Categories BudayaHinduSatyagraha

UMAT HINDU BANYUWANGI DIMINTA MULAI KENAKAN IDENTITAS JAWA DALAM KESEHARIAN

SATYAGRAHA –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Peluncuran Buku Hindu Blambangan Di Pura Giri Purwo Waseso Desa Curah Pecak Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi Jawa Timur

WEDAKARNA LUNCURKAN BUKU HINDU CENTER OF BLAMBANGAN UMAT HINDU BANYUWANGI DIMINTA

Siapa yang menyangka bahwa jumlah umat Hindu bersuku asli Jawa di Banyuwangi adalah mayoritas kedua ? Dan sejarah Banyuwangi sejak zaman kerajaan Hindu kuno, zaman Majapahit hingga kini sejak Indonesia Merdeka dengan Bali selalu mengalami ikatan yang kuat. Dan keberadaan Bali sebagai basis agama  Hindu di Indonesia benar – benar berpengaruh pada kehidupan umat Hindu Banyuwangi, sampai – sampai dalam rupa keseharianpun, nuansa Bali selalu hadir ditengah – tengah komunitas Hindu. Namun banyak pihak berharap, bahwa kedepan umat Hindu Banyuwangi agar dapat mempertahankan adat istiadat serta pakem budaya Jawa sehingga nuansa Hindu Nusantara adalah benar – benar terasa. Demikian diungkap Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III suatu ketika dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur dalam peluncuran Buku The Hindu Center Of Blambangan,  Hindu di Bumi Blambangan, Sejarah, Islamisasi, Eksistensi Majapahit, dan Situs – situs Hindu di Bumi Blambangan. Dalam pidatonya, Gusti Wedakarna menyampaikan sejumlah harapannya kepada umat Hindu Jawa khususnya di Banyuwangi, agar mampu menjadi Pancer Jagat kebangkitan Hindu Nusantara. “Ada salah satu babad wong Jawa yang perlu dipelajari, dibaca dan dilaksanakan yakni nasihat Sabdo Palon dan Nayogenggong dalam Serat Dharmo Gandul terkait dengan Majapahit. Tanah Blambangan ini dulunya adalah tempat terjadinya dialog antara Prabu Brawijaya V dengan Raden Fatah dan Wali Songo. Saat itu, Prabu Brawijaya V akan meminta bantuan pada Raja Bali dan berniat menyeberang guna mencari bantuan untuk merebut tahta Majapahit akibat serbuan badai gurun. Sayang sekali, niatan menyebrang ke Bali tidak kesampaian bahkan Prabu Brawijaya V pun berkhianat terhadap leluhurnya pada agama Jawa. Disanalah munculnya Kutukan Sabdo Palon Nayogenggong, bahwa 500 tahun sejak kejadian Sandyakalaning, maka akan bangkit kembali ajaran Hindu Budha. Dan saat kebangkitan itu adalah saat ini. Dan tenggara bangkitnya Majapahit adalah lahirnya Pancasila. Maka tidak heran, keberadaan umat Hindu asli suku Jawa adalah aset bangsa yang luar biasa. Ini harus dijaga bersama termasuk kebhinnekaan dan toleransi dalam bingkai NKRI.”ungkap Gusti Wedakarna. Iapun juga memberikan semangat kepada umat Hindu Suku Jawa bahwa perjuangan mereka tidak sendiri, dan dirinya menolak adanya upaya mengalihkan orang Hindu menjadi agama lainnya karena melawan konstitusi. “Bung Karno pernah berpidato bahwa umat beragama di Indonesia dilarang ke Arab – Araban, Ke India – Indiaan, ke China Chinaan atau menjadi Yahudi. Dan sekarang yang bisa mempertahankan budaya Nusantara asli adalah umat Hindu. Karena Hindu mengijinkan ritual, mengijinkan selametan, ada yatra dan memberdayakan budaya lokal. Hindu tidak akan menghilangkan budaya lokal, justru memperkuat. Dan Bali sebagai basis Hindu di Indonesia akan tetap setiap bersama masyarakat Hindu di Banyuwangi dalam pengembangan Sanatana Dharma. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia. Dalam kesempatan itu, Gusti Wedakarna disambut oleh ribuan umat Hindu Banyuwangi dan membangikan buku penelitian The Hindu Center Of Blambangan kepada umat Hindu yang hadir sembari berpesan bahwa kedepan budaya Jawa Timuran harus lebih menonjol dalam setiap ritual, indetitas, seni dan juga arsitektur pura dan menghindari kesan ke-Bali Balian.  (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *