Categories BudayaSatyagraha

HUT KAISAR, WEDAKARNA MINTA WARGA BALI TIRU DISIPLIN DAN ETOS KERJA BUDAYA JEPANG

MARHAENIS –  Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Aiko Kurasawa (Peneliti Jepang), Konsul Jepang dan Wagub Bali saat HUT Kaisar Jepang

PENELITI JEPANG TEMUI WEDAKARNA TERKAIT SEJARAH G30S DAN PKI

Hubungan dua wilayah berbasis budaya Siwa Budha yakni antara Indonesia dan Jepang dianggap menjadi salah satu faktor penguat khususnya jika diihubungkan dengan keberadaan Bali yang menjadi destinasi wisata utama Jepang selain pusat investasi. Dan kini warga Bali diharapkan dapat meniru kebaikan kebaikan dari budaya Jepang, khususnya budaya disiplin serta etos kerja yang mampu  membuat Jepang sebagai negara maju didunia. Demikian disampaikan Senator DPD RI Utusan Provinsi Bali disela sela menghadiri acara Hari Kelahiran Kaisar Jepang yang diadakan oleh Konsul Jendral Jepang. “Walau dimasa lalu Jepang pernah menjajah Indonesia, tapi ada hal – hal baik yang perlu ditiru khususnya bagi generasi milenial di Bali. Coba lihat etos kerja orang Jepang, mereka sangat disiplin, sangat konsisten, terukur dan juga professional. Padahal negara Jepang pernah hancur luluh lantak saat Perang Dunia ke-II, pernah di Bom Atom. Tapi kenapa Jepang kini bisa lebih hebat dari banyak negara di Asia, karena sistem Jengah itu dilakukan dengan konsisten dan aksi nyata. Jepang ini mirip dengan Bali, sama sama berbasis budaya yang kuat, memiliki akar agama yang dalam, tapi kenapa justru di Jepang bisa lebih maju ? Karena faktor karakter manusianya. Setinggi apapun kebudayaan kita, jika faktor mentalnya tidak baik, tetap negeri itu tidak bisa maju bahkan bisa kedewan dewan. Kini kita berharap Bali bisa Berdaulat secara politik, ekonomi, budaya ( Tri Sakti Bung Karno ) bisa terwujud. Atas nama pribadi dan lembaga negara DPD RI, saya ucapkan selamat hari kelahiran Kaisar, semoga Yang Mulia Kaisar Jepang diberikan kesehatan dan umur panjang. “ungkap Gusti Wedakarna. Selain itu, terkait dengan agenda dengan Jepang, Senator Arya Wedakarna juga memenuhi undangan seorang peneliti Jepang yakni Aiko Kurasawa untuk berdiskusi tentang tragedi G30S. Terkait dengan hal ini Senator Arya Wedakarna mengapresiasi kerjasama akademis antara  Jepang dan Indonesia khususnya dalam hal penelitian yang bermanfaat demi ilmu pengetahuan dan sejarah. “Saya mengapresiasi buku buku karya Aiko Kurasawa, seorang Sejarawan Indonesianist asal Jepang. Ini bukti bahwa sejarah Indonesia sangat kaya dan menarik untuk dibedah, dikaji dan juga didalami. Sebagai seorang akademisi, hal – hal begini sangat  baik untuk kerjsama dibidang science, dan menjadi salah satu prioritas kerja kami. Semoga hasil penelitian ini bisa mempererat hubungan akademik Indonesia dan Jepang. “ungkap Dr. Arya Wedakarna yang mantan Rektor Universitas Mahendradatta Bali ini. Ditemui ditempat berbeda usai diskusi dengan peneliti Jepang, Arya Wedakarna masih mengakui bahwa ada sejarah yang dibelokkan terkait dengan kejadian G30S di Bali, khususnya terkait dengan kejadian kejadian dibeberapa tempat di Bali yang masih terbawa oleh generasi yang dianggap keturunan PKI.”Sikap saya sudah jelas, bahwa PKI adalah terlarang di Indonesia. Negara belum mencabut keputusan itu dan apapun tentang PKI harus kita lawan hingga keakar akarnya. Dan di Bali, saya akui masih ada luka, dan orang Bali khususnya dari kalangan keturunan PNI masih terus diadu domba oleh keturunan PKI. Ada cerita cerita yang sengaja dibuat buat oleh penguasa zaman Orde Baru agar orang Bali tidak bersatu. Korban kekejaman Gestok di Bali juga fantastis hingga ratusan ribu jiwa dan tidak semuanya bersalah. Ayah saya ( alm ) Shri Wedastera Suyasa sebagai pimpinan PNI saat itu bahkan sempat diamankan Bung Karno karena situasi chaos. Bagi saya ada upaya genosida terhadap orang Hindu, kaum kejawen di Indonesia, ada yang menunggangi saat Gestok. Kita tahu selain oknum militer, ada oknum ormas berbau agama yang membantai orang Bali dizaman itu. Saya salut dengan ayah saya yang menyelamatkan ribuan nyawa saat ada pembantaian PKI saat itu . Putri Bung Karno, Ibu Sukmawati Sukarno juga menjadi saksi tentang sejarah perjuangan keluarga Puri Tegeh Kori yang menjadi simbol PNI yang nasionalis melawan PKI saat itu. Yang penting, isu PKI sudah tuntas, sudah jadi ideologi yang mati, namun tetaplah waspada. Seperti yang dikatakan Bung Karno, Jangan Sesekali meninggalkan sejarah ( JAS MERAH ). “ungkap Gusti Wedakarna yang juga President The Sukarno Center Tampaksiring. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *