Categories BudayaHinduSatyagraha

WEDAKARNA AJAK PRAJURU DESA ADAT BANGLI, PEREAN PERKUAT DESA ADAT LEWAT GERAKAN SATYAGRAHA

FOTO – Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Krana Adat dan STT usai Adakan SimaKrama Di Br. Munduk Andong, Desa Bangli, Kec. Baturiti Tabanan

RATUSAN KRAMA ADAT ANTUSIAS HADIRI PERESMIAN POSKO GPM TABANAN

Usai meresmikan posko disejumlah pemenangan Dr. Arya Wedakarna di Kabupaten Bangli, untuk memenangkan kembali jagoannya Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS diperhelatan pileg Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia 2019 april mendatang. kini Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) kembali menunjukkan sepak terjang dan konsistensinya menghadirkan Dr. Wedakarna untuk meresmikan posko pemenangan AWK di Kabupaten Tabanan sekaligus mengadakan Simakrama bersama masyarakat di Desa Bangli Kecamatan Perean Kabupaten Tabanan. Kedatangan Gusti Wedakarna disambut antusias oleh sejumlah kalangan masyarakat yang turut hadir dalam kesempatan tersebut. Turut hadir diantaranya I Made Sudi Adnyana (Bendesa Adat Bangli), serta sejumlah tokoh masyarakat dan puluhan Seketeruna yang juga turut hadir pada kesempatan tersebut. Sejumlah pembahasan turut dibahas dalam pertemuan tersebut, salah satunya terkait dengan penguatan eksistensi Desa Adat yang berada di Kabupaten Tabanan. Dihadapan krama adat, Wedakarna menjelaskan, jika Desa Adat merupakan pilar utama dan memiliki peran sentral dalam mempertahankan jati diri sebagai krama Bali. Tentu,perlu langkah konkrit untuk tetap menjaga dan melindungi desa adat demi kepentingan tradisi, adat dan budaya Bali. Lebih lanjut, ia menjelaskan, jika saat ini dirinya bersama anggota DPD RI dan DPR RI Lainnya serta Pemprov Bali dan DPRD Bali tengah mendorong Undang-Undang (UU) tentang Provinsi Bali melalui penggantian UU No 69/1958 agar segera masuk ke agenda Proglegnas Prioritas serta menunggu disahkannya Perda Bali tentang Desa Adat sebagai sebagai pengganti Perda Desa Pekraman 2003 yang bertujuan untuk memberikan pengakuan dan memperkuat keberadaan Desa Adat dan krama adat di Bali. Hanya dengan cara ini Bali bisa bertahan dan memiliki kesejajaran dihadapan Undang-Undang lainnya
Selain membahas terkait desa adat, Wedakarna juga saat ini tengah mensosialisasikan sejumlah hal yakni terkait dengan gerakan Satyagraha keseluruh komponen Umat Hindu di Bali. Menurutnya, untuk mempertahankan Bali kita membutuhkan kekuatan ekonomi. Tentu, yang bisa menjaga agama Hindu hanyalah orang Bali yang krama adat, Jadi penting sekali umat Hindu berdaulat ekonomi. Didalam Sastra Weda sudah diajarkan bagaimana umat Hindu harus menyeimbangkan Dharma, Artha, Kama. Untuk menebar kebaikan, membantu orang lain termasuk membuka usaha lapangan kerja (perbuatan Dharma), diperlukan harta dan kekuasaan (Artha) dan untuk mewujudkan Dharma dan Artha secara seimbang maka diperlukan ambisi dan nafsu positif (Kama).” Kata Wedakarna. Ia juga menjelaskan,jika gerakan Satyagraha sangat tepat dan merupakan bagian dari gerakan strategis yang erat kaitannya dengan gerakan ahimsa yang bertujuan untuk mempertahankan agama Hindu dan budaya Bali. Salah satunya menunjukkan sikap militansinya sebagai umat Hindu dengan memulai berbelanja di tempat usaha milik orang Hindu yang bertujuan memberdayakan ekonomi Hindu. Berbelanja di tempat usaha orang Hindu akan mengangkat ekonomi Bali karena Bali hampir 90% umatnya mayoritas Hindu. Begitu juga, setiap uang yang kita belanjakan akan menjadi yadnya dan bebantenan. Politisi muda ini juga meminta kepada krama adat yang ada di Desa Bangli, Perean agar mulai menyederhanakan upacara dan memperkuat aset. Menurutnya, “ jika menyelenggarakan yadnya dengan cara penyederhanaan jauh lebih baik daripada satu upacara dilaksanakan dengan kemewahan namun di akhir upacara meninggalkan hutang. mengingat Ida Sang Hyang Widhi tidak pernah menuntut umatnya mewah, akan tetapi lebih mendahulukan sebuah ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankan ajaran dharma. Bayangkan saja, ketika kemewahan dalam upacara dilakukan dengan anggaran yang cukup fantastis tentunya memberatkan dan meyulitkan krama atau umat sedharma kita yang lain. Daripada kegiatan itu dibangun dengan hal yang terlalu mewah lebih baik dipergunakan untuk tabungan abadi disetiap desa yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk mendongkrak sektor pembangunan perekonomian krama adat kita khusunya anak-anak muda kita di Bali. “ Tegasnya

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *