Categories BudayaHinduSatyagraha

WEDAKARNA DUKUNG SUBAK JEMBRANA BANGUN JOGGING TRACK AGAR TAMBAH PEMASUKAN

SATYAGAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Warga Adat Di Melaya dan Di Negara Saat Sosialisasi Piagam Tantular

SENATOR RI TEMUI WARGA DALEM SAKTI DAN BANYU BIRU JEMBRANA

Senator DPD RI termuda dari Bali Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III mengakhiri kunjungan kerjanya di Kabupaten Jembrana dengan menyapa warga Dalem Sakti di Melaya dan warga Banyu Biru di Negara. Dalam kunjungan yang bertemu dengan kaum tani ini, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) memberikan pandangannya terhadap potensi ekonomi kreatif yang dimiliki oleh Subak di Jembrana khususnya subak yang berada diwilayah strategis untuk meningkatkan pemasukan para petani, dan juga sebagai strategi agar tidak ada pengurangan fungsi lahan yang kian marak.”Khusus untuk di Banyu Biru ini, tiang lihat landscape tanah sawah yang lurus dengan tata letak yang baik. Dilihat dari peta, sepertinya cocok untuk dijadikan sebagai pusat ekonomi kreatif dan juga rekreasi baru di Jembrana. Saya sarankan agar sawah subak di Banyu Biru sebagian dijadikan objek wisata. Bisa tiru sejumlah subak di Bali yang telah sukses mengelola subaknya menjadi pusat ekonomi kreatif. Bangun saja jogging track, dan juga spot untuk kuliner Sukla serta tempat rekreasi baru tanpa harus merubah bentuk sawah. Pasti banyak wisawatan domestik yang hadir setiap sore ditempat ini. Ini salah satu cara agar anggota Subak tidak mudah menjual tanahnya. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun menyatakan bahwa konsepsi petani atau kaum Marhaen harus mulai dirubah mulai saat ini, terutama setelah berkembangnya ilmu pasca teknologi pertanian dan juga era digital dalam hal pemasaran. “Konsepsi kaum tani, kaum marhaen diera Bung Karno adalah roh penyemangat perjuangan kita. Tapi mari kita sesuaikan kebutuhan Bali dan Indonesia kedepan. Sawah kini bukan hanya menjadi tempat menanam padi atau palawija, tapi sawah menjadi tempat ekonomi kreatif, bisa menjadi tempat edukasi dan juga menjadi pusat destinasi wisata. Maka dari itu perlu ada pedoman baru pengelolaan Subak di Bali, terlebih sejak tahun 2012, subak di Bali sudah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO. Jika tidak kreatif, maka tidak akan pernah bisa maju. “ungkap Gusti Wedakarna. Terkait dengan masih dikenakannya pajak tanah sawah, menurut anggota DPD RI termuda ini sepatutnya jika mampu, pemimpina didaerah bisa menggratiskan pajak tanah persawahan, sehingga petani tidak merasa dirugikan. “Secara UU itu dimungkinkan jika pemerintah diBali membebaskan tanah sawah, tentu ada kategori kategorinya. Dan itu yang kita harapkan agar Bali semakin berdaulat. Nanti tiang periksa dulu regulasinya, dan prinsipnya, kita bisa membuat aturan yang pro kaum tani, apalagi ditengah sulitnya kondisi petani saat ini terutama terkait harga hasil pertanian,dan juga faktor cuaca yang bisa menggagalkan panen petani di Bali. “ungkap AWK. Selain itu, iapun menyoroti agar kedepan Bali memiliki konsep pertanian yang diperbaharui termasuk memasukkan potensi petani muda dan juga pertahanan tanah. ‘Saya mita kepada warga Bali khususnya krama Subak, agar agama Hindu dan budaya Bali bertahan, mohon jaga tanah tanah sawah kita. Jangan sampai ada penjualan tanah tanah sawah atau duwe milik adat. Sekali tanah di Bali dibeli oleh oknum anti Pancasilais, maka gerakan Bali dalam Genggaman akan menjadi kenyataan. Maka dari itu, tiang minta sederhanakan upacara adat dan pakai dana peturunan sebagian untuk membeli duwe pura. Itu akan lebih bermanfaat demi generasi mendatang. Belajar dari kesalahan Kerajaan Majapahit, bahwa Majapahit bisa hancur karena tanah – tanah di Jawa saat itu sudah dikuasai oleh kaum tertentu. Dan dalam ajaran Bung Karno, kedaulatan tanah adalah mutlak. “ungkap Gusti Wedakarna yang merupakan cucu dari tokoh besar warih Raja Badung I asal Jembrana yakni I Goesti Ngoerah Ketoet Soeyasa. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *