Categories BudayaHinduSatyagraha

ARYA WEDAKARNA KECEWA SEJUMLAH WILAYAH LARANG PEMBUATAN OGOH – OGOH KARENA ALASAN POLITIK

SATYAGRAHA – Senator DPD RI Dr Arya Wedakarna saat hadir di STT Dwi Karya dan STT Dharma Satwika di Kabupten Tabanan.

SENATOR HADIRI HARI JADI SEKAA TERUNA  TERUNI ( STT )  DI TABANAN

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III akhirnya bersuara terkait dengan adanya laporan dari para pemuda di Bali terkait dengan keputusan pemimpin kedinasan dan adat yang melarang pembuatan ogoh – ogoh dengan alasan tahun politik Pmilu 2019. Menurut Arya Wedakarna ( AWK ) seharusnya pemimpin di Bali bisa memisahkan antara kepentingan agama Hindu dan juga kepentingan politik, dan pihaknya yakin bahwa anak anak muda di Bali jauh lebih dewasa dalam menghadapi situasi politik kekinian, termasuk hajatan Pemilu. Demikian ungkap AWK disela sela menghadiri hari ulang tahun STT Dwi Karya di Br. Tanah Pegat Desa Gubug Kec. Tabanan dan hari ulang tahun ke-42 STT Dharma Satwika di Bongan Gede Tabanan. Secara tegas, Senator AWK justru mempertanyakan sikap dari pemimpin wilayah yang yang dianggap tidak peka akan aspirasi generasi muda. “Salah satu pilar dari budaya itu adalah adanya  keterlibatan generasi muda, para yowana dalam berpartisipasi dalam kegiatan adat dan  budaya Hindu. Ranahnya sudah berbeda, dan festival ogoh ogoh adalah proses kaderisasi, proses melatih anak muda Bali untuk saling tepa selira dan ada nilai nilai Pancasila disana, termasuk sila ketiga Persatuan. Jadi melarang kegiatan ogoh ogoh dengan alasan tahun politik dan Pemilu adalah sesuatu yang mengada ngada. Ini sudang mengingkari konsep Trisakti Bung Karno yakni berkepribadian dibidang budaya. Sayang sekali,dari laporan yang masuk ke DPD RI Bali,  justru kecamatan, desa dan wilayah yang melarang selama ini dikenal katanya sebagai basis Bung Karno. Ini artinya pemimpin tidak paham konsep Tri Sakti Marhaenisme, mereka perlu baca lagi buku buku konsepsi sosio demokrasi. Memalukan sekali. “ungkap Gusti Wedakarna. Ia malah memberikan apresiasi kepada Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang justru malah menganggarkan bantu STT serangkaian hari raya Nyepi. “Dari 9 Kabupaten / Kota di Bali, seharusnya potensi konflik itu ada diibu Kota Denpasar dan Badung ya, karena selain padat dan juga heterogen, tapi malah pemerintah di Denpasar dan Badung setuju dengan ogoh ogoh. Saya ucapkan terimakasih. Kabupaten yang lain perlu mulat sarira, perlu lebiih banyak belajar tentang manajemen konflik dan berkepribadian “ungkan Gusti Wedakarna. Lalu apa yang harus dilakukan oleh anak anak muda di Bali menghadapi tantangan larangan pembuatan ogoh – ogoh ? “Saran saya maju terus saja, silahkan buat ogoh ogoh walau Cuma diarak didepan banjar. Tidak mungkin rusuhlah, mereka sudah dewasa. Yang penting kan proses mereka dari gotong royong membangun simbol Hindu ini. Dan secara politik, tolong anak muda Bali, catat nama Perbekel / Lurah yang melarang, catat nama Bendesa yang menolak ogoh ogoh, ingat juga muka Bupatinya dan besok besok kalau Pilkada dan Pilkades tidak  usah dipilih lagi. Ini menjadi pelajaran bagi mereka para pemimpin di Bali agar mereka paham dengan isi gumi Bali. Tidak mudah mengatur orang Bali. Jika ingin serius ajeg  Bali yang harus berani ambil resiko. Jangan sampai budaya kalah sama politik dan ini tidak patut. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga Presiden The Hindu Center Of Indonesia. Sebagai wujud keseriusan AWK, pihak DPD Bali sudah menginventarisir sejumlah wilayah di Bali yang menolak ogoh – ogoh di tahun 2019, dan berjanji akan menindaklanjuti. “Saya sudah catat semua wilayah itu, dan kita akan bereskan sebelum Nyepi. Kalau alasannya adalah Panca Wali Krama di Besakih atau pas ada karya di pura,  ya saya bisa maklum,  tapi kalau dihubungkan dengan politik, maka saya kecam. Hikmah dari Nyepi 2019 ini adalah betapa hebatnya suara anak anak muda Bali. Mereka sudah berani bicara, dan mereka akan menyatakan sikap pada saatnya. “pungkas Gusti Wedakarna ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *