Categories BudayaHindu

GUSTI WEDAKARNA INGATKAN KRAMA ADAT DIBALI GELORAKAN PENYEDERHANAAN UPACARA

Foto – Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III( Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali Menghadiri Upacara Ngaben Masal di Desa Pakraman Banjar Anyar Baturiti Tabanan

HADIRI UPACARA NGABEN MASAL DI DESA PAKRAMAN BANJAR ANYAR BATURITI TABANAN

Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, kembali menyempatkan  waktu untuk tetap menyama braya ke khalayak krama adat Bali. Hal ini dapat dilihat saat dirinya menghadiri upacara ngaben massal di Desa Pakraman Banjar Anyar Desa Perean Kangin Kec. Baturiti, Kabupaten Tabanan.Didampingi I Wayan Sumerta yang merupakan Bendesa Adat Desa Pakraman Banjar Anyar beserta prajuru yang hadir, Gusti Wedakarna menyempatkan diri untuk meninjau sejumlah sawa sekaligus bertatap sapa kepada masyarakat yang juga hadir untuk melaksanakan upacara. Pada kesemoat tersebut I Wayan Sumerta melaporkan bahwa kegiatan ngaben masal kali ini dilaksanakan mulai tanggal 3 Desember 2018 hingga 21 Desember 2018 dengan jumlah 27 sawa. Ditambahkan Sumerta, untuk biaya peserta Ngaben sendiri dibebankan Rp 3.500.000/sawa.

Menanggapi hal itu, Gusti Wedakarna memberikan apresiasi atas sikap yang dilakukan Desa Pakraman Banjar Anyar dan dirasa cukup berkontribusi dalam meminimalisir dan meringankan beban krama adat. Menurutnya, apa yang dilakukan krama adat Banjar Anyar merupakan sikap revolusioner untuk tetap mempertahankan eksistensi umat Hindu di Bali yakni dengan gotong royong dan melakukan penyederhanaan upacara tanpa mengurangi makna yang tersirat dalam upacara tersebut. “ Saya merasa bahwa melaksanakan upacara secara bersama-sama atau massal tidak ada salahnya, walaupun upacara sederhana asalkan didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas tentu itu merupakan yadnya yang utama. ” Ungkap Wedakarna

Lebih lanjut, ia menambahkan “ bahwa menyelenggarakan yadnya dengan cara penyederhanaan jauh lebih baik daripada satu upacara dilaksanakan sendiri  dengan kemewahan namun di akhir upacara meninggalkan hutang. Justru penyederhanaan upacara yang dilakukan krama desa banjar anyar harusnya dicontoh oleh krama adat yang lain mengingat Ida Sang Hyang Widhi tidak pernah menuntut umatnya mewah atau tidaknya sebuah yadnya justru hal yang paling utama adalah menyampingkan sikap gengsi dan lebih mendahulukan sebuah ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankan ajaran dharma.” Jelas Wedakarna yang juga merupakan putra salah satu tokoh pendiri PHDI

Politisi muda ini juga menjelaskan bahwa saat ini ia tengah mengkampanyekan hal yang sama keseluruh Umat Hindu Bali yakni tentang bagaimana Umat Hindu di Bali melakukan penyederhanaan melalui konsep satyagraha, bayangkan saja, ketika kemewahan dalam upacara dilakukan dengan anggaran yang cukup fantastis tentunya memberatkan dan meyulitkan krama atau umat sedharma kita yang lain. Daripada kegiatan itu dibangun dengan hal yang terlalu mewah lebih baik dipergunakan untuk tabungan abadi disetiap desa yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk mendongkrak sektor pembangunan perekonomian krama adat kita khusunya anak-anak muda kita di Bali.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *