Categories HinduNasional

INGATKAN SABDO PALON NAYOGENGGONG, WEDAKARNA TEGASKAN KALIMANTAN DAHULU BAGIAN HEBAT DARI SEJARAH MAJAPAHIT

SATYAGRAHA – Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Prof Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil (Rektor IAHN Palangkaraya), Prof I Nyoman Sudyana (Ketua PHDI Kalteng) dan saat bersama di Pura Pitamaha Palangkaraya

SENATOR TINJAU “IAHN” KAMPUS HINDU TERBESAR DI REPUBLIK 

Pemikiran kritis disampaikan oleh Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III saat bertemu dengan masyarakat Hindu Kalteng di Wantilan Pura Agung Pitamaha Palangkaraya Kalteng, yakni pemikiran bahwa umat Hindu suku Bali sebagai mayoritas di Indonesia, agar mulai menahan diri dan terus menguatkan pengayoman terhadap umat Hindu native asli suku lokal di luar Bali. Senator Wedakarna mengingatkan agar umat Hindu Bali stop melakukan gerakan Balinisasi alias mempengaruhu umat Hindu non – Bali baik dari hal ritual, arsitektur Pura dan juga istilah istilah agama, mengingat gerakan Balinisasi ini justru akan mengkerdilkan gerakan Hindu Nusantara yang kini mulai membesar. Dan apresiasi terhadap keberadaan Hindu Dayak Kaharingan yang merupakan salah satu komunitas besar di Provinsi Kalimantan dan berharap secara kuantitas dan kualitas terus meningkat di masa depan. “Saya ingatkan 500 tahun yang lalu, ada sebuah babad akademis yang bernama Serat Dharmo Gandul, yang berisi dialog terakhir antara Penasihat Sabdo Palon dan Nayogenggong terhadap Raja Majapahit Brawijaya V. Sebagian umat Siwa Budha Nusantara meyakini bahwa ramalan Sabdo Palon akan terjadi pada abad 21 ini. Buktinya saja, bagaimana umat Hindu di Kalteng, baik Hindu Bali, Hindu Jawa, Hindu Dayak berhasil menjadikan Pura Agung Pitamaha Palangkaraya sebagai Pura Padma Buana Nusantara bahkan menjadi Pura tepat di tengan titik Nusantara. Ini bukan sebuah kebetulan, ini merupakan sebuah karma wesana, kehendak sejarah dan leluhur yang menggerakkan. Maka dari itu saya berpesan, bersatulah Hindu Kalteng. Saya ingatkan bahwa Hindu Bali dan Hindu Jawa adalah tamu di tanah Dayak, semua wajib hormat dan tunduk pada semesta Kalimantan, jangan merasa superior, tapi ayomi semua dan bersinergilah dengan Hindu Kaharingan. “ungkap Wedakarna yang juga Wakil Ketua Umum DPP Prajaniti ini. Hal senada ia sampaikan di Kampus Institute Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah  didampingi oleh Prof Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil (Rektor IAHN), Senator Wedakarna memberikan semangat pada ratusan civitas akademika IAHN dan juga memuji prestasi Rektor yang telah berjuang bersama Menteri Agama, Dirjen Bimas Hindu dan parlemen untuk mewujudkan kenaikan status untuk STAH menjadi IAHN. “saya ingat perjuangan beliau Prof Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil (Rektor), beliau datang ke Bali pagi – pagi menghadap saya untuk meminta rekomendasi dari DPD RI dan dalam sehari rekomendasi keluar dan sore sudah ke Jakarta menghadap Kementrian. Bertahun tahun proses dan akhirnya 2018 berhasil lewat turunnya Keputusan Presiden Joko Widodo. Saya matur suksme sanget pada Presiden yang telah pro terhadap Hindu walau minoritas. Kedepan saya targetkan, setelah semua target program S2, S3 di buka dan juga syarat akademik dipenuhi, kurang 10 tahun dari sekarang, IAHN harus menjadi Universitas Hindu Negeri. Bersama sama dengan IHDN Denpasar menjadi Universitas Negeri Hindu Jaya Pangus. Harus semangat nggih. Tugas Tiang jaga gawang dan goalkan di Senayan. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga mantan Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Bali ini. Saat memberikan arahan di Kampus IAHN, Senator Wedakarna meminta agar IAHN segera membuka program studi ilmu umum seperti Fakultas Ekonomi, Teknik, Hukum agar lebih banyak segmentasi bisa kuliah di IAHN, dan hal itu memungkinkan secara aturan dan UU. “saya usulkan dirikan The Center Excellent Of Hindu Kaharingan di IAHN ini, sehingga ada spesialisasi agar agama Hindu Kaharingan bertahan. Selain itu saya usulkan pendirian Inkubator Bisnis di kampus IAHN, untuk melatih seluruh mahasiswa menjadi pengusaha entreneur. Ajukan saja anggaran ke Pusat, saya bantu. Intinya lulusan IAHN jangan sekedar menjadi guru agama, penyuluh dan pegawai, tapi membuka kesempatan menjadi lapangan pekerjaan lewat ekonomi Satyagraha. “ungkap Dr. Arya Wedakarna yang pernah menjadi Rektor Termuda di Indonesia pada usia 28 tahun di tahun 2008 silam. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *