Categories BudayaHindu

SENATOR ARYA WEDAKARNA MINTA STT MENJADI GARDA TERDEPAN MENJAGA EKSISTENSI DESA ADAT

FOTO – Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali (Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III), Bersama Wakil Bupati Tabanan, Jro Bendesa Bugbug, Caleg DPRD Kabupaten Tabanan, Para Tokoh dan Ketua STT Dwi Karya.

HADIRI ACARA HARI JADI STT DWI KARYA KE 45 DI TABANAN

DESA ADAT – menurut tokoh muda Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, SE, (M.Tru), M.Si harus dijaga bersama-sama, maupun itu dari kalangan Pemerintahan, Masyrakat Adat, bahkan generasi muda Bali, karena menurut sudut pandang dia sebagai mantan Politisi PNI Marhaenisme itu saat ini Desa Adat mulai di gerogoti oleh orang-orang yang tidak suka terhadap aturan Adat di Bali, hal tersebut terbukti semenjak ia menjabat menjadi Anggota DPD/MPR RI di senayan Jakarta sebagai wakil Rakyat Bali di Pusat, dari berbagai macam masalah yang muncul kepermukaan, seperti masalah iuran, masalah tenaga kerja dari luar Bali, bahkan juga permasalahan sengketa tanah dibeberapa daerah Bali, maka dari itu menurutnya hal tersebut sudah saatnya dipertegas, baik dari kalangan Eksekutif maupun krama Adat itu sendiri, jangan sampai nanti banyak orang yang berdalih dan dibentur-benturkan dengan UU Nasional, padahal menurut politisi muda asal Bali itu, sudah jelas kedaulatan Hukum Adat diatur dan dilindungi langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945, sehingga sebagai anggota Legislatif dirinya keberatan dengan alasan-alasan yang melemahkan Desa Adat itu sendiri. Melihat hal tersebut dirinya berpendapat agar RUU Provinsi Bali segera disahkan dan di Undangkan sebagai payung hukum Desa Adat, dan nantinya menurutnya juga diperkuat dengan penguatan substansi daripada Perda menyangkut kedaulatan Desa Adat, pada kesempatan yang berbahagia Dr. Arya Wedakarna disambut baik oleh masyarakat Adat saat hadiri hari jadi STT Dwi Karya yang ke 45, yang juga dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Tabanan, Jro Bendesa Bugbug, Caleg DPRD dari PDI P Kabupaten Tabanan, serta beberapa tokoh yang ada di Tabanan, ucapan selamat dilanturkan oleh tokoh muda Bali itu, kedepan ia berharap Desa Adat harus terus semakin kuat, jangan takut dengan orang-orang yang tidak menyukai dengan aturan Hukum Adat di Desa Adat, karena sebelum ada lahir UU Nasional Hukum Adat itu sudah ada, biarpun itu tidak tertulis, karena dalam dunia hukum, hukum itu ada dua yaitu hukum tertulis dan hukum tidak tertulis, dan itu sah dilaksanakan selagi aturan tersebut demi mengatur masyarakat pada umumnya dan tidak bertentangan dengan UUD 1945,’’Saya akan selalu perjuangkan kedaulatan Desa Adat, baik itu payung hukumnya, maupun hal-hal yang mendiskriminasi Desa Adat, kedepan Saya minta STT menjadi garda terdepan bersama-sama Jro Bendesa Adat menjaga kedaulatan Adat di Bali ini, dan Saya juga meminta doa restu agar RUU Provinsi Bali dapat segera disahkan dan diundangkan,’’Ungkap Dr. Arya Wedakarna. Terkahir ia berpendapat anak-anak muda yang ikut aktif didalam satu organisasi kepemudaan seperti STT jangan merasa buang-buang waktu ataupun menjadi penyesalan karena memakan waktu, tetapi ia malah memberikan padangan yang berbeda, dimana ia berikan semangat agar anak-anak muda yang terlibat di STT untuk selalu mengikuti proses yang menjadikan pribadi berkarakter, dan mempunyai skil-skil kepemimpinan, sebab menurutnya jika mau menjadi seorang pemimpin, maka wajib hukumnya untuk ikut berorganisasi sebagai investasi dimasa depan nanti, karena di organisasi tidak cuma berbicara hard skill saja, tetapi lebih kepada pencapaian soft skill.  (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *