Categories BudayaHinduNasional

WEDAKARNA APRESIASI GUBERNUR BERI LAHAN 3 HEKTAR UNTUK PURA DI BANDAR LAMPUNG

DHARMA DUTTA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Gubernur Lampung, Ketua Umum PHDI Pusat, Ketua PHDI Lampung dan Tokoh Masyarakat Adat Lampung.

SENATOR HADIRI DHARMA SHANTI NYEPI PHDI DI PROV LAMPUNG

Senator DPD RI utusan Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III didaulat sebagai narasumber dalam Dharma Wacara serangkaian Dharma Shanti Nyepi yang digelar PHDI Provinsi Lampung.Acara ini diadakan di Kantor Pemprov Lampung, yang dihadiri oleh M. Ridho Ficardo, M.Si ( Gubernur Lampung ), Mayjen TNI ( Purn ) Wiswa Bawa Tenaya ( Ketua Umum PHDI Pusat ), Ir. I Ketuk Pasek ( Ketua PHDI Prov. Lampung ) dan ratusan umat Hindu berasal dari seluruh Lampung. Dalam acara tersebut, disampaikan juga banyak hasil hasil pencapaian yang telah dilakukan oleh lembaga umat, termasuk bantuan Gubernur Lampung atas lahan seluas 3 hektar di Kota Baru Bandar Lampung yang diserahkan kepada umat Hidu untuk pembangunan Pura dan the center of excellent Hindu di Lampung. Terhadap hal ini, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) juga menyampaikan terimakasihnya kepada Gubernur Lampung. “Terimakasih kepada kakanda Gubenur yang banyak membantu umat Hindu. Semoga Tuhan memberikati Gubernur dan kedepan kita berharap juga agar dibantu pembangunan fisik pura selain memang umat akan bergotong royong. Simbol Hindu Dharma harus berdiri tegak ditanah Sumatera sebagai wujud Lampung menjadi Indonesia Mini. “ungkap Gusti Wedakarna. Dalam dharma wacara yang berlangsung hampir selama 2 jam itu, Senator AWK lebih banyak mengupas tentang Gerakan Satyagraha Hindu yang mendukung Revitalisasi Pancasila.”Umat Hindu di Lampung ini sebagian besar adalah suku bangsa Bali dan suku bangsa Jawa. Tapi saudara semua bukan orang Bali dan Jawa lagi, tapi sudah sah menjadi warga Lampung tapi keturunan Bali dan Jawa. Sehingga dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, mohon hormati kebudayaan lokal serta bantu jaga perdamaian dan kondusivitas Lampung.Umat Hindu harus menjadi teladan kebangsaan. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun mengingatkan bahwa kedepan bahwa sejarah masa lalu di Lampung terkait dengan sejumlah tragedi kemanusiaan termasuk kerusuhan berbau SARA, harus terus diingat sebagai pesan Bung Karno. “Jas Merah itu penting, umat Hindu boleh memaafkan mereka yang telah membakar pura kita, yang telah membunuh orang orang Bali saat itu, tapi kita harus percaya dengan mekanisme hukum yang ada selain tentu hukum Tuhan yakni Karma Phala. Kita maafkan sejarah, tapi tidak boleh melupakan. Saran saya, adakan peringatan setiap tahun dengan bersembahyang bersama di Pura pada tanggal saat kejadian berlangsung, mendoakan roh leluhur dan juga mengingatkan kepada generasi muda Indonesia bahwa ada sejarah yang tidak bisa dilupakan. Semua dalam konteks pendewasaan terhadap manajemen konflik kedepan dan peran tokoh masyarakat sangat penting. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun meminta agar umat Hindu di Lampung, meniru umat Hindu disejumlah wilayah transmigran di Indonesia yang dikenal “katos”, dalam artian positif yakni memiliki sikap kesatria yang berani, debatable dan juga argumentatif. “Bukan saja Lampung ya, seluruh umat Hindu di Indonesia harus memiliki sikap berani mabelapati terhadap Sradha dan Bakti. Energi umat Hindu sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia, karena dimanapun ada umat Hindu, pasti akan ada cinta kasih, ada situasi adem dan juga umat Hindu pendukung Pancasila. Jadi umat Hindu ini harus membantu wilayah wilayah di Indonesia untuk mempertahankan republik ini dari rongrongan kaum radikal. Caranya mudah saja, laksanakan saja Tri Sakti Bung Karno, Berdaulat Politik alias kuasai panggung politik, Berdikari Ekonomi alias kuasai ekonomi dan jadikakn umat Hindu orang kaya, dan Berkepribadian Budaya alias kuatkan ritual, kesenian dan juga pandangan bijak leluhur. Ini akan menjadikan Pancasila besar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh leluhur Majapahit yang memindahkan taksu Majapahit ke Bumi Bali pasca Sandyakalaning. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga putra dari Shri Wedastera Suyasa, salah satu tokoh pendiri PHDI pada tahun 1959 di zaman Bung Karno ini ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *