Categories BudayaHindu

SHRI WEDAKARNA INGATKAN PENYEDERHANAAN UPAKARA DEMI EKONOMI BALI BERDAULAT

Foto – Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali (Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III) Usai Menghadiri Upakara Yadnya

HADIRI UPAKARA YADNYA NGENTEG LINGGIH DI SANGSIT SUKASADA BULELENG

SATYAGRAHA – gerakan moral yang digelorakan tokoh politisi asal Bali Yakni Dr. Srhi I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, SE, (M.Tru), M.Si yang saat ini masih aktif menjadi Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali itu kini kian menyebar diseluruh Bali, gerakan yang ia bangun dianggap realistis dengan keadaan Bali saat ini, apalagi jika dikaitkan dengan keadaan ekonomi di Bali saat ini, karena dari informasi yang didapatkan memang sejauh ini banyak krama Adat Bali yang mengeluhkan terkait dengan biaya Upkara Yadnya yang terlalu mahal, bahkan ada yang mencapai miliaran, padahal esensinya saja yang berbeda, dan dilihat dari pendapatan masyatakat Bali pada umumnya dengan pengeluaran yang begitu banyak, dianggap tidak sepadan dengan apa yang didapat oleh masyarakat Bali dikalangan menangah, memang kalau dikalangan yang mampu dan banyak punya warisan Upakara dengan memakan biaya mahal tidak masalah, tetapi berbeda halnya dengan kaum Marhaen, menurut sudut padang tokoh politisi muda itu, karena ia rasa Bali kedepan harus menciptakan SDM yang mempunyai banyak tabungan, SDM Bali yang sedikit berhutang ke Bank, jangan sampai hanya karena mengikuti Upakara yang mahal sampai jual tanah, dan menjual barang-barang lainnya, yang terpenting menurutnya adalah bagaimana melaksanakan Upakara Yadnya dengan ikhlas dan penuh kesederhanaan, penyederhanaan yang ia maksud selama ini bukan mengurangi makna daripada esensi ritual itu sendiri, malainkan penyederhanaan dari penggunaan bahan-bahan yang tertalu mahal dan iuran yang terlalu memberatkan. Pada kesempatan yang berbahagia di acara Ngenteg Linggih Pasemetonan Ageng Nararya Dalam Benculuk Tegeh Kori di Desa Sangsit menyampaikan hal yang serupa, kedepan ia berpesan agar generasi muda-muda Bali jangan dibebankan dengan hal-hal yang berat, apalagi itu menyangkut dengan Upakara, lebih baik kedepan Semeton Bali bersama-sama untuk merevolusioner Upakara yang tertalu mahal, menjadi Upakara yang tanpa menghilangkan makna, iuran yang sedikit dan budaya tetap dipertahankan,’’Saya akan konsisten dengan hal penyederhanaan Upakara ini, jangan sampai semeton-semeton Bali mengelu lagi ke Saya masalah iuran yang terlalu mahal, belum lagi bayar-bayar peturunan, sedangkan pendapatan semeton Bali pada umumnya pas-pas an, jadi harapan Saya laksanakan saja kewajiban sebagai wangsa Bali yang setia terhadap hindu tanpa membuat sengsara, tapi semampunya,’’Tegas Gusti Wedakarna yang merupakan Sekjen Pasemeton Ageng Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori itu saat berikan Dharma Wacana. Di akhir ia tegaskan lagi bahwa warih-warih di Bali jangan mengulangi kesalahan leluhur dahulu, makanya kerajaan Majapahit dulu bisa hancur, dikarenakan ada perang saudara dan keadaan ekonomi yang semakin krisis, sehingga dizaman kaliyuga ini dirinya tekankan lagi, lebih baik punya tabungan yang banyak dan bisa sekolahkan anak setinggi-tingginya minimal Starta 1 (satu), sebab hal tersebut sudah tertulis di kitab Suci Agama Hindu Bhagawad Gita, yang dapat menyelamatkan kaum manusia di zaman kali ini ialah Jnana (Ilmu Pengetahuan).

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *