Categories HinduSatyagraha

GUSTI WEDAKARNA MINTA PEREMPUAN HINDU TIRU SIFAT MILITAN “RATU JODHA”

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Dr. Ni Putu Winanti, MPd ( Ketua Panitia Seminar Gender ) Di Kampus S2 IHDN Denpasar

SEMINAR GENDER DI PASCA SARJANA IHDN DENPASAR

Siapa yang tidak kenal dengan Ratu Jodha, permaisuri dari Raja India Jalaluddin Akbar dari kerajaan Islam Moghul yang dikenal sebagai ratu Hindu yang sangat berpengaruh di India. Saat itu, sebelum kolonial Inggris masuk India, kerajaan Moghul menguasai tanah Bharata yang mayoritas beragama Hindu dan ketokohan Ratu Jodha kini menjadi teladan bagi  hampir 1,1 Milyar Hindu Dunia. Dan banyak peneliti menyatakan bahwa kepemimpinan Ratu Jodha adalah bagian terpenting dari kesetaraan gender didunia saat itu. Demikian sebagian isi materi yang dibawakan oleh President The Hindu Center Of Indonesia Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III di Kampus S2 Institut Hindu Dharma Negeri ( IHDN ) Denpasar. “Ratu Jodha adalah Ratu Hindu yang sangat kuat. Ia menolak untuk pindah agama walau bersuamikan seorang Sultan. Ia seorang Rajput (Hindu Dharma), ideologinya dalam. Bahkan Ratu Jodha mampu merubah Istana Moghul yang suram menjadi Istana yang penuh warna dan harum dengan asap dupa dari budaya Hindu. Ratu Jodha bahkan berhasil mendirikan sebuah Altar Sri Krisna di Istana Moghul yang dikenal ketat dengan ajaran Islam. Disinilah sebenarnya toleransi antara Raja dan Ratu India dimulai, termasuk karena pengaruh Ratu Jodha, aneka rupa pajak yang dibebankan kepada orang Hindu untuk berdoa dipura juga dibebaskan. Gerakan kesetaraan Gender ini sangat menginspirasi dunia”ungkap Gusti Wedakarna. Lalu bagaimana dengan di Bali ?. “Saya paling bangga dengan Bali karena hanya agama Hindu Bali yang secara tegas memberikan peran tertinggi pada perempuan untuk menjadi pendeta dan Sulinggih. Hal ini tidak bisa ditemukan diagama lainnya yang lebih menolak posisi pemimpin agama pada perempuan. Tapi di Bali, Sulinggih Perempuan sudah mendapatkan tempat sejajar. Prestasi  lainnya dengan munculnya pandangan – pandangan baru terhadap budaya Bali sangat membantu emansipasi perempuan seperti sistem perkawinan nyentana, pade gelahang, pembagian hak waris  terhadap perempuan dan juga peran perempuan di Wanita Hindu Dharma ( WHDI ) sudah sangat signifikan. Kalaupun ada yang mengganjal, hanya peran perempuan Bali disistem Desa Pekraman yang perlu kita dorong. Tapi semua harus memaklumi juga karena sistem budaya Bali adalah sistem Patrilinial, sistem ayah ( purusa ) dan pakem ini juga tidak bisa dilanggar begitu saja.”ungkap Gusti Wedakarna. Ia pun berharap kepada IHDN agar mampu menjadi institusi pendidikan Hindu yang kuat dan menjadi teladan di Nusantara. “Nama besar IHDN sudah sangat berpengaruh. Saya dorong agar segera IHDN ini menjadi UNHI Negeri Jaya Pangus. Pusat sudah sangat mendukung. Kementerian Agama RI, Kementerian PAN RB RI, Bappenas, DPD RI wakil Bali  sangat mendorong agar sukses program pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sekarang tinggal inisiatif Pemkab Bangli saja agar mau serius. Semua harus optimis.”ungkap Gusti Wedakarna yang mantan Rektor Universitas Mahendradatta Bali ini (humas).

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *