Categories BudayaHindu

INGATKAN BALI, BAHWA SEJARAH MAJAPAHIT HINDU HANCUR KARENA FAKTOR KEMISKINAN EKONOMI

SATYAGRAHA – Senator DPD RI, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III saat berada di Sukasada Buleleng

WEDAKARNA PANEN DUKUNGAN DI SUKASADA BULELENG

Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III benar – benar menjadi figur yang cinta dengan sejarah bangsa. Hampir disetiap pidato dalam berbagai panggung, Senator Arya Wedakarna ( AWK ) selalu menyelipkan sejarah Nusantara , baik sejarah Hindu ( Siwa Buddha ) atau sejarah nasional Indonesia. Maka tak heran, baik saat Pemilu atau tidak, permintaan warga akan kehadiran AWK semakin membludak hanya karena ingin mendengar dharma wacana tokoh muda ini. Inilah yang terekam saat AWK hadir disejumlah titik di Kecamatan Sukasada Buleleng yang dimana AWK menyampaikan wawasan kepada generasi muda Hindu khususnya di Buleleng dengan tujuan agar anak muda Buleleng selalu waspada akan gerakan penghancuran kebudayaan Bali. “Kenapa Bung Karno yang putra Buleleng selalu mengatakan Jas Merah ? Jangan Sesekali Meninggalkan Sejarah ? Karena Bung Karno tahu, bahwa warga bangsa Indonesia ini punya sifat pelupa, punya sifat cepat memaafkan sejarah, atau malah beliau khawatir bangsanya A-Historis. Analisis ini terbukti saat Bung Karno tiada, terutama saat zaman Orde Baru, dimana ada upaya anak bangsa untuk mengganti sejarah kepahlawanan kaum Marhaen.Saya ingatkan sejarah itu bisa dibolak balikkan oleh penguasa, sejarah itu bisa direkayasa termasuk sejarah Hindu di Nusantara yang kini dicoba untuk dihabisi terutama oleh kaum radikalis berkedok birokrat dan intelektual. Ini yang harus dilawan oleh umat Hindu karena tujuan kaum radikal ini tidak sesuai dengan nilai Pancasila.”ungkap AWK. Ia mencontohkan bahwa sejarah Kerajaan Majapahit yang disembunyikan oleh Orde Baru saat itu adalah Babad Darmo Gandul yang berisi tentang keberadaan Sabdo Palon Nayogenggong yang membongkar siasat licik dari para pengkhianat Siwa Buddha saat Sandyakalaning Majapahit. “Anak muda Hindu harus belajar Babad Darmo Gandul yang berisi tentang percakapan Raden Brawijaya V dengan Sabdo Palon dan Nayogenggong di Blambangan yang mana Sabdo Palon menceritakan tentang penghancuran tersistematis Kerajaan Hindu Majapahit yang dilakukan oleh putra kandung Brawijaya termasuk peran dari seorang penyebar agama baru saat itu dengan beragam strategi . Hingga muncul istilah “Sabdo Palon Nagih Janji” yang berisikan ramalan kebangkitan Siwa Budha setelah 500 tahun tertidur. Dan jelas umat Hindu harus percaya dengan babad ini, karena dalam ajaran Hindu kebenaran Mutlak Weda harus didukung oleh itihasa, termasuk itihasa yang diadopsi oleh budaya lokal. Ini semua karena umat Hindu percaya dengan sistem reinkarnasi dan keleluhuran. “ungkap Gusti Wedakarna. Dan iapun meminta agar anak anak muda di Buleleng semakin memantapkan dirinya menjadi pelaku ekonomi agar Bali bertahan dari segi kebudayaan dan agamanya. “Majapahit itu hancur, bangkrut, musnah karena wong Mojopahit , umat Hindunya miskin, melarat dan tidak ada Artha. Sedangkan para Pendeta di Griya dan Raja bangsawannya saat itu hidup mewah dan menerapkan tradisi gugon tuwon. Persis seperti keadaan Bali saat ini yang marak dengan upacara yang mewah, feodalisme merajalela disegala tingkatan budaya dan yang pasti budaya status quo oleh kelompok monopoli baik di sisten adat, maupun dirantai birokrasi. Ini yang menyebabkan Majapahit mudah runtuh. Dan kini tugas kita untuk merebut apa yang sudah hilang, memperbaiki kesalahan leluhur dan menata kembali kehidupan umat Hindu Nusantara sebagai bagian dari bangsa besar. Cara yang paling ampuh adalah dengan membuat orang Bali saat ini sebagai komunitas kaya raya dan menguasai Artha. Karena dengan kekayaan materi, kita bisa melestarikan adat istiadat seni budaya, kita bisa menyekolahkan anak setinggi tinggi, kita bisa membantu semeton Bali dengan membuka lapangan pekerjaan dan kita mampu menunjukan kedaulatan ekonomi dihadapan bangsa sendiri. Namun Artha hanya bisa didapat oleh orang orang pintar yang sekolah tinggi dan juga kaum pekerja keras. Ngiring, kembalikan kejayaan Buleleng sebagai sebuah Hulunya Bali, kepalanya Bali, Siwa Duaranya Bali. This is Satyagraha. “pungkas Dr Gusti Wedakarna yang mantan Rektor Universitas Mahendradatta ini. ( humas )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *