Categories BudayaHindu

PENYEDERHANAAN UPACARA HINDU MUTLAK AGAR UMAT HINDU MEMILIKI “FINANCIAL PLATFORM” YANG KUAT

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Tokoh Umat Hindu di Kabupaten Jembrana

SENATOR RI KUNJUNGI BRAMBANG NEGARA DAN PENYARINGAN

Ada yang berbeda saat tokoh sekaliber Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III hadir ditengah masyarakat didesa. Jika politisi lainnya datang mesimakrama hanya fokus pada agenda pragmatis, tapi lain halnya dengan Arya Wedakarna ( AWK ) yang sejak dulu turun kedesa untuk memberikan pendidikan dan wawasan politik, ekonomi dan kebudayaan ( Tri Sakti Bung Karno ) pada masyarakat pedesaan. Hal ini terekam saat kunjungan kerja dalam masa reses DPD RI ke wilayah Brambang Negara dan Penyaringan Mendoyo di Kabupaten Jembrana. Kehadiran putra asli Jembrana disambut antusias oleh umat Hindu yang menanti kehadiran Senator Termuda dalam sejarah Bali ini. Dan kali ini, AWK menyoroti tentang pelaksanaan upacara adat di Bali dari perspektif yang berbeda. “Suka tidak suka, diakui atau tidak, salah satu penyebab dari menurunnya kualitas keluarga orang Bali baik dalam hal gizi, pendidikan dan juga kesejahteraan adalah karena sistem adat di Bali cenderung memberatkan umat Hindu. Maraknya upacara adat Hindu di Bali dan ditambah dengan kebijakan adat yang cenderung tajam pada krama Bali tapi tumpul pada krama tamiu dan tamiu, akhirnya menyebabkan umat Hindu tidak maksimal berdaya saing. Kita bicara tentang kaum marhaen ya, kaum tani, kaum buruh dan kaum tidak berpunya, yang mana penghasilan mereka rata – rata dibawah Rp 90.000 per-hari alias setara UMR Bali yang hanya sekitar Rp 2 jutaan.Coba anda bayangkan bagaimana mungkin ada seorang anak muda Hindu bekerja dengan gaji UMR yang tidak seberapa, tapi memiliki beban adat dan agama yang luar biasa. Belum peturuinan di banjar adat, desa adat, memelihara Pura Tri Khayangan Desa, belum lagi kewajiban terhadadap dadia dan merajan. Ditambah ada 100 hari raya Hindu pertahun yang harus mereka ikuti. Dan akhirnya kualitas SDM Hindu menjadi terhambat kan ? Anak – anak tidak mendapat gizi yang sepantasnya karena uang makan keluarga terbatas, begitu juga banyak generasi muda tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi akibat pilihan sekolah menjadi nomer sekian dibanding beban adat. Harus diperlukan reformasi besar – besaran di Bali dalam hal adat dan budaya. Prinsipnya tidak menghilangkan ritual dan bebantenan, tapi diefisienkan dan gerakan penyederhanaan ini hanya bisa dimulai dari tokoh desa adat, dari Bendesa dan Klian Adat serta pengempon pura. Sudah seharusnya Bali memiliki penglingsir yang bijaksana. “ungkap Gusti Wedakarna yang merupakan putra Shri Wedastera Suyasa, salah seoranag pendiri Parisada Hindu Dharma pada 1959. Iapun memuji peran umat Hindu di Kabupaten Jembrana yang sedari dulu dikenal sebagai komunitas Hindu yang paling sederhana di Bali, hal ini dibuktikan dengan semakin bersahajanya umat Hindu di Bali Barat ini. “Anak muda jangan pernah lupa sejarah, bahwa Jembrana serta Buleleng adalah pelopor upacara adat sederhana. Ngaben massal , metatah massal, dan juga gerakan kesetaraan sulinggih serta efisiensi dari eedan karya di Bali semua dimulai dari Bali Barat dan Bali Utara. Saya senang mendapatkan laporan bahwa tidak ada lagi upacara adat yang menghabiskan milyaran rupiah disini, dan tolong dipertahankan. Kita beri contoh pada semeton di Bali Selatan dan Bali Timur agar mulat sarira. Lebih baik uang keluarga ditabung untuk pendidikan anak anak dan juga berwirausaha atau semakin banyak membeli tanah tanah baru untuk dijadikan sebagai duwe keluarga. Itu lebih bermanfaat disaat umat Hindu bersaing dengan yang lain dizaman ini.”ungkap Gusti Wedakarna, Iapun berpesan, kedepan agar keluarga umat Hindu di Bali fokus pada tabungan keluarga ( finansial platform ) agar misi catur purusha artha menjadi kenyataan.”Dalam Hindu sudah jelas ada perintah agar orang Hindu menjadi kaya raya dalam Catur Purusha Arta. Kaya itu bisa didapat dengan bekerja keras, menciptakan anak sampai sarjana berpendidikan tinggi agar dapat pekerjaan yang layak dan gaji tinggi, sisanya stop ciptakan anak muda bergaya hedon dan social climbers. Semua hanya bisa didapat dengan Jnana ( Pendidikan ) tidak ada jalan lain,”ungkap Gusti Wedakarna, cucu dari seorang tokoh besar Jembrana, I Goesti Ngoerah Ketoet Soeyasa ini. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *