Categories BudayaHinduSatyagraha

SHRI ARYA WEDAKARNA YAKIN KEDEPAN GENERASI MILENIAL TERDEPAN SEDERHANAKAN UPAKARA HINDU

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Membawa Misi Sosialisasi Piagam Tantular di Desa Kusamba Klungkung dan di Desa Mas Gianyar

SAMBANGI RIBUAN WARGA KUSAMBA KLUNGKUNG  DAN MAS UBUD

Save energy ! dua kata yang selalu didengungkan oleh tokoh muda Hindu Indonesia yang juga Senator DPD RI Utusan Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendadatta Wedasteraputra Suyasa diberbagai kesempatan menghadiri undangan adat diseluruh di Bali. Kharisma Shri Arya Wedakarna begitu membius ribuan krama adat yang mendengar dharma wacana yang selalu berisi dengan nasihat nasihat positif untuk kemajuan agama Hindu terutama bagaimana peran generasi muda untuk menghadapi tantangan Bali kedepan. Hal ini terekam saat Shri Arya Wedakarna hadir di Desa Adat Kusamba, Klungkung dan karya Yadnya di Desa Mas Ubud, Ginyar. Wedakarna kembali menekankan perlunya perubahan besar besarnya dalam mindset umat Hindu dalam menjalankan tradisi dan agamanya, dan mengingatkan bahwa kebudayaan itu selalu menyesuaikan diri dengan kondisi zaman, namun tanpa melupakan esensinya. “Ada rasa kebahagiaan tersendiri ketika tiang datang berkunjung keseluruh Bali, bertemu dengan tetua tetua adat yang sebagian besar sudah segaris dalam pemikiran kesederhanaan upacara di Bali. Jika dulu citra sederhana itu hanya disematkan didesa desa di Jembrana dan Buleleng saja, tapi sekarang kesederhaan sudah merasuki Gianyar, Badung, Denpasar, Karangasem dan Klungkung. Jika daerah daerah tua ini sudah melaksanakan ngaben missal, metatah missal, dan kesederhaan upacara dan efisien, maka saya anggap misi Satyagraha Hindu ini sudah berhasil. Sederhana yang tiang maksud bukan menghilangkan bebantenan atau upacara, tapi semua tetap dilaksanakan dengan talak ukur, parameter, kemampuan kaum marhaen, efisien dari biaya dan juga waktu. Dalam agama Hindu, yang tidak bisa dirubah hanya Kitab Suci Weda dan tentu budaya, dresta, raja purana termasuk Rsi Purana pun bisa dirubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kehebatan Hindu itu adalah tidak pernah  memaksa umatnya dan pasti Hindu bukan agama dogma. Hindu memberikan kemerdekaan dalam Panca Sradha. Ini segaris dengan nilai Pancasila.“ungkap Gusti Wedakarna. Iapun meminta kepada semua pihak di Bali, baik puri dan griya untuk mendukung reformasi Hindu ini, karena jika tidak maka eksistensi tokoh tokoh Hindu akan tenggelam khususnya digenerasi milenial ini. “Coba para penglingsir sekali kali  tedun, turun kebawah, kini generasi muda Hindu di Bali sangat menyukai perubahan cepat. Perhatikan materi pembicaraan mereka selalu selangkah lebih maju.Saya rasa jika ada orang tua di Bali masih kolot, kedepan tokoh ini akan kehilangan respek. Anak muda Hindu kini bisa belajar mantra, pengetahuan Weda dari handphone dan gadget yang mereka miliki, dan Jnana mereka disatu sisi berkembang dengan adanya teknologiw walau harus diarahkan juga.  Maka itu saya ajak agar tokoh didesa, jangan kaku,  ikuti arus dan dukung perubahan agar Hindu Dharma kedepan  menjadi besar bukan karena ritual semata, tapi besar karena umat Hindu sejahtera,kaya artha dan penuh Jnana. Ini strategi Satyagraha agar Hindu tidak hancur seperti zaman kerajaan Majapahit dulu. Ngiring Jas Merah, belajar dari kesalahan masa lalu. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga Pesident The Hindu Center Of Indonesia. Iapun mengutip gubahan Kitab Suci Bhagawad Gita yang ditulis oleh Prof.Ida Bagus Mantra ( alm ) saat beliau kuliah di India,  yang dimana ada sloka menyebutkan Maha Awatara Sri Krisna berbicara bahwa tradisi yang kolot harus dihancurkan dan agar umat di zaman Kali Yuga mengutamakan Jnana dalam mengitari hidup. “Salah satu cara agar Hindu Bali bertahan, tiang minta seluruh semeton apapun warihnya, baik Dalem, Arya, Bhujangga, Pasek, Bali Mula dan sebagainya agar segera melahirkan ( embas ) Sulinggih. Dengan semakin banyak sulinggih maka umat punya pilihan untuk mencari yang sederhana. Semua sulinggih adalah surya, apapun trah dan wangsanya.Astungkara, fenomena ini dilaksanakan perlahan tapi pasti. “ungkap Shri Wedakarna yang juga putra salah satu pendiri PHDI Bali, Shri Wedastera Suyasa ini. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *