Categories BudayaHindu

BERPOTENSI HUKUM, ARYA WEDAKARNA MINTA TRADISI MANAK SALAH DIHAPUS DARI “GUMI BALI“

MARHAENIS – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Saat Hadir Di Desa Padang Bulia Sukasada Buleleng.

WEDAKARNA BERI CIHNA NAMA “RAMA SINTA” BAYI KEMBAR BUNCING

Menindaklanjuti aspirasi masyarakat Bali sesuai dengan amanat UU MD3/2018, Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III menyambangi keluarga Gede Sadia, warga Buleleng di Desa Padang Bulia, Sukasada Buleleng terkait dengan kasus Manak Salah. Keluarga Gede Sadia diungsikan dekat kuburan ( setra ) akibat memiliki anak kembar laki dan perempuan ( Kembar Buncing). Demi mendapatkan klarifikasi yang jelas, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) langsung menggelar pertemuan di Kantor Desa dengan menghadirkan Perbekel, Majelis Madya Desa Adat ( MMDP ) Buleleng, Bendesa Adat, BPD dan sejumlah prajuru. Usai pertemuan, Senator AWK pun langsung menyambangi rumah semi permanen yang terletak didekat kuburan yang telah didirikan oleh atas biaya desa adat setempat. “Begini ya, kita mengacu pada UU positif, tradisi Indonesia apapun itu bisa dan harus dilestarikan tapi harus mengacu pada hak yang paling asasi dari manusia Indonesia, yakni hak untuk sehat, hak untuk hidup dan hak untuk mendapatkan perlindungan. Apa yang saya saksikan ini sudah tidak sesuai engan zaman, walaupun kata bendesa, ini ada permintaan sendiri dari orang tua yang bersangkutan. Logikanya, siapa sih warga desa yang berani melawan keputusan adat dan mau diusir dari desa karena menentang aturan ? Apalagi dari jejak rekam sudah ada kasus serupa diwilayah ini. Jujur, ini sangat berlawanan dengan semangat Pancasila menciptakan generasi Indonesia yang sehat. Lagipula sudah ada keputusan PHDI terkait dengan manak salah ini dan sudah lama dihapus. Dan harusnya malu ya karena mayoritas desa – desa adat di Bali sudah menghapus aturan ini. Lagian jangan sedikit sedikit dihubung – hubungkan dengan niskala, dengan dresta kuno, Raja Purana atau hal – hal gaib. Ini NKRI, warga negara berhak untuk mendapat perlindungan. “ungkap Gusti Wedakarna. Iapun merasa bahwa jika ini dibiarkan, maka pihak pengambil keputusan bisa dianggap melanggar hukum Indonesia. “Ingat, di Indonesia ada UU Perlindungan Anak, UU Hak Asasi Manusia, UU Anti Diskriminasi, dan jika si anak misalkan sakit dan mati karena kondisi lingkungan yang tidak layak, maka yang membuat aturan termasuk yang mendukungnya, bisa dijerat dengan UU Pidana dengan pasal kelalaian menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Ini tidak sesuai dengan ajaran Tri Sakti Bung Karno. Sangat memprihatinkan. “ungkap AWK. Iapun prihatin, karena bayi merah yang baru dilahirkan harus tinggal dibangunan semi permanen dengan kondisi terbatas. “Saat saya saya hadir , disini banyak nyamuk, lampu konslet, panas, gerah dan tidak sehat. Kamar mandi MCK jadi satu dengan kamar tidur. Walau kata bendesa sudah ada tenaga kesehatan tiap hari memeriksa, tapi apa menjamin kesehatan bayi yang rentan ? Apalagi semalam ada hujan angin. “ungkap Gusti Wedakarna. Lalu apa yang solusi yang ia berikan pada Desa ? “Begini saja, jika pihak desa adat tetap ngotot dengan keputusan ini, tentu desa adat akan terikat pada hukum positf dan silahkan tradisi tidak dihilangkan sepenuhnya, tapi dilaksanakan sesuai simbolis saja. Misalkan kedepan jika ada hal ini terjadi, cukup tradisi pecaran, dibangun gubuk dan cukup keluarga dan bayi simbolis hanya menempati selama beberapa jam saja. Setelah itu ya dipralina. Jangan seperti saat ini si bayi sampai diminta tinggal hingga 3 bulan ( tiga tilem ) dilokasi dekat kuburan. Setelah saya tanya mana bukti hukum, bukti lontar dan juga dasarnya malah tidak bisa menunjukkan kepada pihak DPD RI. Kami sebagai pengawas UU dan pembuat UU jadi bingung juga ya,karena tradisi hanya berdasarkan gugon tuwon.”ungkap Gusti Wedakarna yang diakhir kunjungan memberikan panugrahan berupa “cihna” nama kepada dua bayi kembar ini yakni “Kadek Rama Sadiaputra” dan “Ni Kadek Shinta Sadiaputri “ yang ternyata si anak merupakan warga Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori ( PANDBTK ) yang dimana Ratu Gusti Wedakarna adalah penglingsirnya. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *