Categories BudayaHindu

SHRI GUSTI WEDAKARNA MINTA PURA-PURA DI BALI BUATKAN PURANA SEBAGAI SIMBOL SEJARAH

Foto – Anggota DPD/MPR RI Utusan Provinsi Bali (Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III) Bersama Tokoh Adat Desa Lemukih Saat Menyerahkan Prasasti Lempengan Pura Desa

SERAHKAN PRASASTI LEMPENGAN KEPADA PENGURUS PURA DESA LEMUKIH BULELENG

PURANA- sebagai catatan penting untuk sejarah kuno kini mulai disadari oleh masyarakat Bali, selain untuk menjaga bangunan-bangunan kuno, Purana juga bisa berfungsi sebagai catatan sejarah yang bisa diturunkan turun-temurun kepada generasi muda mendatang agar bisa mengetahui perjalanan sejarah Pura-Pura yang didirikan oleh leluhur terdahulu. Beberapa Pura di Bali masih ada yang belum memilki catatan sejarah tertulis dan hanya berdasarkan tuturtinular saja tentu hal tersebut dirasa dikhawatirkan dapat menyebabkan salah tafsir terhadap fakta sejarah. Hal itu ia sampaikan saat dirinya menyerahkan Purana Lempengan kepada pengempon Pura Desa Lemukih Buleleng.
Sebagai tokoh muda Hindu yang saat ini berswadharma sebagai perwakilan Bali di Senayan Jakarta, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, SE, (M.Tru), M.Si terus mensosialisasikan betapa pentingnya Purana bagi rekam jejak peninggalan leluhur. Pada kesempatan tersebut, Gusti Wedakarna menyampaikan, jika penyerahan purana tersebut bertujuan untuk menjaga jagat Bali, terutama Pura-Pura peninggalan leluhur terdahulu, karena kalau Pura tidak memiliki Purana sama saja seperti Negara tanpa Undang-Undang. Menurutnya, jika Pura sudah memilki Purana tentu, secara Otentik sudah kuat sehingga generasi muda kedepan tidak susah lagi untuk mengetahui fakta sejarah yang ditinggalkan leluhur Bali yang hebat-hebat.
Selain membahas terkait purana, Politisi muda ini juga meminta kepada krama adat yang ada di Desa Lemukih agar mulai menyederhanakan upacara dan memperkuat aset. Menurutnya, “ jika menyelenggarakan yadnya dengan cara penyederhanaan jauh lebih baik daripada satu upacara dilaksanakan dengan kemewahan namun di akhir upacara meninggalkan hutang. mengingat Ida Sang Hyang Widhi tidak pernah menuntut umatnya mewah, akan tetapi lebih mendahulukan sebuah ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankan ajaran dharma. Bayangkan saja, ketika kemewahan dalam upacara dilakukan dengan anggaran yang cukup fantastis tentunya memberatkan dan meyulitkan krama atau umat sedharma kita yang lain. Daripada kegiatan itu dibangun dengan hal yang terlalu mewah lebih baik dipergunakan untuk tabungan abadi disetiap desa yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk mendongkrak sektor pembangunan perekonomian krama adat kita khusunya anak-anak muda kita di Bali.
Ia juga berharap kepada krama adat yang ada di desa-desa khususnya di Desa Lemukih untuk perkuat aturan adat dalam sistem jual beli lahan, jangan sampai banyak dijual, dan jangan mudah menjual tanah, karena jika tanah di Desa Lemukih dikuasai oleh orang dari luar, maka nanti bisa merugikan masyarakat adat sendiri. Lebih baik manfaatkan lahan itu dengan sebaik-baiknya untuk bisa menghasilkan artha yang bisa menjaga kestabilan ekonomi, dan diakhir ia sampaikan agar anak-anak muda di Desa Lemukih sekolah setinggi-tinginya, jika sudah banyak dapat pengalaman balik ke Desa buat sistem yang dapat merubah keadaan desa terus mengalami kenaikan, baik itu dari sisi sosial, budaya dan ekonomi.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *