dan juga umat Kristen di Indonesia sudah dilaksanakan jauh sebelum Indonesia Merdeka. Tentu masih ingat dengan sejarah kerjasama tokoh Bali Mr Gusti Ketut Pudja dan tokoh Kristen Indonesia serta kaum nasionalis PNI yang dipimpin Bung Karno saat menentukan ideologi bangsa pada 1945 sebelum Indonesia Merdeka.  Begitu juga saat fusi partai pada 1972, bagaimana kelompok Kristen melebur menjadi partai politik berhaluan nasionalis. Jadi bagi saya kerjasama Kristen dan  Hindu sudah kehendak sejarah, tinggal direvitalisasi setiap zaman. “ungkap Gusti Wedakarna. Dan ia pun berharap Pemilu 2019 semua elit politik memikirkan kepentingan Bali dan mendasari kerjasama politik Kristen dan Hindu. “Saya merasa bahwa semakin kesini, negara ini semakin dirudung berbagai masalah, termasuk ancaman berdirinya negara berideologi agama tertentu. Tentu, umat Kristen dan Hindu sebagai minoritas di Indonesia memiliki kepentingan yang sama yakni menegakkan NKRI dan menolak ideologi garis keras. Dan kerjasama yang paling nyata adalah lewat Pemilu.  Kita akan konkritkan, tidak saja di Bali tapi juga diwilayah lain di Indonesia. Dimana kantong saat Hindu dan Kristen menjadi minoritas, maka disana harus ada kerjasama konkrit. Begitu juga didaerah berbasis Kristen atau berbasis Hindu. Kita terus simulasikan, yang penting Pemilu 2019 berlangsung aman dan damai. ”ungkap Gusti Wedakarna. Langkah konkrit yang bisa diambil dalam jangka pendek adalah dengan melakukan strategi politik cerdas. “Saya ingin mengingatkan pesan Bung Karno bahwa agar anak anak muda Indonesia segera rebut kekuasaan untuk membela kaum Marhaen. Kekuasaan yang didasari pada cinta kasih dan pelayanan, adalah kekuasaan yang diberkati oleh  Tuhan. Hanya lewat politiklah eksistensi agama, budaya dan ideologi bisa terwujud. Dan jadikan ajang Pemilu sebagai wadah kawah candradimuka bagi kaum muda untuk bisa meraih kesempatan menjadi pemimpin bangsa. Semua berhak, apapun latar belakang agama, ras dan suku bangsanya, berhak untuk menjadi pemimpin bangsa. Semua demi NKRI”ungkap Gusti Wedakarna yang kini menjadi Caleg Nomer Urut 42 di Pemilu DPD RI 2019 ini.  Sebelum menutup sambutannya, Senator Termuda dari Bali yang juga peraih 178.934 suara tertinggi di Pemilu Bali 2014 ini, memberikan sejumlah pengalaman dan pandangannya, agar caleg lintas partai sukses meraih suara di Pemilu 2019, tentu dengan didasari kampanye yang no hoax, no sara dan no money politic.( humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *