Categories BudayaHindu

SHRI I GUSTI NGURAH ARYA WEDAKARNA INGATKAN KB BALI 4 ANAK DEMI EKSISTENSI UMAT HINDU BALI

Foto – Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (Anggota DPD/MPR RI) Bersama Mempelai Anak Agung Gde Wirayuda Pratama, ST dengan dr. Kadek Ary Mahendri Pattni 

HADIRI PAWIWAHAN KELUARGA PURI AGUNG SERONGGA GIANYAR

Menyama braya Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III anggota DPD / MPR RI utusan provinsi Bali menghadiri pawiwahan Anak Agung Gde Wirayuda Pratama, ST dengan dr. Kadek Ary Mahendri Pattni yang bertempat di Puri Agung Serongga jalan Sakura No. 22 Serongga Kabupaten Gianyar. Kehadiran salah satu Senator muda asal Bali di Republik Indonesia yang terkenal dengan ketegasan dan ketidakkompromiannya terhadap gangguan yang menyangkut eksistensi budaya dan adat istiadat Bali mendapat respon sangat baik dari pihak keluarga yang mengaku senang dengan kedatangan Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna di tengah-tengah kesibukannya sebagai anggota DPD RI yang cukup aktif hadir mengakomodir persoalan-persoalan di masyarakat. Kehadiran Dr. Shri Wedakarna semakin melengkapi kebahagian dua pasangan tersebut dihari yang bersejarah bagi mereka hal itu terpancar jelas diwajah dua sejoli yang sudah memasuki masa grahasta. Selamat kepada pasangan A. A. Gde Wirayuda dan Kadek Ary Mahendri yang sudah memasuki babak baru dalam kehidupan, sudah menjadi kesatuan yang tak terpisahkan dan harus saling mengisi, melengkapi satu sama lain. Perdebatan pasti ada, tantangan kedepan tentu juga lebih berat tetapi jangan sampai menjadi hambatan untuk kalian saling menyayangi dan  mengisi satu sama lain saling melengkapi kekurangan masing-masing. Dan yang terpenting setelah sudah menikah jangan lupa kepada orang tua agar tidak tulah, orang tua tetap diperhatikan, jangan sampai alasan sibuk kerja dan sibuk mengurus rumah tangga menjadi alasan kita tidak memperhatikan orang tua kita, baik orang tua Wirayuda maupun orang tua Kadek Ary,” jelas Dr. Shri Wedakarna. Jangan lupa pesan saya yang paling penting dan harus di ingat oleh kalian berdua lestarikan KB Bali 4 anak, save Nyoman dan Ketut. Hal itu penting kita lakukan untuk menjaga eksistensi budaya Hindu Bali. Kalau orang Bali tidak memiliki 4 anak bisa-bisa kedepan Nyoman dan Ketut bisa hilang karena tidak ada anak ketiga dan keempat. Bukan tanpa alasan orang Hindu Bali harus mempunyai anak empat siapa lagi yang akan menjaga Pura-Pura kita kalau hanya memiliki anak dua, apalagi disekolah tinggi-tinggi atau bekerja jauh diluar kampung halaman. Didalam agama Hindu dikenal dengan Catur Warna empat pembagian dalam kehidupan, punya anak pertama (Brahmana) suruh diam dirumah tugaskan untuk menghadiri kegiatan-kegiatan di Pura, anak kedua (Ksatria) tugas kan kirim untuk rapat-rapat di banjar, desa dan lainnya, anak ketiga (Waisya) dan keempat (Sudra/asisten) sekolahkan tinggi-tinggi kirim ke luar negeri untuk bekerja dan tinggal kirimkan uangnya kekampung sehingga semua dapat berjalan dengan baik,” tambah AWK sapaan akrab Dr. Shri Wedakarna.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *