Categories BudayaHindu

DIBANGUN STYLE MAJAPAHIT, HORMATI LELUHUR RAJA BADUNG PERTAMA I GUSTI TEGEH KORI

YADNYA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, Shri IGN Wira Wedawitry WS, Shri IGN Bhisma Vedanta WSWS IV bersama Ida Sri Bhagawan Dalem Nabe Wira Kerthi ring Puri Tegeh Kori ring Badung

MENDEM PEDAGINGAN LAN PEMELASPASAN MERAJAN PURI TEGEH KORI

Puri Tegeh Kori ring Badung diera kepemimpinan Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III benar benar kembali menata ulang pakem, tradisi dan tata titi yang diwariskan leluhur. Sebagai pelanjut dari Dinasti Trah Ida Betara I Gusti Tegeh Kori, Raja Badung Pertama, keluarga besar Puri Tegeh Kori kini menujukkan keteladanan  swadharmanya dengan baik, termasuk menjadi teladan untuk masyarakat Bali, salah satunya dengan menyelesaikan tugas leluhur yang tertunda. Salah satunya pembangunan merajan agung di Puri Ageng Tegeh Kori yang terletak Banjar Pagan Kelod, Sumerta, Denpasar. Dipuput oleh Ida Shri Bhagawan Nabe Wira Kerti ( Griya Tegeh Kori Buleleng ), karya Dewa Yadnya yakni Mendam Pedagingan, Pemelaspasan lan Ngelinggihan Leluhur ini disaksikan langsung oleh Ratu Biang I Gusti Ayu Suwitry Suyasa dan penglingsir puri Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III serta keluarga dekat puri. Dalam upacara yang berlangsung sederhana namun penuh khidmat, pihak sentana puri berhasil menyelesaikan salah satu karya ageng yang sudah tertunda sejak tahun 1980 sesuai keinginan leluhur. “Dalam catatan kami, sejak 39 tahun lalu, ada keinginan dari para leluhur kami untuk membangun pemerajan dengan ornamen Majapahit yakni Batu Merah, selain untuk menghormati budaya Majapahit, juga sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur kami Ida Betara Tegeh Kori, Raja Badung Pertama dan Pendiri Kerajaan Badung. Dalam sejarah memang orang tua kami yakni (Swargi) Ratu Aji Shri Wedastera Suyasa pada tahun 1960an dulu mendirikan organisasi pasemetonan Arya Tegeh Kori. Tujuannya adalah melestarikan ajarah leluhur kami. Dan syukurlah kini, sejak tahun 2009 semua sejarah leluhur sudah tertata. Kini kami generasi muda dan sebagai warih bertugas melestarikan kebudayaan ini melalui cara sederhana yakni dimulai dari keluarga inti. Pembangunan Merajan Ageng dengan gaya Majapahit ini memakan waktu hampir dua tahun. Dan tepat Purnama nemu Kajeng Kliwon hari ini, astungkara bisa dipelaspas. “ungkap Shri Gusti Wiraweda. Iapun menggarisbawahi jika upacara Yadnya diadakan dengan konsep sederhana, mengingat keluarga Puri Tegeh Kori selama ini dikenal sebagai tokoh di Nusantara yang selalu mendorong penyederhanaan upacara. “Kami dipesankan oleh leluhur, bahwa semampu apapun warihnya dari segi ekonomi, tetap harus mengukur diri, salah satunya bagaimana agar melaksanakan Panca Yadnya secara sederhana. Dan ini terus kami praktekkan. Seperti hari ini, upacara disaksikan oleh putranda dan cucunda, dan generasi muda puri paham bahwa mereka harus melanjutkan kesederhaan ini. Semua rangkaian upacara ini tentunya sudah atas restu ( Sendhiko Dawuh ) dari Abhiseka Ratu Gusti Wedakarna sebagai penglingsir. Momentunnya sangat tepat, menjelang karya Wali Krama ring Besakih juga. Ini kebahagiaan kami yang luar biasa. Suksme atas doanya. “ungkap Shri Gusti Wira Wedawitry.  Dalam sejarahnya, setelah membangun Istana Mancawarna Tampaksiring yang kini menjadi simbol kebangsaan, warih Puri Tegeh Kori saat ini juga sedang membangun Istana Jimbarwana yang ada di Desa Penyaringan Mendoyo, Jembrana untk menghormati leluhur Swargi Ratu Kakiang I Goesti Ngoerah Ketoet Soeyasa dan jika tuntas pada tahun 2022, maka kompleks istana ini akan menjadi kompleks istana yang terbesar kedua di Bali setelah Istana Tampaksiring. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *