Categories BudayaHinduSatyagraha

WEDAKARNA MINTA UMAT HINDU KARANGASEM PELOPORI “PENYEDERHANAAN” UPAKARA

KUNJUNGAN –  Senator DPD RI, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III ke Kecamatan Bebandem dan Kecamatan Abang di Karangasem.

TATAP MUKA SEMETON MERANGGI DAN KUBON TUBUH KARANGASEM

Senator DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III dalam rangka reses DPD RI dimasa sidang Februari 2019, hadir dibumi lahar Karangasem untuk menyambangi masyarakat sekaligus menyerap aspirasi dalam rangka UU MD3 Tahun 2018. Dalam kesempatan ini, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) menyambangi dua wilayah yakni Banjar Kayu Putih Desa Bebandem dan Banjar Adat Waliang Kec Abang. Dalam kesempatan tersebut AWK bertemu dengan para pratisentana dari Merajan Kubon Tubuh dan Warih Pradewa di Pura Meranggi yang merupakan warga Ksatria. Rasa salut dan bahagia disampaikan oleh AWK, mengingat kesempatan baik bertemu dengan semeton Hindu sangat baik untuk bertukar pikiran tentang eksistensi umat Hindu khususnya di Karangasem. AWK pun membawa sejumlah agenda untuk disosialisasikan diantaranya : agenda Piagam Tantular yang menolak keberadaan Desa berbau agama tertentu yang sempat dihembuskan oleh sejumlah kelompok agama di Bali, agenda penguatan ekonomi Sukla Satyagraha Hindu, temasuk agenda sosialisasi KB Bali 4 Anak serta pencerahan terkait penyederhanaan upacara. “Tiang minta kepada semeton Hindu di Karangasem, agar senantiasa eling dengan kewajiban Catur Purusa Artha, yakni Dharma, Artha,Kama dan Moksa. Salah satu cara mencapai Artha adalah dengan menjadikan agama Hindu sebagai agama yang mencerahkan. Dalam Hindu upakara hanyalah sarana, dan yang terpenting adalah tatwa. Maka dari itu, tiang minta ditengah ekonomi umat yang sulit, tiang minta agar para pemimpin umat baik didesa adat, pasemetonan dan wilayah masing – masing agar kembali menggelorakan penyederhanaan upacara. Menyederhanakan bukan berarti menghilangkan bebantenan, tetapi mengefisienkan sarana dan prasarana serta mempersingkat eedan karya. Apalagi, selama ini tiang perhatikan bahwa Karangasem sebagai wilayah tua sangat kompleks sarana dan juga eedan karyanya. Tiang jadi  teringat dengan pesan nasihat dari tokoh Hindu yakni ( Swargi )  Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa ( Dharma Adyaksa PHDI Pusat ) asal Griya Tegeh Karangasem, bahwa penyederhanaan upacara Hindu sangat dimungkinkan dan disesuaikan sesuai dengan zamannya. “ungkap Wedakarna yang juga President The Hindu Center Of Indonesia ini. Terkait dengan eksistensi umat Hindu di Karangasem, AWK menyampaikan bahwa kedepan umat Hindu harus memprioritaskan kesejahteraan eknomi sebagai benteng pertahanan Hindu di Bali.”Semeton harus paham sejarah, bahwa hancurnya kerajaan Hindu Majapahit ditanah Jawa, bukan karena pertentangan agama lama atau agama baru, tapi faktor mayoritas adalah karena umat Hindu dizaman Majapahit itu miskin dan terlau jor joran berupacara. Sehingga, tattwa agama Hindu tidak dijalankan dengan sebaik baiknya sehingga dengan mudah umat Siwa Buddha beralih keyakinan. Hal ini terjadi juga di Bali saat ini, bagaimana Bali digempur dengan beraneka ragam masalah sosial dan budaya. Disatu sisi semeton Hindu sangat sibuk berupacara, tapi disatu sisi kita melupakan palemahan dan pawongan. Ini yang harus diwaspadai oleh umat Hindu dan belum lagi potensi umat Hindu pindah agama karena faktor ekonomi. Tugas tiang harus terus datang ke desa desa untuk mengingatkan masyarakat akan hal ini. Semua demi kedaulatan Hindu Dharma dan Bali sebagai  tempat terakhir pelestarian budaya Majapahit di Nusantara ini. “ungkap Gusti Wedakarna. Dalam kunjungan kerja tersebut, Senator AWK juga melaksanakan dialog dengan generasi milenial serta melakukan persembahyangan bersama. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *