Categories BudayaHinduSatyagraha

SOSIALISASIKAN PIAGAM TANTULAR, WEDAKARNA MINTA UMAT WASPADA GERAKAN RADIKALISME BERJUBAH EKONOMI

SATYAGRAHA – Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS saat diundang oleh semeton Arya Dauh Bala Agung dan Arya Kebon Tubuh

HADIR DI ARYA KEPAKISAN DAUH BALA DAN ARYA KEBON TUBUH

Tokoh muda Bali yang juga Senator DPD/MPR RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III terus menggelorakan pentingnya kebersatuan umat Hindu Dharma dalam menghadapi persaingan  globalisasi terutama gerakan radikalisme yang sudah  menyasar pulau Bali. Ia berpendapat bahwa radikalisme bukan hanya sekedar wujud teroris yang meledakkan Bom sebagaimana Bom Bali I dan Bom Bali II, tapi radikalisme sudah memakai jubah politik, ekonomi, pariwisata dan juga pendidikan. Dan untuk mempertahankan Bali sebagai salah satu pilar utama dari Pancasila, Senator Arya Wedakarna menyampaikan pentingnya ketahanan krama adat Bali khususnya dalam menghadapi musuh – musuh Bali. Demikian diungkap Shri Arya Wedakarna disela sela menghadiri karya di Semeton Arya Kepakisan Dauh Bala Agung di Sibetan Karangasem dan karya Semeton Dewa Yadnya di Yeh Embang Kangin, Mendoyo Jembrana. Selain mensosialisasikan Piagam Tantular, ia juga memberi pesan agar warga Desa di Bali untuk terus menerus menggelorakan Satyagraha Bali yakni bagaimana Bali bisa berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya sebagai konsep Tri Sakti Bung Karno. “Semeton Hindu Bali harus waspada, bahwa saat ini ada gerakan radikalisme berbungkus ekonomi. Mereka sudah ada di Bali, dan punya tujuan jahat yakni menguasai Bali dengan cara penguasan tanah, property, bisnis keuangan serta sektor riil. Caranya sangat halus, dan mereka dibiayai oleh lembaga keuangan yang berjaringan internasional dan juga punya misi yang anti Pancasilais. Maka dari itu, kita bentengi dengan Gerakan Ekonomi Satyagraha, gerakan mandiri berdikari dengan memberdayakan ekonomi kerakyatan. Ini pernah dicontohkan oleh Mahatma Gandhi saat menghadapi penjajah asing di India, dan gerakan ini menginspirasi ASIA dan Afrika, termasuk menginspirasi Bung Karno saat mencetuskan Konfrensi Asia Afrika demi kedaulatan. Walau skupnya lebih kecil mempertahankan Bali, tapi semangatnya kita tiru. Bagaimana mengatur 3,7 Juta umat Hindu di Bali agar mereka kreatif, bisa bersaing dan juga menguasai segala bidang kehidupan. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun secara apa adanya menyatakan  bahwa ketertinggalan umat Hindu di Bali saat ini akibat kebijakan  pemerintah pada rezim masa lalu, termasuk sisa sisa status quo pada rezim saat ini. “Jika saya ditanya, siapa yang paling bertanggungjawab terhadap kondisi tertinggalnya umat Hindu dalam persaingan ini, tentu yang paling bersalah adalah pemerintah. Kenapa ? Karena pemerintah diberikan wewenang tinggi oleh Tuhan melalui kekuasaan eksekutif untuk bisa mengatur hajat hidup orang banyak. Penjualan tanah di Bali, karena ada pemimpin rakus. Maraknya obral izin hotel hotel di Bali juga akibat ada pemimpin korup. Begitu juga pasar pasar didesa dikuasai oleh tamiu dan juga jaringan minimarket, itu akibat pemimpin didesa kurang selektif terhadap pendatang dan gampang memberikan izin sehingga daya saing krama adat menjadi lemah. Jadi yang salah adalah pejabat dan semeton kita. Maka dari itu ngiring mulat sarira, dan berbenah dari dalam . Tiang optimis, apa yang sudah hilang, akan bisa direbut kembali. Itu karakter Bali yang sesungguhnya. Ngiring jengah lan metangi. “ungkap Wedakarna. Iapun memberikan semangat kepada warih semeton dimanapun, apapun wangsa dan warnanya, untuk ikut membangun SDM dadia, panti, kawitan agar misi untuk membanggakan leluhur bisa tercapai. “Wangsa Bali bisa maju hanya lewat jnana. Hanya lewat pengetahuan maka budaya kita akan bertahan.”pungkas Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia niki. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *