Categories BudayaHinduSatyagraha

DR. WEDAKARNA MINTA PERBANKAN TIDAK PERSULIT PENGAJUAN “KREDIT USAHA” KEPADA KRAMA ADAT HINDU

MARHAENIS – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MW Suyasa III Bersama Masyarakat Adatr Lelateng dan Mendoyo Dauh Tukad Jembrana

SENATOR RI KRAMA ADAT DI LELATENG DAN MENDOYO DAUH TUKAD

Senator Termuda asal Bali Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III meminta kepada unsur perbankan di Bali, agar membantu dan tidak mempersulit proses Kredit Usaha Rakyat ( KUR ) khususnya yang diajukan oleh para pengusaha Hindu. Hal ini semata – mata untuk pemerataan dan keadilan sosial sebagaimana amanat Pancasila. Hal ini perlu ia tegaskan karena banyak laporan yang masuk terkait dengan adanya perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh oknum tertentu, khususnya mempersulit pengajuan KUR oleh krama adat. Salah satu alasan yang menonjol adalah karena faktor SARA, belum lagi adanya temuan dilapangan terkait masifnya gerakan ekonomi berbau agama tertentu yang kini mulai menyasar desa serta sektor riil di Bali. Namun disatu sisi, Arya Wedakarna ( AWK ) juga mengakui bahwa faktor SDM umat Hindu khususnya dalam hal kemampuan umat Hindu memenuhi persyaratan dan dokumen masih dianggap kurang rapi. Demikian disampaikan AWK yang ditemui usai menyapa warga adat di Lelateng Negara dan Mendoyo Dauh Tukad di Jembrana. “Salah satu cara meningkatkan ekonoi satyagraha orang Bali adalah dengan cara memperbanyak wira usaha muda didesa desa. Menjadi kaya adalah kebutuhan agama Hindu, jika umat ingin eksis maka kuasai ( Artha ) atau kekayaan sebagaimana amanat ajaran Weda. Menjadi kaya raya adalah hal yang baik dan suci, karena jika semakin banyak pengusaha Bali lahir, maka akan semakin besar kesempatan membantu semeton bekerja. Dan diperlukan akses untuk itu, salah satunya adalah kemudahan KUR sebagaimana program pemerintah pusat. Apalagi diera Jokowi ini, suku bunga KUR sangat rendah, disamping juga pajak pengusaha kecil juga sudah tinggal 0,5 % saat ini. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berwirausaha. Bali memerlukan lebih banyak pengusaha, dibanding anak anak muda yang bermental PNS, pegawai dan staf. Tugas saya selaku anggota DPD RI untuk memotivasi masyarakat. “ungkap AWK. Iapun menyampaikan bahwa anak muda di Bali tidak usah khawatir jika ditolak saat pengajuan KUR, dan menjadikan proses pengajuan kredit ke Bank sebagai salah satu wawasan sebagai generasi pengambil resiko ( risk taker generation ). “Tugas saya untuk mengingatkan kalangan perbankan agar mereka adil terhadap krama adat. Jangan sampai profile penerima kredit hanya itu itu saja, karena pegawai di Bank malas mencari nasabah baru. Dan banyak dari yang itu itu saja yang bukan semeton Bali. Saya sudah menerima laporan OJK pada 2018 bahwa jumlah penyaluran kredit di Bali tidak maksimal, bahkan tidak diatas 90 %. Lalu apa gunanya wakil rakyat di Senayan teriak teriak minta uang Triliunan untuk Bali ya. Saya kira perlu digenjot lagi SDM perbankan di Bali agar lebih agresif dalam mencari nasabah. Apalagi kredit kecil sampai Rp 25.000.000 saya dengar tidak memakai jaminan. Saya kira banyak anak muda Bali tertarik, tapi masalahnya ya itu, Bank Bank di Bali malas dalam mensosialisasikan. OJK di Bali perlu kita dorong kembali. Ini Bali ya, barometer ekonomi Indonesia, jadi memang perlu banyak pejabat Bank yang bermental berani di Bali. Nanti saya akan periksa disemua bank di Bali termasuk OJK. Jika kerja tidak becus ya kita bicara ke Dirut dan Komisaris dan Pemerintah Pusat agar mereka dimutasi. Berani ditempatkan di Bali, maka harus berani menempatkan SDM yang pro Pancasila, pro adat dan pro dengan kebutuhan Bali. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga anggota Panitia Perancang UU DPD RI ini. Disatu sisi ia meminta, agar pengusaha di Bali semakin rajin dalam merapikan dokumen dokumen yang merupakan syarat untuk berproses kredit. “Kita tidak bisa terus menyalahkan orang luar ya, kalau masyarakat Bali kurang rajin memperbaiki diri. Kita memang punya kultur agak kurang rapi kalau sudah urusan melengkapi dokumen ini dan itu. Makanya penting sekali punya anak anak yang sekolah di Universitas dan jadi Sarjana, setidaknya itu akan menambah “kredensial” mereka dalam berproses kredit. Dari dulu sudah saya ingatkan, ayo keluarga Hindu di Bali, sekolahkan anak setinggi – tingginya, ini akan sangat membantu wawasan menjadi pengusaha Indonesia yang tanggugh”ungkap Gusti Wedakarna yang juiga Duta Besar WUSME yang berbasis di San Morino Eropa, sebuah lembaga yang konsen ke ekonomi mikro dunia. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *