Categories InternasionalSatyagraha

TERIMA PRODUSER FILM SINGAPURA WEDAKARNA KENALKAN KONSEP FILM “BALIWOOD”

Satyagraha – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna didampingi Enong Ismail dan Duta Besar India di Istana Mancawarna (atas) dan Shri IGN Bhisma Vedanta Wismakarma S Wedakarnaputra Suyasa IV saat penutupan 16th BIFFest 2018 di Wantilan DPRD Bali

RIBUAN ANAK MUDA IKUTI 16TH BALI INTERNATIONAL FILM FESTIVAL

Konsep ekonomi kreatif untuk menjadikan Bali sebagai pusat perfilman dunia yang digagas 16 tahun lalu sejak tahun 2002 oleh Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III kini terus digencarkan oleh para penggiat film khususnya generasi milenial. Adapun yang mendasari hal ini adalah bagaimana menjadi Bali yang dikenal sebagai world class tourism destination juga menuai manfaat dari industri film dunia. Salah satunya adalah menjadikan Bali sebagai lokasi pembuataan film yang mampu sejajar dengan negara negara asing lainnya. Cita cita ini disampaikan di Istana Mancawarnawa Tampaksiring saat Dr Arya Wedakarna menerima delegasi produser film asal Singapura yang dipimpin Richard Wan dan Ambassador Gauri Shankar Gupta ( diplomat asal India yang pernah bertugas menjadi Duta Besar di Budapest, Hungaria.) “Cita cita menjadi pusat film dunia adalah cita cita besar yang ingin dicapai sejak bertahun tahun lalu. Jika pemerintah serius menggarap brand Baliwood sebagai pusat film dunia, maka banyak manfaat yang bisa diraih masyarakat, termasuk manfaat ekonomi. Secara logika, sekali ada film dibuat di Bali, maka Bali secara tidak langsung akan dipromosikan. Dinegara negara besar, bahkan pemerintahnya rela menjadi produser dan membiayai pembuatan film dari Holywood atau Bollywood demi mendapatkan pangsa pasar cerdas. Pemerintah Pusat terutama Direktorat Film belum cerdas menanggapi hal ini. Harus ada namanya Inisiatif Indonesia agar bisa memperkenalkan Indonesia dan Bali sebagai pusat film. Promosi dan kerjasama antar negara itu adalah mutlak.”ungkap Dr Arya Wedakarna yang juga Senator DPD RI . Iapun meminta kepada generasi muda Bali agar mereka bisa menguasai pangsa pasar dunia film dan music agar bisa menjadi tuan dirumah sendiri, mengingat pangsa pasar premium di Bali saat ini justru dikuasai oleh asing. “Bali adalah landscape utama dan pulau dengan infrastruktur kelas A dalam urusan film, digital dan juga venue. Tapi sayang, yang menguasai bukan semeton Bali dan ini menyedihkan. Padahal pangsa pasarnya menjadi jutaan dolar pertahun. Saya ingin kedepan anak anak muda Bali yang jago seni peran, seni suara dan seni music agar fokus dipendidikan khusus film, jika perlu tuntut ilmu hingga master dan doctor film dinegara sahabat. Selain itu, anak muda yang jago computer, pintar editing termasuk dalam hal teknologi digital, agar kuasai dunia Production House. Miliki PH, dan kuasai dunia marketing digital sehingga Bali akan dikenal sebagai pusuat advertising dengan talent dan SDM luar biasa. Ini harus diperkuat dengan regulasi dari pemerintah. Kita akan rancang itu. “ungkap Gusti Wedakarna. Dalam waktu dekat pihaknya akan merespon sejumlah tokoh film lintas negara untuk mendirikan Akademi Film Baliwood sebagai pusat dan institute film pertama di Bali yang akan membawa nama Bali kenasional dengan memberdayakan SDM dibidang industri film. Secara umum, pelaksanaan 16th Royal BIFFest 2018 telah terlaksana disejumlah tempat yakni di Kampus Universitas Mahendradatta, Kampus STPBI, Kantor DPD RI, Wantilan Desa Saba Gianyar dan Wantilan Gedung DPRD Bali dengan melibatkan ribuan movie lovers dari berbagai kalangan. Acara penutupan BIFFest dilaksanakan oleh Shri IGN Bhisma Vedanta Wiswakarma Wedakarnaputra Suyasa IV mewakili Swadeshi Bali Foundation.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *