Categories BudayaHindu

PERTAHANKAN BUDAYA DAN NILAI KARAKTER LELUHUR LEWAT KB BALI 4 ANAK

HADIRI PERNIKAHAN I DEWA GDE MARTANA YASA, S.SOS DENGAN NI LUH ADE HERAWATI, S.SOS DI DESA PUPUAN , TEGALLALANG GIANYAR

Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, S.E (MTRU), MSi terlihat menghadiri Acara Pawiwahan, I Dewa Gde Martana Yasa, S.Sos dengan Ni Luh Ade Herawati, S.Sos di Br. Calo Desa Pupuan Kecamatan Tegallalang Gianyar. Kedatangan Gusti Wedakarna disambut baik oleh kedua mempelai beserta keluarga. Pada kesempatan tersebut. melalui I Dewa Gde Martana Yasa, S.Sos secara pribadi dan atas nama keluarga sangat berterima kasih atas kedatangan Gusti Wedakarna  untuk  menghadiri pawiwahan yang sangat sederhana ini.” Kata Martana Yasa Sejumlah pembahasan turut mewarnai kesempatan tersebut. Didampingi mempelai, Gusti Wedakarna menyampaikan bahwa Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah kondisi sejumlah anak muda di Bali yang saat ini kian terkikis dan terdegradasi akan nilai-nilai kebudayaan dan karakter leluhur. “ Bagaimana Bali terbangun lebih besar, apabila dihadapkan dengan kondisi domestik seperti ini. Tentu hal itu akan menjadi sebuah tantangan bagi kita sebagai warih untuk segera mengisolir agar kita tidak terus tergerus oleh permasalahan yang sama.” Kata Wedakarna. Sementara itu sebelum beranjak meninggalkan acara, Gusti Wedakarna mengucapakan selamat atas pernikahan I Dewa Gde Martana Yasa, S.Sos dengan Ni Luh Ade Herawati, S.Sos semoga kelak keduanya dikaruniai anak suputra oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang nantinya akan menjadi pemimpin Bali dimasa mendatang. Ia juga menyampaikan agar keduanya tetap saling menjaga satu sama lain sebagai pasangan suami istri dan menjalankan bahtera rumah tangga sebagai suatu dharma yang berpegang tegung pada konsepsi Hindu seperti apa yang diajarkan oleh Weda. Tak lupa ia memesankan  kepada kedua mempelai agar melestarikan KB Bali minimal dengan 4 anak. Yang mana  juga merupakan bagian dari konsep atau filosofi Catur Warna dalam Hindu (Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra) dan dengan menerapkan KB minimal 4 anak bertujuan merubah paradigma penerapan KB 2 Anak yang cenderung telah menjadi bagian dari hegemoni masyarakat adat kita. Saya berharap ada sebuah regulasi khusus yang dilakukan untuk merubah hegemoni tersebut di Bali dengan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan tradisi leluhur sehingga nantinya krama adat di Bali tetap konsisten menjalankan tradisi tersebut.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *