Categories BudayaHindu

WEDAKARNA MINTA UMAT HINDU JANGAN GOLPUT SAAT PEMILU 2019 DEMI BALI BERDAULAT

MARHAENIS – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Menyapa Masyarakat Petang Badung dan Masyarakat Pemecutan Denpasar

WARGA PETANG DAN PEMECUTAN DUKUNG PERJUANGAN AWK

Senator DPD RI termuda dari Bali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III mendapat kehormatan diundang oleh tokoh di Pangsan, Petang untuk bertemu dengan tokoh masyarakat Badung. Disambut oleh tuan rumah I Gusti Ngurah Mariartha, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) mengadakan dialog dengan tokoh Petang, khususnya terkait dengan eksistensi umat Hindu Indonesia dalam Pemilu 2019 ini. Hal senada juga disampaikah oleh AWK saat bertemu dengan tokoh penglingsir yakni I Gusti Nyoman Sukra, I Made Sumertha, I Gusti Putu Tagel dan IGA Okarini dan tokoh muda termasuk kaum ibu di Br Sanga Agung Monang Maning Pemecutan, yang dimana AWK menyampaikan bahwa eksistensi agama Hindu disemua bidang sangat tergantung dari proses pilihan politik umatnya, sembari berharap agar kedepan umat Hindu bisa menentukan pilihannya politiknya dalam konteks perjuangan Satyagraha yakni merebut apa yang telah hilang dengan cara cara ahimsa. “Eksistensi Hindu di Indonesia perlu perjuangan keras dan ditampilkan secara terbuka. Contoh saja bagaiamana perjuangan Pahlawan Nasional asal Bali yakni Mr Gusti Ketut Pudja asal Puri Sukasada Buleleng yang merupakan sahabat Bung Karno. Beliau ditahun 1945 berani berjuang sendiri di Jakarta sebelum Indonesia Merdeka dan bersuara lantang untuk menolak Piagam Jakarta yang bernuasan agama mayoritas. Ini yang disebut dengan Satyagraha. Begitu juga kehebatan (alm) IB Mantra yang memproteksi desa adat dan LPD yang bernuasan Hindu melalui Perda dizaman sulit Orde Baru serta perjuangan (alm) Shri Wedastera Suyasa dan 7 tokoh Hindu lainnya saat mendesak pendirian Parisadha Hindu pada 1959 dizaman Bung Karno. Jadi anak – anak muda Hindu harus paham sejarah, bahwa kita tidak menikmati hasil pembangunan seperti sekarang jika tanpa perjuangan keringat, airmata dan darah leluhur.. Dan disana letak kedaulatan kita sebagai bagian dari bangsa ini walau Bali dan umat Hindu sebagai minoritas, yakni melalui sistem politik. Dan ini yang tiang perjuangkan lewat Gerakan Satyagraha, yang merupakan gerakan pengingat, gerakan melawan lupa, gerakan intelektual untuk merebut apa yang sudah hilang dengan cara yang dharma. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun mencontohkan bahwa perjuangan Satyagraha telah berhasil di India yakni pada saat Ratu Jodha yang seorang Hindu ( Rajput ) berhasil menerapkan strategi politik di Istana Kesultanan Moghul sehingga menjadikan India kembali berdaulat Hindu. Begitu juga Satyagraha dijalankan oleh Mahatma Gandhi saat mengusir penjajah Inggris. “Diera modern ini, umat Hindu tidak boleh lalai dan lengah dalam hak hak politik. Salah satunya jangan sampai umat Hindu tidak saja di Bali tapi diseluruh Indonesia tidak boleh GOLPUT disetiap ajang Pemilu atau Pilkada. Jika umat Hindu Golput maka kita yang akan rugi, apalagi jika wakil wakil yang terpilih nanti tidak paham mengenai dresta dan budaya Bali. Maka dari itu, mari kita sukseskan Pemilu 2019, minta kepada seluruh warga Bali untuk datang ke TPS, berpartisipasi dengan baik dan pilih wakil rakyat yang bisa nindihin jagat Bali dan budaya Hindu dengan baik. Ini masalah ideologi sebagai wangsa Bali, sebagai warih leluhur Hindu , bukan semata hanya figur politik. “ungkap AWK yang juga President The Hindu Center of Indonesia ini. Iapun mengingatkan kondisi Bali saat ini yang sarat dengan mamsalah, adalah hasil dari produk politik masala lalu, yang mana pemimpin Bali tidak pernah memberikan proteksi terhadap kebudayaan secara tegas. “Bali ini punya beban dosa sejarah yang besar dimasa lalu. Para tokoh politik dimasa lalu kurang memikirkan akibatnya. Pertahanan Hindu selama 500 tahun yang telah dijaga oleh Dalem Waturenggong, oleh Raja Raja Bali pasca kehancuran Majapahit bisa jebol dalam waktu 50 tahun khususnya sejak Orde Baru hingga era reformasi. Bali sudah kalah saing disemua bidang dan saatnya kita bangkit. Melalui Satyagraha, kita rebut apa yang sudah hilang dan cara yang paling efektif adalah dengan terlibat didalam sistem politik Indonesia. “ungkap AWK yang merupakan peraih suara tertinggi di Pemilu 2014 ini. (humas)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *