Categories Budaya

ARYA WEDAKARNA DUKUNG SUBAK DIPERKOTAAN SUSUN PETA WILAYAH DAN BANGUN “JOGGING TRACK”

MARHAENIS – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Di Subak Margaya Pemecutan Kelod dan Subak Delod Sema Sading Badung

SENATOR RI KUNJUNGI SUBAK SADING DAN SUBA MARGAYA PEMECUTAN

Atas undangan dari sejumlah krama subak, Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III hadir di dua subak yang kini terancam dengan adanya alih fungsi lahan, yakni Subak Delod Sema Sading Badung dan dan Subak Margaya Desa Pemecutan Kelod Denpasar. Saat kunjungan ke Subak Delod Sema Sading Badung, Senator Wedakarna diterima oleh I Made Suka ( Majelis Subak Badung ), I Gede Adnyana ( Ketua Pekaseh ), IB Made Manubawa ( Kantor Camat Mengwi ) dan Ketut Sudiarsa ( Bendesa Adat Sading ) sedangkan saat di Subak Margaya Pemecutan Kelod Denpasar, Senator AWK diterima oleh AA Ngurah Made Wijaya ( Camat Denbar ), I Wayan Tantra ( Perbekel Pemecutan Kelod ), Kariadi ( Dinas Pertanian Kota Denpasar ), dan Nyoman Ariantha ( Ketua Pekaseh Subak Margaya ) dan puluhan petani / penggarap subak. Dalam dialog dengan petani itu, Senator Wedakarna menyadari bahwa kedepan tantangan warga masyarakat di Bali khususnya Majelis Subak akan semakin berat, terutama godaan materi yang bisa menyebabkan alih fungsi lahan dan kedepan perlu proteksi dari sistem adat dan aturan pemerintah untuk melindungi keberadaan Subak sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO. “Khusus di Delod Sema Sading Badung, Subak ini masih memiliki kurang lebih 80 hektar tanah dengan sekitar 100an anggota subak. Wilayah Badung Utara kini menghadapi tantangan besar, arus urbanisasi dan juga tingginya kebutuhan masyarakat, menyebabkan masyarakat tidak segan menjual lahan sawahnya. Dan kini perlu adanya potensi ekonomi kreatif untuk meningkatkakn kesejahteraan petani. “ungkap Gusti Wedakarna. Begitu juga saat langsung meninjau keberadaan areal Subak di Pemecutan Kelod, Senator Arya Wedakarna menyampaikan dukungan terhadap niat dan rencana dari warga Subak di Margaya untuk bisa meningkatkan potensi sumber daya subak termasuk memberikan masukan untuk menciptakan ikon baru diatas sekitar 100 hektar lebih ini. “Subak Margaya ini adalah benteng terakhir sawah diperbatasan Denpasar dengan Kuta Badung. Siapa sangka ada lahan seluas 100 hektar ditengah segitiga emas Denpasar, dan ini tentu memberikan semangat bagi kaum marhaen. Dan syukurlah dengan adanya program Prona dan PTSL dari Pemerintah Presiden Joko Widodo, kini tata agrarian tanah di Bali sudah semakin rapi, termasuk menyelamatkan tanah rakyat. Dan kini jika ada ide untuk membuat semacam destinasi agrotourism maka saya sangat mendukung. Termasuk juga menolak jika ada lahan lahan produktif subak dirubah statusnya jadi LC. Kita tidak mau lahan di Bali beralih fungsi menjadi hutan beton. Jika serius memperhatikan kaum Marhaen, harusnya subak dapat perhatian. Ini bagian dari perjuangan Satyagraha“ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan Program Subak Delod Sema dan Subak Margaya, pihak DPD RI memberikan sejumlah masukan dan nasihat yakni 1) Majelis Subak segera membuat peta sawah dan status kepemilikan tanah untuk mempermudah pelaksanaan program. 2) Mendukung pembangunan tempat rekreasi baru dengan program jogging track tanpa merubah sebagian besar landscape tanah 3) Meminta pemerintah kota dan kabupaten konsisten tentang Pajak Rp 0 untuk tanah sawah 4) Mendukung anggaran yang lebih besar dari Pemprovdan pemkab / pemkot terkait sumbangan untuk Subak 4) Menyusun perarem dan aturan adat agar memproteksi tanah tanah di Bali agar dikuasai oleh krama adat yang bisa melindungi Parahyangan 5) Dan mendukunga danya studi banding dari Subak tersebut untuk studi banding ke sejumlah tempat yang telah lebih awal sukses mengelola Agrotourism seperti Subak Sembung Peguyangan, Desa Kertalangu Subak Guliang Kangin Taman Bangli dan Subak Tajen Penebel Tabanan. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *